Posts Tagged ‘tebu’

SUMBER PEMBENTUK WARNA KRISTAL GULA : Faktor dari Tebu

Warna gula produk berasal dari warna bahan baku (tebu giling) dan dekomposisi kimia selama proses pembuatan gula berlangsung. Zat warna yang berasal dari tebu giling berupa turunan dari pigmen alami tanaman tebu antara lain chlorophyl, xanthophyl dan carotene. Turunan pigmen tersebut tidak larut dalam air. Sedangkan yang larut dalam air biasanya berasal dari senyawa polyphenol sebagai pembangkit warna sehingga warna nira berubah menjadi gelap. Zat warna yang terpenting pada tebu adalah senyawa fenolik dan flavonoid (Chen, 2002; Smith and Paton, 1985; Paton et al, 1985). Menurut beberapa penelitian yang dilakukan identifikasi warna dari gula terdiri dari asam humat, karamel, 5-HMF, melanoidin (Chen, 1971) dan asam-asam fenolat (Martoyo, 1986).

Tabel 1. Klasifikasi Zat Pembentuk Warna

  Bersumber dari Tebu Pembentukan Warna Selama Proses
Zat Warna Flavonoids

(polyphenols), anthocyanin, flavones, Melanins

Phenolics

(Benzoic, cyamic,, chlorogenic, gallic & cafeic acid)

Chlorphylis

Xanthrophylis

Carotene

Melanoidins HADPs Caramels
Hasil reaksi Oksidasi enzym Oksidasi/reaksi dengan besi menghasilkan warna Pigmen hijau, dihilangkan pada proses klarifikasi Produk reaksi Maillard Degradasi Hexos Alkaline Degradasi Sukrosa dan Gula Reduksi pada temperatur tinggi

Pigmen Tebu

Pigmen tebu sebagian besar terdiri dari clorophyl, xythophyle, sacharatin, tannins dan flavonoids. Pada pembuatan raw sugar, pigmen berpengaruh sebanyak dua pertiga dalam pembentukan warna (Smith and Paton, 1985). Pada penambahan kapur pigmen yang berwarna ungu/merah berubah menjadi hijau gelap (Mathur, 1984). Pigmen ini tidak stabil pada kondisi basa dan mudah terdekomposisi oleh panas. Pada umumnya pigmen akan dihilangkan pada proses klarifikasi, tapi sebagian kecil masih ditemukan pada warna gula.

Komponen Phenolic

Komponen phenolic dalam tanaman terbentuk sebagai ester. Komponen ester dalam tebu adalah asam chlorogenic dengan visual tidak berwarna hingga kuning. Komponen phenolic apabila kontak dengan permukaan yang mengandung besi akan meningkatkan intensitas warna karena absorpsi garam besi. Reaksinya membentuk warna gelap, reaksi ini terjadi terutama pada kondisi lingkungan asam.

Phenol mempunyai berat molekul tinggi, mudah larut dengan kadar anion rendah, maka senyawa ini sulit dihilangkan pada berbagai kondisi proses (Clarke et al, 1988). Selain itu dengan berat molekul tinggi senyawa ini akan meningkatkan viskositas bahan, memberikan kesulitan pada proses pencucian di sentrifugal, menurunkan efisiensi proses, meningkatkan konsumsi energi dan mempengaruhi kualitas gula produk  (Clarke et al, 1988). Read the rest of this entry »

Share

Anomali Iklim 2013

RUMUSAN DISKUSI TERBATAS
PUSAT PENELITIAN PERKEBUNAN GULA INDONESIA (P3GI)
SURABAYA, 24 SEPTEMBER 2013

“ANOMALI IKLIM 2013: DAMPAK TERHADAP PENURUNAN PRODUKSI GULA DAN UPAYA ANTISIPASINYA”

Anomali Iklim
Perubahan iklim yang ditandai hujan berkepanjangan terjadi ketika sebagian besar Pabrik Gula (PG) memulai giling pada Juni 2013. Hujan bahkan terus berlanjut hingga pertengahan Agustus, sehingga sangat merugikan petani tebu dan PG. Dalam kedaan normal, memasuki awal giling tebu biasanya hujan sudah reda dan kemarau mulai tiba.
Anomali hujan selama musim giling tebu bukan kali ini saja terjadi. Hal serupa pernah dialami pada 2010. Dampaknya tidak hanya terhadap penurunan produksi gula tahun berjalan, tetapi berlanjut pada tahun berikutnya. Pada 2010 produksi gula sebanyak 2,28 juta ton dan 2011 sekitar 2,26 juta ton. Tebu yang tidak bisa ditebang tepat waktu dan sulit dirawat selama hujan pada tahun berjalan bisa menurunkan hasil gula tahun berikutnya.
Siklus anomali iklim tampaknya makin pendek. Bila sebelumnya musim hujan panjang terjadi 1998 kemudian berulang 2010 atau 12 tahun kemudian, kini pengulangan hanya dalam kurun 3 tahun.
Perubahan iklim di wilayah Indonesia tidak bisa diramalkan secara tepat jauh sebelumnya, karena sirkulasi atmosfer regional yang sangat dinamis dan penuh ketidak pastian. Pada Pebruari 2013, BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) memprediksikan kemarau berjalan normal. Namun akhir Mei prediksi BMKG direvisi dengan perkiraan hujan akan turun hingga Agustus. Minggu lalu BMKG memperkirakan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan lebih maju dibandingkan rata-rata periode 30 tahun terakhir atau kurun 1981-2010.
Informasi diatas membuat petani tebu dan PG sulit melakukan antisipasi dengan baik. Kemarau yang kini mulai berlangsung sebenarnya diharapkan bisa lebih panjang, supaya giling tebu berjalan optimal. Saat ini pun recovery tebu belum mulai tampak. Tebu yang digiling masih terimbas hujan abnormal yang turun sebelumnya. Setidaknya masih perlu beberapa minggu lagi agar rendemen kembali naik dan giling PG berjalan normal.
Dalam rangka memperkirakan kondisi iklim pada sisa musim giling tahun ini, serta antisipasinya agar tidak berdampak besar terhadap penurunan produksi gula tahun depan, pada tanggal 24 September 2013 di Surabaya, Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) mengadakan Diskusi Terbatas dengan topik “Anomali Iklim 2013: Dampaknya terhadap Penurunan Produksi Gula dan Antisipasinya”.
Diskusi dihadiri oleh sekitar 40 orang peserta, yang terdiri dari peneliti dan pemerhati gula, ahli iklim pertanian, pejabat pemerintah, serta para praktisi pergulaan. Read the rest of this entry »

Share

Pertemuan Teknis P3GI 5 Desember 2012

 

 

PERTEMUAN TEKNIS P3GI, 5 DESEMBER 2012

Tema :

“Berbagi Pengalaman dalam Peningkatan Produktivitas dan Efisiensi untuk Kemajuan Industri Gula Nasional”

SIDANG UTAMA DAN SIDANG SEKSI
Materi dalam Sidang Utama
1.Materi dari PTPN X: Peningkatan Kinerja PTPN X pada Musim Giling 2012
2.Materi dari PTPN XI: Peningkatan Rendemen PTPN XI di Tahun 2012
3.Materi dari P3GI: Revitalisasi On Farm Berbasis Penataan Varietas
(Ir. Eka Sugiyarta, MS.)
4.Materi dari PG Kebon Agung:Pengelolaan Limbah Pabrik Gula untuk Menjaga Kelestarian Lingkungan (Ir. Didid Taurisianto)

Materi Sidang Seksi on farm:
– Single Bud Planting
– Peningkatan Produktivitas Tebu
Materi Sidang Seksi off farm:
– Analisa Rendemen Individu (ARI) Sistem Core Sampler dengan Konsep Yo Legine Yo Duduhe
– Efisiensi kinerja PG

MAKALAH DALAM PERTEMUAN TEKNIS :
– Panitia menerima makalah dari para peserta dengan lingkup materi seperti yang tercantum dalam Sidang Seksi.
– Makalah terdiri dari Pendahuluan, Metodologi (kalau ada), Hasil dan Pembahasan (atau Isi), Kesimpulan dan Daftar Pustaka.
– Abstrak diterima Panitia paling lambat tgl 9 Nopember 2012, dan makalah lengkap dikirimkan paling lambat tgl 25 Nopember 2012.

melalui panitia:
Etik M. Achadian Email:etik.achadian@gmail.com
Simping Yuliatun Email:simping7@gmail.com

 

BIAYA PENDAFTARAN
– Peserta yang akan mengikuti Seminar dapat mendaftarkan diri secara online ke riset_gula@yahoo.com atau dengan mengisi formulir dan dikirim lewat Fax ke 0343-421178

– Biaya Seminar dapat ditransfer melalui:
Bank Mandiri Cabang Pasuruan
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
No. Rekening: 144-00-9102436-1
– Konfirmasi pembayaran melalui transfer dapat dilakukan dengan mengirim pesan singkat atau mengirim bukti transfer kepada:
Rimasari Pratiwi
Hp : 085649400900
e-mail : call_me_rhima@yahoo.com

Share

DEGRADASI KUALITAS TEBU SETELAH TEBANG

Tebu sebagai bahan baku utama pabrik gula di Indonesia merupakan tanaman yang efisien. Batang tebu mengkonversi sinar matahari dengan proses fotosintesa sehingga menjadi gula (sukrosa, glukosa, fruktosa, dll) selama pertumbuhan. Reaksi utama pada proses fotosintesa tebu :

Setelah tebu ditebang kandungan sukrosa yang terdapat dalam batang tebu akan mengalami degradasi menjadi monosakarida atau gula reduksi yang disebabkan oleh aktivitas mikroba. Hal ini merupakan kerugian karena di pabrik gula yang akan di kristalkan adalah sukrosa sementara monosakarida dan gula lain akan menjadi tetes (molasses).

Kerusakan tebu (cane deterioration) merupakan faktor yang penting dalam memperoleh gula yang berkualitas. Selain menyebabkan kehilangan gula (sukrosa) yang besar, kerusakan tebu menyebabkan kesulitan dalam proses pengolahan tebu menjadi gula dan menambah biaya produksi. Clarke, et al (1980) memperkirakan bahwa kehilangan gula pada pra-panen sampai menjadi gula produk bervariasi antara 5 – 35 % dari sukrosa dalam tebu, tergantung pada kondisi lingkungan dan teknologi yang digunakan.

Kerusakan pada tebu selama panen dan pasca panen diantaranya disebabkan oleh kondisi natural varietas tebu dan tempat tumbuhnya, kondisi pra panen, yaitu banyak tebu yang dibakar (Saska et al, 2009; Solomon, 2000), penggunaan mekanisasi dengan tebu dipotong-potong (Mochtar, 1995; Uppal, 2003, Larrahondo, dkk, 2009) dan waktu tunda giling atau tebu lasahan (Mochtar dkk, 1995, Solomon 2000). Pada penelitian yang dilakukan di Kolombia oleh Larrahondo, dkk, 2009 menunjukkan adanya perbedaan kualitas antara metode tebang secara manual dengan mekanik. Penebangan secara mekanik meningkatkan zat asing selain gula dan penurunan pol % tebu sebesar 0,4 poin. Selain itu penebangan secara mekanis meningkatkan kadar amilum dan dekstran dalam nira. Read the rest of this entry »

Share
Saran, Kritik, Ngobrol

Categories
Tweet
Sugar Research Fan Page