Posts Tagged ‘Tebu’

T. Martoyo

PENDAHULUAN

Teknologi pemisahan dengan kromatografi masih relatip baru untuk industri gula namun telah berkembang lebih lama untuk pemisahan hidrokarbon (Paananen, 1997; Schoenrock, 1997). Teknik pemisahan ini didasarkan pada perbedaan koefisien distribusi (Kd) komponen terhadap 2 fase yaitu fase diam dam fase gerak (eluen). Komponen dengan Kd tinggi akan lebih tertahan oleh fase diam sehingga terelusi lebih lambat.
Mekanisme pemisahan komponen dalam kromatografi ada berbagai macam antara lain, partisi, difusi, penukaran ion, eksklusi. Kromatografi yang diaplikasikan untuk industri gula menggunakan ion exclussion chromatography (IEC). Pada pemisahan ini (untuk tetes beet) molekul yang besar seperti dextran, protein dan garam atau ion-ion terelusi paling awal, disusul dengan fraksi sukrose kemudian molekul yang lebih kecil (betain). Sebagai fase diam digunakan resin penukar kation khusus dengan crosslink tertentu sehingga bersifat porous, ion yang digunakan adalah Na atau K (Rearick and Kurney, 1995; Rearick et al, 1999; Paananen and Kuisma, 2000) . Sedangkan sebagai fase gerak (eluen) digunakan air.
Teknologi kromatografi di industri gula pertama kali diaplikasikan untuk pemisahan sukrose dalam tetes beet dan saat ini telah mencapai skala komersial (Paananen, 1997; Rearick et al, 1999). Sedangkan untuk tetes tebu masih pada tahap penelitian , karena menghadapi kendala pada pemurnian awal . Tetes tebu memiliki karakter berbeda dengan tetes beet karena komposisinya berbeda, lebih banyak mengandung partikel tersuspensi dengan rentang ukuran yang lebar, kadar gula reduksi yang lebih tinggi, sehingga harus disingkirkan sebelum dimasukkan dalam kolom kromatografi (Kearney and Kochergin, 2001; Fetcher et al, 2001).

TEKNIK PEMISAHAN DENGAN CARA KROMATOGRAFI

Teknik kromatografi adalah teknik pemisahan komponen berdasarkan koefisien distribusi (KD) masing-masing komponen pada 2 fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak. Komponen yang memiliki nilai KD lebih besar akan terelusi lebih lambat. Teknik pemisahan ini pertama kali digunakan dan berkembang di bidang kimia analitik dengan berbagai sistem yang sekarang terkenal dengan sistem GLC (Gas Liquid Chromatography), HPLC (High Performance Liquid Chromatography), Exclusion Chromatography (EC) dan lain sebagainya. Teknik pemisahan ini memungkinkan analisis komponen gas atau larutan sangat efisien, mudah dilakukan dan lebih cepat dibandingkan dengan teknik yang sudah ada sebelumnya. Read the rest of this entry »

Pada saat ini di Indonesia terdapat 61 pabrik gula (PG) dimana pada proses pemerahan nira dari tebu kebanyakan memakai gilingan. Ada metode lain yang dapat digunakan untuk memerah nira dari tebu, yaitu menggunakan ‘DIFFUSER” atau ekstraksi padat cair (EPC). Dari 61 PG hanya ada 2 pabrik gula yang menggunakan diffuser yaitu PG. Kedawung (1984) dan PG. Bungamayang (1994).

Eksperimen penggunaan difusi untuk mengesktrak nira dari tebu dimulai sejak 1886 – 1889 oleh Spencer di Lousiana. Diffuser skala pilot telah dicoba dan dan dievaluasi pada tahun 1950 an di pabrik gula di Hawaii. Pada kongres XII di Puerto Rico ekstraksi nira menggunakan diffuser menjadi topik pembahasan yang hangat.

Keuntungan dari pemakaian alat EPC antara lain dengan mudah dapat mencapai ekstraksi 97 – 98 %, biaya operasi lebih rendah, kebutuhan tenaga lebih rendah dan demikian pula investasi yang diperlukan relatif lebih rendah daripada sistim gilingan. Suhu yang cukup tinggi diperlukan untuk memperbaiki denaturasi dari sel-sel tebu, sanitasi dan viskositas. Pemberian kapur sampai pH yang ditetapkan untuk mengurangi proses inversi dan korosi. Untuk mencegah atau mengurangi terjadinya korosi dan abrasi maka permukaan dari diffuser paling sedikit setinggi lapisan cacahan (2 meter) dan penampung nira dilapisi dengan baja tahan karat.

Untuk mencapai hasil ekstraksi yang tinggi seperti halnya di gilingan, diperlukan pencacahan tebu yang cukup, imbibisi yang cukup, suhu dalam diffuser sekitar 750 C. pH dalam EPC 6 – 6.5 dan waktu ekstraksi 50 – 60 menit. Sirkulasi yang optimal dalam diffuser dapat menghasilkan ekstraksi yang cukup tinggi pada imbibisi dibawah 300 % sabut dan dengan pengaturan aliran nira / deflektor.

PROSES EKSTRAKSI PADAT CAIR (diffuser)

Proses ekstraksi gula dari batang tebu giling sebelum dimasukkan ke gilingan atau alat diffuser terlebih dahulu melalui peralatan preparasi tebu, antara lain : cane cutter, shredder, hammer shredder dll, sehingga dihasilkan cacahan tebu atau preparation index (PI) yang baik.

Pencacahan dilakukan sampai batas tertentu 90 – 92 % untuk selanjutnya hasil cacahan dimasukkan kegilingan atau ke dalam alat diffuser dengan feeder sehingga cacahan tebu dapat terbagi rata selebar diffuser. Dalam pelaksanaannya cacahan tebu tersebut bergerak dari arah depan ke belakang melalui rantai pengangkut dengan kecepatan 0.9 – 1.2 m/min atau 50 – 60 menit, supaya nira dalam diffuser tidak tinggal terlalu lama dan mengurangi inversi karena seringnya sirkulasi. Read the rest of this entry »

Bambang Eddy Santoso dan H. Suwandi
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
Jl. Pahlawan 25 Pasuruan, 67126

ABSTRAK

Nira campuran dan rata-rata bobot adalah dua hal yang berbeda tetapi sama. Berbeda secara fisik, karena nira campuran adalah nira yang merupakan campuran dari nira tebu tiga bagian (atas, tengah dan bawah), rata-rata bobot adalah perhitungan rata-rata secara matematik yang memperhitungkan bobot dari komponen pembentuknya (nira tebu bagian atas, tengah dan bawah). Keduanya mempunyai maksud dan tujuan yang sama karena keduanya merupakan titik pusat kesetimbangan dari nira tebu bagian atas tengah dan bawah sehingga menggambarkan nira tebu lonjoran. Dalam upaya menempatkan analisis nira campuran sebagai bagian dari analisis kemasakan tebu tiga bagian, telah dilakukan suatu penelitian tentang analisis kemasakan tebu untuk membahas permasalahan tersebut. Pada penelitian ini digunakan 10 varietas @ 5 batang selama 5 ronde pengamatan. Parameter yang diamati adalah berat nira masing-masing bagian; brix dan pol dari nira tiga bagian, campuran dan rata-rata bobot. Selanjutnya dihitung HKpol, nilai nira dan rendemen. Uji statistik yang digunakan adalah uji sepasang (faktor varietas dan ronde dianggap sebagai kontributor banyaknya data contoh tebu), analisis variansi dan perbandingan ganda Newman Keuls. Hasilnya menunjukkan bahwa rangking kualitas nira dan rendemen dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah nira bagian atas, campuran, rata-rata bobot, tengah dan bawah. Ada perbedaan yang signifikan antara kualitas nira campuran dengan rata-rata bobot. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh proporsi pencampuran sisa nira A, T dan B menjadi nira campuran tidak sesuai lagi dengan proporsi nira saat tebu diperah. Rata-rata koefisien peningkatan dari analisis nira campuran dan rata-rata bobot tidak begitu berbeda, namun secara individual ada perbedaan yang cukup tinggi. Hal ini perlu diwaspadai, karena dapat menyebabkan kesalahan dalam menginterpretasikan fenomena kemasakan tebu. Untuk menempatkan analisis nira campuran sesuai porsinya yang menggambarkan kualitas nira tebu lonjoran, maka disarankan untuk menggunakan perhitungan rata-rata bobot dari hasil analisis nira A, T dan B. Cara perhitungan ini dapat menghemat waktu analisis, sehingga waktu yang dihemat dapat dipakai untuk menambah jumlah contoh varietas yang diuji. Di lain pihak, agar tidak terjadi kesalah-pahaman dalam menginterpretasikan rendemen hasil analisis kemasakan tebu dengan rendemen hasil analisis nira perahan pertama pabrik gula, disarankan rendemen analisis kemasakan diganti dengan nilai nira saja karena hasil akhir perhitungan (faktor kemasakan dan koefisien peningkatan) keduanya persis sama.

Kata kunci: analisis kemasakan tebu, nira tebu tiga bagian, nira campuran, rata-rata bobot, koefisien peningkatan.

FULLTEXT

http://www.ziddu.com/download/5017083/Analisakemasakantebu.pdf.html

Pada saat ini di Indonesia terdapat kurang lebih 60 Pabrik Gula yang beroperasi, dimana kebanyakan terdapat di Pulau Jawa khususnya Jawa Timur. Semua pabrik gula tersebut berbahan baku dari tanaman tebu. Tebu sangat efisien dalam merubah energi surya menjadi energi kimia. Dibandingkan dengan tanaman sejenis yang lain tebu menghasilkan karbohidrat dan bahan kering jauh lebih tinggi. Walaupun bervariasi tetapi rata-rata dapat menghasilkan 50 ton bahan kering per hektar. Peluangnya untuk menjadi bahan baku industri kimia cukup besar, terutama karena karbohidrat merupakan sumberdaya yang dapat diperbaharui.

Pabrik gula di Indonesia pada tahun 2007 berjumlah 59 pabrik. Produksi tebu tahun 2008 untuk daerah Jawa Timur saja mencapai 17 juta ton. Selain menghasilkan gula, pengolahan tebu juga menghasilkan pucuk tebu, ampas, blotong dan tetes sebagai produk sampingnya. Khusus untuk ampas pada umumnya digunakan sebagai bahan bakar ketel (boiler). Tetapi menurut Paturau pabrik gula yang efisien dapat menghemat uap bekas 34,6 % dan memperoleh kelebihan ampas sebanyak 39 %.

Hasil samping yang diperoleh langsung pada berbagai tahap pengolahan tebu menjadi gula adalah pucuk tebu, ampas, blotong dan tetes. Salah satu cara untuk melakukan diversifikasi produk pabrik gula adalah pengolahan hasil samping tersebut menjadi produk yang lebih tinggi nilainya, baik sebagai bahan jadi maupun bahan baku. Seperti yang ditunjukkan diagram dibawah, gambar 1. Read the rest of this entry »