Posts Tagged ‘SNI GKP wajib’

Pengendalian Warna Gula : Kontrol Kondisi Proses

Zat warna tidak hanya secara natural dibawa oleh tebu, namun dapat timbul selama proses mulai ekstraksi di gilingan hingga kristalisasi. Untuk itu diperlukan pengendalian proses untuk mengontrol warna dan meminimalisir hal-hal yang dapat memicu terbentuknya warna selama proses pengolahan gula. Pada tahap pertama kontrol proses dilakukan di proses ekstraksi dalam tandem gilingan. Meminimalkan pembentukan warna dapat dilakukan dengan pengelolaan sanitasi gilingan yang optimal. Sanitasi dapat dilakukan secara mekanis menggunakan steam secara teratur dan secara kimiawi menggunakan biosida.

Langkah selanjutnya dalam pengendalian proses adalah dalam tahap pemurnian nira. Hampir sebagian besar PG menggunakan proses sulfitasi dengan tahapan pemurnian dilakukan proses pemanasan nira, reaksi dengan susu kapur, gas SO2 dan pengendapan di clarifier. Parameter utama dalam proses pemurnian adalah pH, suhu dan waktu reaksi. pH berperan dalam pembentukan warna, khususnya dengan kadar gula reduksi nira. Dengan semakin tinggi nya kadar gula reduksi maka pH yang terlalu tinggi dapat memicu pembentukan warna gelap akibat reaksi dari gula reduksi. Waktu tinggal yang lama dengan suhu tinggi juga berpotensi untuk terjadinya degradasi warna.

Hal lain yang dapat memicu kenaikan warna nira adalah adanya bagasilo yang terikut dalam nira. Bagasilo dapat menyebabkan kontaminasi biologis dan meningkatkan warna nira jernih. Peningkatan terjadi dengan penambahan kapur dan suhu (Mathur, 1984). Tabel 1 menunjukkan terjadinya penurunan warna di nira jernih di PG MSM Pakistan dengan upaya optimalisasi yang dilakukan di proses pemurnian. Optimasi yang dilakukan antara lain :

  • Melakukan kontrol pH dan suhu nira
  • Menambahkan rotary screen dengan ukuran 0,35 mm di gilingan dan 0,25 mm di pemurnian untuk mengurangi kontaminasi bagasilo
  • Optimalisasi di clarifier untuk mengurangi waktu tinggal nira.

Read the rest of this entry »

Share

RUMUSAN FGD SNI GKP

Tanggal 9 September 2017 diadakan Focus Group Discussion berkaitan dengan evaluasi SNI GKP wajib dengan tema “Penguatan Pabrik Gula Berbasis Tebu Dalam Perlindungan Konsumen Dan Peningkatan Kesejahteraan Petani.” FGD diadakan oleh P3GI bekerjasama dengan LPP bertempat di Yogyakarta. Rumusan FGD sebagai berikut :

  1. Permasalahan yang dihadapi industri gula adalah potensi rendemen dan produktivitas tebu petani yang masih rendah , dibutuhkannya penguatan transparansi dalam penetapan rendemen berbasis Analisa Rendemen Individu (ARI); mutu gula yang dihasilkan oleh PG berbasis tebu masih fluktuatif dan belum semuanya sesuai standar (SNI GKP); industri hilir berbasis tebu (diversifikasi) belum terintegrasi dengan PG; kebijakan terkait GKP dan GKR harus menguatkan pertumbuhan pabrik gula berbasis tebu dan peningkatan kesejahteraan petani, serta mencegah intersection pasar antara PG GKP dan GKR.
  1. Arah kebijakan pengembangan industri gula difokuskan pada peningkatan produksi dengan sasaran PG-PG eksisting , pembangunan PG baru di Pulau Jawa maupun di Luar Pulau Jawa serta PG Rafinasi. Pembangunan PG baru seharusnya terintegrasi dengan perkebunan tebunya. Kebijakan PG Rafinasi yang harus memiliki perkebunan tebu harus diterapkan secara konsisten.
  1. Sebagian besar PG di Indonesia menggunakan bahan baku tebu dengan proses Sulfitasi ganda untuk memproduksi Gula Kristal Putih. Gula produk dari proses ini rentan terhadap degradasi kualitas, khususnya kenaikan warna larutan selama penyimpanan, terlebih bila gudang penyimpannya tidak memenuhi standar. Diperlukan review dalam SNI GKP untuk mengakomodasi permasalahan peningkatan warna larutan ( ICUMSA ) selama penyimpanan dan distribusi di tingkat pasar. Oleh karena itu dalam forum ini diusulkan untuk dilakukan revisi dan penyempurnaan SNI GKP 3140.3 : 2010. Usulan revisi dan penyempurnaan SNI antara lain : sebagai berikut :

Read the rest of this entry »

Share
Saran, Kritik, Ngobrol

Categories
Tweet
Sugar Research Fan Page