Posts Tagged ‘rendemen’

SISTEM CORE SAMPLER dan NEAR INFRARED SPECTROSCOPY (NIRS) UNTUK ANALISA RENDEMEN INDIVIDU

Ringkasan

Kebutuhan akan sistem analisa rendemen individu yang adil dan akurat sudah tidak dapat ditawar lagi. Untuk mencapai kenaikan produksi gula secara nasional, sistem ARI dapat digunakan untuk menarik minat petani tebu dalam menyuplai bahan baku tebu yang berkualitas. Penggunaan teknologi diperlukan untuk mengatasi kendala yang dihadapi dalam metode ARI existing. Alternatif yang dapat dipilih adalah sistem core sampler.  Teknologi ini terdiri dari alat core sampler untuk sampling tebu dari alat angkut dan peralatan NIRS untuk analisa kualitas tebu. Perhitungan rendemen sendiri berdasarkan pada kualitas tebu dan efisiensi pabrik.

Manfaat dan dampak yang diharapkan dari sistem Core Sampler :

  • Dengan menghargai prestasi individu diharapkan pemasok tebu termotivasi dan berlomba-lomba untuk memasok tebu berkualitas baik, sehingga rendemen yang dihasilkan tinggi.
  • Kondisi ini akan memberikan dampak yang positif, terciptanya suasana kondusif untuk meningkatkan kepercayaan dan membangun kemitraan antara petani dan PG dalam upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
  • Penggunaan core sampler tidak mengganggu kapasitas giling, karena analisis rendemen dilakukan di luar jalur suplai tebu di Stasiun Gilingan.
  • Secara implisit sistem ini dapat mengukur pengaruh kotoran, kewayuan dan kemasakan tebu seta tebu keprasan.

Core sampler sendiri telah diaplikasikan di berbagai negara produsen gula seperti Mauritius, Filipina, Brazil dan Amerika Serikat. Selain itu peralatan core sampler telah diakui oleh ICUMSA sebagai alat sampling tebu yang akurat. Selain peralatan core sampler untuk sampling tebu, kecepatan analisa juga diperlukan. Penggunaan NIRS sebagai metode sekunder untuk analisa kualitas tebu dapat dikombinasikan dengan core sampler.

Peralatan NIRS dapat menggunakan sampel nira maupun tebu cacah. Hasil kalibrasi NIRS untuk sampel nira lebih baik dibanding tebu cacah, hal ini disebabkan sampel nira lebih homogeny (liquid). Namun dengan pertimbangan biaya operasional dari segi SDM lebih murah penggunaan NIRS untuk sampel tebu cacah dapat dipertimbangkan. Integrasi antara sampling menggunakan core sampler, analisa NIRS dan sistem informasi membuat analisa rendemen dapat berjalan secara otomatis. Dalam pelaksanannya akan mengurangi kesalahan manusia (human error).

Share

ANALISA RENDEMEN INDIVIDU MENGGUNAKAN NEAR INFRARED SPECTROSCOPY (NIRS)

Pemerintah telah mencanangkan program swasembada gula pada tahun 2014 untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pada kenyataannya program tersebut belum bisa tercapai, dimana saat ini Indonesia masih menjadi importer gula. Usaha untuk meningkatkan produksi gula adalah dengan meningkatkan rendemen rata-rata nasional. Pengukuran rendemen yang adil dan akurat dapat meningkatkan kepercayaan petani kepada pabrik gula, selanjutnya dapat meningkatkan gairah petani tebu dalam mengirimkan tebu berkualitas yang berdampak pada naiknya nilai rendemen. Penggunaan Near Infrared Spectroscopy (NIRS) untuk analisa rendemen dapat mempercepat waktu analisa menjadi 1 menit per contoh. Selain itu NIRS dapat digunakan secara otomatis dan contoh nira tanpa diberi perlakuan, sehingga mengurangi kesalahan yang disebabkan oleh manusia. Penelitian dilakukan di salah satu pabrik gula di Jawa Timur. Bahan yang digunakan adalah nira perahan pertama (NPP). Alat yang digunakan adalah NIR FOSS RLA yang dilengkapi dengan software VISION. Contoh NPP dianalisa kadar brix dan pol secara berpasangan menggunakan metode konvensional dan NIR. Data analisa brix dan pol metode konvensional diinputkan kedalam software yang kemudian diolah lebih lanjut dengan perlakukan statistik menggunakan metode partial least square (PLS). Hasil percobaan dengan 974 contoh NPP menghasilkan koefisien determinasi (R2) untuk %brix dan %pol berturut-turut 0,9454 dan 0,9569 dengan SEC, SECV dan SEP masing-masing ? 2SEL. Model regresi diaplikasikan untuk 80 contoh NPP, dihasilkan nilai rerata %brix dan %pol untuk metode NIR (17,77% dan 14,07%) tidak berbeda dengan metode konvensional (17,70 dan 14,08 %). Apabila diaplikasikan untuk menghitung rendemen individu, nilai rerata rendemen metode NIR (8,56 %) tidak berbeda dengan metode konvensional (8,59%).

Kata kunci: NIRS, brix, pol, rendemen, Analisa Rendemen Individu

Share

Anomali Iklim 2013

RUMUSAN DISKUSI TERBATAS
PUSAT PENELITIAN PERKEBUNAN GULA INDONESIA (P3GI)
SURABAYA, 24 SEPTEMBER 2013

“ANOMALI IKLIM 2013: DAMPAK TERHADAP PENURUNAN PRODUKSI GULA DAN UPAYA ANTISIPASINYA”

Anomali Iklim
Perubahan iklim yang ditandai hujan berkepanjangan terjadi ketika sebagian besar Pabrik Gula (PG) memulai giling pada Juni 2013. Hujan bahkan terus berlanjut hingga pertengahan Agustus, sehingga sangat merugikan petani tebu dan PG. Dalam kedaan normal, memasuki awal giling tebu biasanya hujan sudah reda dan kemarau mulai tiba.
Anomali hujan selama musim giling tebu bukan kali ini saja terjadi. Hal serupa pernah dialami pada 2010. Dampaknya tidak hanya terhadap penurunan produksi gula tahun berjalan, tetapi berlanjut pada tahun berikutnya. Pada 2010 produksi gula sebanyak 2,28 juta ton dan 2011 sekitar 2,26 juta ton. Tebu yang tidak bisa ditebang tepat waktu dan sulit dirawat selama hujan pada tahun berjalan bisa menurunkan hasil gula tahun berikutnya.
Siklus anomali iklim tampaknya makin pendek. Bila sebelumnya musim hujan panjang terjadi 1998 kemudian berulang 2010 atau 12 tahun kemudian, kini pengulangan hanya dalam kurun 3 tahun.
Perubahan iklim di wilayah Indonesia tidak bisa diramalkan secara tepat jauh sebelumnya, karena sirkulasi atmosfer regional yang sangat dinamis dan penuh ketidak pastian. Pada Pebruari 2013, BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) memprediksikan kemarau berjalan normal. Namun akhir Mei prediksi BMKG direvisi dengan perkiraan hujan akan turun hingga Agustus. Minggu lalu BMKG memperkirakan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan lebih maju dibandingkan rata-rata periode 30 tahun terakhir atau kurun 1981-2010.
Informasi diatas membuat petani tebu dan PG sulit melakukan antisipasi dengan baik. Kemarau yang kini mulai berlangsung sebenarnya diharapkan bisa lebih panjang, supaya giling tebu berjalan optimal. Saat ini pun recovery tebu belum mulai tampak. Tebu yang digiling masih terimbas hujan abnormal yang turun sebelumnya. Setidaknya masih perlu beberapa minggu lagi agar rendemen kembali naik dan giling PG berjalan normal.
Dalam rangka memperkirakan kondisi iklim pada sisa musim giling tahun ini, serta antisipasinya agar tidak berdampak besar terhadap penurunan produksi gula tahun depan, pada tanggal 24 September 2013 di Surabaya, Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) mengadakan Diskusi Terbatas dengan topik “Anomali Iklim 2013: Dampaknya terhadap Penurunan Produksi Gula dan Antisipasinya”.
Diskusi dihadiri oleh sekitar 40 orang peserta, yang terdiri dari peneliti dan pemerhati gula, ahli iklim pertanian, pejabat pemerintah, serta para praktisi pergulaan. Read the rest of this entry »

Share
Saran, Kritik, Ngobrol

Categories
Tweet
Sugar Research Fan Page