Posts Tagged ‘Tebu’
Tebu adalah tanaman sejenis rumuput-rumputan yang di dalam batangnya banyak mangandung gula, berdiameter 2 - 4 cm dan panjang 2 - 4 meter. Secara utuh, tebu terdiri dari daun, pucuk, batang, bongkotan dan akar. Di pabrik gula; daun, pucuk dan akar disebut kotoran tebu, sedangkan bongkotan yang masih tertanam di tanah dimanfaatkan lagi untuk diambil sebagai bahan baku (bibit) tebu keprasan. Batang tebu yang berdiameter 2 - 4 cm dan panjang 2 - 4 meter. Batang tebu adalah tebu yang bebas dari daun atau klaras, pucukan (40 cm ke atas dari titik tumbuh), bongkotan (20 cm ke atas dari akar paling bawah) dan akar. Di dalam batang tebu inilah terkandung paling banyak gula tebu, khsusnya sukrosa (C11H22O11). Batang tebu disebut juga tebu layak giling, dan untuk selanjutnya batang tebu disebut: tebu.
Secara khusus, tebu segar dan tepat masak terdiri dari nira tebu (73 - 83 % tebu) dan sabut tebu (12 - 20 % tebu). Di dalam nira tebu terdiri dari brix atau zat padat terlarut (10 - 15 % tebu) dan air tebu (65 - 75 % tebu). Di dalam brix tebu terdiri dari gula tebu atau sukrosa (9,5 - 14,3 % tebu) dan bukan gula (0,5 - 0,8 % tebu).
Brix
Brix ialah zat padat kering terlarut dalam suatu larutan (gram per 100 gram larutan) yang dihitung sebagai sukrosa. Zat yang terlarut seperti gula (sukrosa, glukosa, fruktosa, dan lain-lain), atau garam-garam klorida atau sulfat dari kalium, natrium, kalsium, dan lain-lain merespon dirinya sebagai brix dan dihitung setara dengan sukrosa.
Perhitungan Brix :
http://www.ziddu.com/download/5017518/brix.pdf.html
Tabel Koreksi Brix :
http://www.ziddu.com/download/5017570/TABELBRIX.pdf.html
B. E. Santoso*) dan T. Martoyo*)
ABSTRAK
Untuk mendapatkan nira sebagai bahan baku untuk stasiun pengolahan, tebu harus diekstraksi terlebih dahulu di stasiun gilingan, selain dihasilkan nira tebu juga dihasilkan ampas tebu. Di pabrik gula ampas tebu sangat penting perannya, karena digunakan sebagai bahan bakar ketel di stasiun pembangkit enerji di mana ketel adalah pembangkit enerji yang merupakan jantung pabrik gula. Untuk menghitung berapa kecukupan ampas tebu yang dibutuhkan sebagai bahan bakar diperlukan data sabut tebu, karena sabut tebu itulah pada dasarnya yang mengandung nilai bakar (4000 kkal per kg sabut tebu). Di samping itu kadar sabut tebu dipakai juga sebagai dasar untuk menyetel gilingan. Untuk menentukan kadar sabut tebu pada umumnya harus menentukan kadar bahan kering dan brix ampas tebu terlebih dahulu, diperlukan waktu minimal 2 - 3 jam untuk mendapatkan data tersebut. Ampas % tebu dihitung dari rumus 100 - imbibisi % tebu - nira mentah % tebu. Sabut tebu dihitung dengan rumus ampas % tebu x (bahan kering % ampas - brix % ampas). Dari hasil penelitian dan performance test di stasiun gilingan beberapa pabrik gula pada masa giling tahun 1997 - 2001 telah dikumpulkan data rata-rata harian sebanyak 69 data berpasangan, sabut tebu dan ampas tebu. Ingin diketahui hubungan (regresi) yang paling baik antara kedua kelompok data ini untuk memprediksi kadar sabut tebu dengan mudah jika telah diketahui kadar ampas tebu sesuai neraca bahan (tebu + air imbibisi = nira mentah + ampas tebu). Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan antara sabut tebu dengan ampas tebu berbentuk linier sederhana. Unsur kuadratik tidak dapat dimasukkan ke dalam persamaan regresi, karena selain Y tidak mempunyai hubungan secara parsial dengan X2 juga menyebabkan F-hitung menjadi lebih kecil dari linier dan tidak meningkatkan nilai R2 dan Sy secara signifikan. Unsur kubik dapat dimasukkan ke dalam persamaan regresi, namun demikian masih menyebabkan F-hitung menjadi lebih kecil dari linier dan tidak meningkatkan nilai R2 dan Sy secara signifikan. Sedangkan unsur linier memberikan nilai F-hitung tertinggi, koefisien determinasi R2 dan simpangan baku Sy tidak berbeda dengan kuadratik dan kubik. Oleh karena itu persamaan regresi linier adalah regresi yang paling baik untuk memprediksi sabut tebu berdasarkan ampas tebu, yaitu dengan persamaan Y = 0,4728 X - 1,00; F-hitung = 1028,7; koefisien determinasi R2 = 0,94 dan simpangan regresi (Sy) = 0,50. Persamaan regresi ini bermanfaat bagi praktisi pabrik gula untuk memprediksi kadar sabut tebu yaitu untuk memperkirakan ketersediaan ampas tebu dalam menunjang kebutuhan bahan bakar ketel, juga sebagai dasar penyetelan gilingan dan pengawasan gilingan lainnya.
Kata kunci: stasiun gilingan, ampas tebu, sabut tebu, regresi prediksi.
ABSTRAK
Proses pemurnian nira di pabrik gula dalam pembuatan gula dari tebu harus dilakukan, sebagai upaya untuk membuang bukan gula dalam nira mentah sehingga kemurnian (HK pol) nira jernih yang dihasilkan lebih tinggi daripada nira mentahnya, kadar gula reduksi tidak meningkat; kadar CaO total, kekeruhan dan warna nira jernih rendah. Penelitian untuk mengetahui pengaruh pH defekasi dan kewayuan tebu terhadap kualitas nira jernih hasil proses pemurnian nira telah dilakukan. Nira mentah dipanaskan 75 oC, ditambahkan susu kapur 15 Be dengan pH defekasi divariasi 3 taraf (8,5; 9,5 dan 10,5), kemudian ditambahkan gas belerang (sulfit) sampai pH 7,2, dipanaskan 100 oC, ditambahkan flokulan (bahan pengendap) dengan dosis 2 ppm. Tebu yang pada saat ini kualitasnya jelek (ditengarai HK pol nira perahan pertama < 75 %) didekati dengan taraf kewayuan tebu. Kewayuan tebu di variasi dalam 5 taraf (tebu digiling pada 0, 1, 4, 7 dan 11 hari setelah tebu ditebang). Parameter yang diamati adalah kualitas nira jernih yang meliputi HK pol, gula reduksi, kadar CaO total, kekeruhan dan warna nira jernih. Hasil percobaan menunjukkan bahwa HK pol nira jernih dipengaruhi oleh taraf kewayuan tebu dan pH defekasi. Pada taraf kewayuan tebu yang semakin tinggi, HK pol nira jernih semakin rendah; pada pH defekasi 10,5 HK pol nira jernih tertinggi. Kadar gula reduksi nira jernih dipengaruhi oleh taraf kewayuan tebu saja, semakin tinggi taraf kewayuan tebu semakin tinggi kadar gula reduksi. Kadar CaO total dan warna nira jernih dipengaruhi oleh interaksi antara kewayuan tebu dengan pH defekasi. Kadar CaO total dan warna tertinggi pada taraf kewayuan 11 hari dengan pH defekasi 10,5; terendah pada tinggkat kewayuan 0 hari dengan pH defekasi 9,5 - 10,5. Kekeruhan nira jernih dipengaruhi oleh taraf kewayuan tebu dan pH defekasi. Pada taraf kewayuan yang semakin tinggi, kekeruhan nira jernih semakin rendah, demikian pula untuk pH defekasi yang semakin tinggi kekeruhan nira jernih semakin rendah. Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil nira jernih yang optimal, pH defekasi pada proses pemurnian nira perlu fleksibel mungkin untuk mengantisipasi kualitas tebu yang diolah.
Kata kunci: pH defekasi, kewayuan tebu, proses pemurnian nira, kualitas nira jernih.
Oleh :
Ir. Sunantyo, MT, APU.
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI)
Jalan Pahlawan No. 25 Pasuruan
Pendahuluan
Kualitas tebu atau bahan baku pabrik gula tetap menjadi perhatian para pelaku industri gula baik dari kalangan praktisi ataupun penelitian dan masih menarik untuk ditinjau ulang. Pada tahun 1920 Winter membahas masalah tiap bagian bukan gula yang terkandung dalam tebu giling masuk ke pabrik gula untuk diolah dan keluar membawa 0.4 bagian gula. Tahun 1933 Demand mengemukakan hasil penelitiannya tentang hasil hablur yang lebih tinggi 12 % bila menggiling tebu bebas sogolan. (21) Sedangkan pada tahun 1990 an keatas banyak makalah yang membahas masalah kualitas bahan baku tebu dengan segala dampaknya, yaitu sejak tebu di lokasi tebangan sampai masalah viskositas masakan akhir D meningkat karena kualitas bahan baku (tebu) yang belum BSM(15). BSM yaitu istilah yang popular dikalangan pelaku industri gula yang merupakan singkatan dari : bersih, segar dan manis.
Yang dimaksud dengan tebu bersih adalah tebu dalam keadaan bersih dari kotoran yang berupa akar, tanah, daduk, pucuk tebu dan sogolan. Tebu segar adalah tebu pada saat tebang dalam kondisi sehat dan segar tidak terserang hama/penyakit, tidak kering, tidak terbakar dan setelah ditebang langsung digiling. Sedangkan tebu manis adalah tebu dalam kondisi masak optimal, tidak layu atau kekeringan(13).
Menggiling Tebu Bersih
Para peneliti terdahulu mempunyai perhatian yang sama mengenai kualitas bahan baku yang diolah pabrik gula. Apabila gula yang terdapat dalam batang tebu sedikit, maka sedikit pula gula yang dikeluarkan atau yang dapat diambil dari batang tebu tersebut. Kotoran tebu tidak mengandung gula, tetapi apabila kotoran tebu tersebut tergiling bersama dengan tebu, maka kotoran akan keluar bersama dengan ampas dan dapat mengandung gula. Suatu keuntungan menggiling tebu bersih adalah kehilangan gula yang terbawa oleh ampas rendah (gambar 1). Demikian pula menurut Mayoral, J.E. et.al(1965) kehilangan gula dalam ampas dengan menggiling tebu 100.000 ton yang kandungan kotoran tebunya 3 %, kehilangan gula dalam ampas sebanyak 53.6 ton dan yang kandungan kotoran tebunya mencapai 17 % tebu kehilangan gula dalam ampas meningkat menjadi 303.1 ton gula(8). Read the rest of this entry »
