Posts Tagged ‘raw sugar’
Salah satu parameter kualitas dari gula ditinjau dari warna ICUMSA, yaitu menunjukkan kualitas warna gula dalam larutan. ICUMSA ( International Commission For Uniform Methods of Sugar Analysis) merupakan lembaga yang dibentuk untuk menyusun metode analisis kualitas gula dengan anggota lebih dari 30 negara. Mengenai warna gula ICUMSA telah membuat rating atau grade kualitas warna gula. Sistem rating berdasarkan warna gula yang menunjukkan kemurnian dan banyaknya kotoran yang terdapat dalam gula tersebut.
Metode pengujian warna gula dengan standar ICUMSA menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 420 nm dan 560 nm. Untuk mengukur warna gula menggunakan metode ICUMSA sebelumnya gula dilarutkan sampai sempurna kemudian dihilangkan turbidity nya dengan cara menambahkan kieselguhr kemudian disaring dengan saringan vakum menggunakan kertas saring Whatman 42. Kemudian filtrate diambil dan pH larutan diatur sampai pH 7 dengan cara menambahkan HCl atau NaOH. Kemudian mengukur brix larutan dengan refraktometer dan tentukan berat jenis larutan dengan tabel hubungan brix dengan berat jenis. Pengukuran warna ICUMSA dengan spektrofotometer panjang gelombang 420 nm, kemudian menetapkan transmittance pada 100 % dengan H2O menggunakan kuvet 1 cm (b). Bilas kuvet dengan larutan contoh, kemudian isi kembali dan ukur transmittance (T) atau Absorbance (A) Read the rest of this entry »
Bambang Eddy Santoso *) dan Agus Bachtiar *)
ABSTRACT
Fehling method, both official and modified, has long been used for analyzing reducing sugar in sugar and sugar products. The method is suitable for high reducing sugar content product such as molasses or other low purity products. But for high purity products such as raw and white sugars the method is no longer effectant because of high variability of the results. Therefore in effort to seek a better method trials of analyzing reducing sugar in raw sugar using DNS method has been done. Validation of DNS method includes analysis of linierity, precission and accuracy compared with Luff Schorl method. The results showed that: (1). DNS method has better linierity, precission and accuracy for determination of reducing sugar in raw sugar. With span of linierity between 0 – 50 mg / L, coefficient of determination (R2) of 0,998 and standard error of Y estimation (SY) of 1,02 mg / L; coefficient of variation of 1,34 % and recovery of 101,6 + 8,1 %. (2). The average difference results between DNS and Luff Schorl is 0,14 point, where the result of DNS is higher. (3). Regression analysis result of the two methods , DNS (X) and Luff Sschorl (Y) is Y = 0,7283 X + 0,033 with R2 = 0,951 and SY = 0,03. Besides DNS method has the advantages of being less time of analysis and cheaper. These are important for testing laboratory to conduct a better service to their clients.
Key words: reducing sugar, raw sugar, DNS and Luff Schorl methods, validatio
Oleh :
Dr. Toto Martoyo
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI)
Jl. Pahlawan No 25 Pasuruan 67126
email : toto.martoyo@yahoo.co.id
Ada pemikiran untuk merubah proses produksi gula putih di Indonesia dari proses sulfitasi yang menghasilkan gula putih (Direct White Sugar) menjadi proses yang menghasilkan raw sugar (GKM). Selanjutnya GKM akan diproses menjadi refined sugar (GKR). Pengembangan Industri Raw sugar setidaknya memperhatikan beberapa hal antara lain, daya dukung lahan dan lingkungan di Jawa, program swasembada gula nasional, existing pabrik gula rafinasi (PGR) dan pabrik gula putih (PGP) dan perkembangan sistem produksi gula baru.
1. Pabrik raw sugar (Gula Kristal Mentah) berbahan baku tebu rasanya sudah tidak layak lagi dikembangkan di Jawa. Selain karena persaingan dengan komoditi dan peruntukan lain sehingga lahan menjadi mahal, juga karena masalah lingkungan. Kita lihat apa yang terjadi akhir-akhir ini bencana banjir dan tanah longsor melanda Jawa tiada henti. Sudah waktunya Jawa dihutankan kembali untuk mencegah bencana banjir secara mendasar. Oleh karena itu pertanaman tebu yang akan datang seharusnya dikembangkan di luar Jawa dengan demikian juga Pabrik Gula Mentah.
2. Model industri Gula Mentah (raw sugar) dikembangkan berupa kompleks industri terpadu yang memanfaatkan co-product, seperti tetes dan ampas tebu untuk memproduksi etanol dan derivatnya serta energi. Untuk itu kompleks industri harus berkapasitas besar minimal 10.000 TCD. Namun produksi Gula Kristal Mentah disesuaikan dengan kebutuhan Pabrik Gula Rafinasi, kelebihannya digunakan untuk produksi etanol dll.
3. Existing Pabrik Gula Rafinasi di Jawa dan juga yang akan dibangun di pusat industri makanan/minuman di luar Jawa bahan bakunya (GM) dipasok dari PGM dalam negeri. Hasil gula rafinasi dapat dijual untuk konsumsi langsung.
4. Perlu diantisipasi sistem produksi baru, yaitu produksi gula putih (sekualitas gula rafinasi) langsung dari tebu, jadi tanpa melalui GM. Kalau demikian maka kelak pabrik rafinasi tidak diperlukan lagi. Diperkirakan sistem ini akan berkembang dalam 5-10 tahun yang akan datang.
5. Dalam rangka program nasional swasembada gula terutama untuk konsumsi langsung, maka Pabrik Gula Putih yang ada dipertahankan sambil melakukan peningkatan kualitas sanitasi dan higinis. Sampai kemudian secara “alamiah” menyesuaikan dengan permintaan pasar.
