Posts Tagged ‘Pol’
Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok dan paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Sebagai produk makanan tentunya harus memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan sehingga layak untuk dikonsumsi. Di Indonesia ada tiga jenis gula yang beredar di pasaran, yaitu gula kristal mentah (GKM) atau raw sugar yang digunakan sebagai bahan baku industri gula rafinasi, gula kristal putih (GKP) yang dikonsumsi secara langsung dan gula rafinasi sebagai bahan baku industri makanan dan minuman.
Gula yang kita konsumsi sehari-hari adalah gula kristal putih secara internasional disebut sebagai plantation white sugar. GKP dibuat dari tebu yang diolah melalui berbagai tahapan proses, untuk Indonesia kebanyakan menggunakan proses sulfitasi dalam pengolahan gula. Kriteria mutu gula yang berlaku di Indonesia ( SNI ) saat ini pada dasarnya mengacu pada kriteria lama yang dikenal dengan SHS (Superieure Hoofd Suiker), yang pada perkembangannya kemudian mengalami modfikasi dan terakhir SNI 01-3140-2001/Rev 2005, Tabel 1. Secara garis besar kriteria mutu gula (GKP) yang kita ikuti meliputi kadar air, polarisasi, warna larutan, warna kristal, kadar SO2, abu konduktivitas dan besar jenis butir.
Tabel 1. Syarat mutu gula kristal putih (SNI-3140-200/Rev 2005)
Sukrosa ialah gula kristal yang manis rasanya, dibuat dari tebu atau beet, mempunyai rumus kimia C12H22O11, mempunyai sifat aktif optik (memutar bidang polarisasi). Dengan adanya sifat ini maka kadar gula (sukrosa, atau zat aktif optik lainnya) dalam suatu larutan gula dapat ditentukan kadarnya dengan cara polarisasi. [Catatan: Pada panjang gelombang 589,44 nm (sinar Natrium), larutan sukrosa dengan konsentrasi 26,00 sukrosa per 100 ml larutan pada suhu 20,0 oC dan ketebalan larutan 2 dm memutar bidang polarisasi sebesar 34,620 derajat busur].
Polarisasi atau pol didefinisikan sebagai jumlah gula (gram) yang terlarut dalam 100 gram larutan yang mempunyai kesamaan putaran optik dengan sukrosa murni terlarut dalam air. Alat yang digunakan untuk mengukur pol suatu larutan gula dinamakan polarimeter atau sakarimeter. Satuan polarisasi ialah oS (sugar scale, skala gula).
Pengukuran pol dengan polarimeter didasarkan pada putaran optik larutan sukrosa di mana penunjukkan angka 100 oS pada polarimeter didapat dari mengukur larutan sukrosa murni yang mengandung 26,00 g sukrosa setiap 100 ml larutan. Pengukuran ini dilakukan pada panjang gelombang 589,44 nm pada suhu pengukuran 20 oC panjang tabung 2 dm.
Perhitungan Kadar Pol dan Sukrosa :
http://www.ziddu.com/download/5017490/POLDANSUKROSA.pdf.html
ABSTRAK
Nira tebu yang segar kemurnian sukrosanya tinggi, kemudian akan mengalami penurunan mutu jika disimpan cukup lama, lebih-lebih tanpa ditambahkan bahan pengawet. Nira menjadi keruh, berwarna lebih pekat dan berbau akibat dari perkembang-biakan mirkoba di dalam nira. Di pabrik gula, biasanya terjadi pada saat pabrik berhenti giling yang cukup lama, terutama nira-nira yang encer yang terdapat di peti-peti tunggu (brix < 25 %). Pengukuran kadar gula (sukrosa) secara polarimetris terhadap nira semacam ini cukup sulit, dengan bahan penjernih yang ada nira tidak dapat dijernihkan sehingga tidak dapat dibaca dengan polarimeter. Untuk itu dilakukan suatu percobaan menentukan kadar sukrosa dalam nira yang rusak tersebut. Penentuan kadar sukrosa dilakukan secara polarimetris (polarisasi ganda) dan secara titrasi (reduksi ganda) terhadap nira segar dan nira rusak (nira yang telah disimpan terbuka selama ± 24 jam pada suhu kamar tanpa ditambahkan bahan pengawet). Hasil percobaan menunjukkan bahwa kadar sukrosa dalam nira segar dapat ditentukan dengan cara polarimetris dan cara titrasi, karena kadar sukrosa yang dihasilkan dengan kedua cara tersebut tidak berbeda. Sedangkan kadar sukrosa dalam nira yang rusak pada umumnya tidak dapat ditentukan dengan cara polarimetris, tetapi secara titrasi dapat ditentukan dengan baik dan sukses. Dengan demikian kadar sukrosa dalam nira yang rusak mutunya akibat penyimpanan yang cukup lama dapat ditentukan secara titrasi (reduksi ganda). Hal ini cukup bermanfaat bagi para praktisi pabrik gula dalam mengambil keputusan apakah nira tersebut layak untuk diproses lebih lanjut atau dibuang saja.
Kata kunci: kadar sukrosa, nira rusak, pol ganda, reduksi ganda.
Dalam industri gula dikenal istilah-istilah pol, brix dan HK (hasil bagi kemurnian). Istilah-istilah ini muncul dalam analisa gula, baik dari nira sampai menjadi gula kristal. Nira tebu pada dasarnya terdiri dari dua zat yaitu zat padat terlarut dan air. Zat padat yang terlarut ini terdiri dari dua zat lagi yaitu gula dan bukan gula. Berikut skema bagian-bagian dari nira.

Baik buruknya kualitas nira tergantung dari banyaknya jumlah gula yang terdapat dalam nira. Sekarang bagaimanakah caranya menghitung gula yang terkandung dalam nira tebu tersebut ?
DERAJAT BRIX
Brix adalah jumlah zat padat semu yang larut (dalam gr) setiap 100 gr larutan. Jadi misalnya brix nira = 16, artinya bahwa dari 100 gram nira, 16 gram merupakan zat padat terlarut dan 84 gram adalah air. Untuk mengetahui banyaknya zat padat yang terlarut dalam larutan (brix) diperlukan suatu alat ukur. Read the rest of this entry »

