Posts Tagged ‘Penguapan’
Bambang Eddy Santoso dan Agus Bachtiar
Di pabrik gula, nira hasil dari proses pemurnian nira mentah disebut nira jernih atau nira encer. Sebelum diproses lebih lanjut untuk menjadi gula produk, nira encer tersebut dipekatkan terlebih dahulu menjadi nira kental di dalam unit penguapan. Menguapkan airnya yang semula kepekatannya rendah (brix sekitar 12 %) menjadi cukup tinggi (brix sekitar 60 %) untuk memenuhi kebutuhan bahan baku di unit masakan.
Pada proses penguapan diperlukan uap jenuh untuk mendidihkan dan menguapkan nira. Agar dihasilkan nira kental yang sesuai dengan kebutuhan proses selanjutnya, memenuhi kapasitas giling dan untuk menghindari pemakaian uap yang terbuang percuma, maka di unit penguapan ini dipasang beberapa bejana penguapan. Di Indonesia banyak dijumpai 4 - 5 buah bejana yang dipasang seri, pada umumnya masukan nira encer ke bejana pertama searah dengan masuknya uap jenuh. Dibanding dengan memakai satu bejana penguapan, model penguapan dengan beberapa bejana penguapan ini lebih efektif, karena dapat menghemat pemakaian uap. Uap yang dihasilkan dari bejana sebelumnya dapat dipakai lagi untuk memanasi dan mendidihkan nira di bejana berikutnya bersama-sama dengan tambahan panas dari niranya sendiri, sehingga sistem ini dikenal dengan sebutan bejana penguapan efek multipel (Geankoplis, 1983; Honig, 1953; Cabe et. al., 1987; Meade & Chen, 1985).
Perhitungan dalam bejana penguapan efek multipel dimaksudkan untuk merencanakan dan atau menaksir (a) jumlah kebutuhan uap (konsumsi uap), (b) luas permukaan pemanas yang harus disiapkan dan c) ekonomi uap dari suatu bejana penguapan sistem efek multipel (Gean koplis, 1983; Cabe et. al., 1987). Untuk menyelesaikan suatu perhitungan tersebut biasanya digunakan model linier, yaitu suatu model yang bersifat linier, yang secara umum dapat dirumuskan ke dalam bentuk persamaan ( Djauhari, 1987; Soemartoyo, 1988 ) :
Tebu yang diekstrak akan menghasilkan nira mentah. Proses selanjutnya adalah pemurnian nira. Dalam nira mentah mengandung sukrosa, gula invert (glukosa+fruktosa), atom-atom (Ca,Fe,Mg,Al) yang terikat pada asam-asam, asam organik dan an organik, zat warna, lilin, asam-asam kieselgur yang mudah mengikat besi, aluminium, dan sebagainya. Nira mentah ini akan dimurnikan melalui berbagai tahapan proses.
Proses pemurnian berfungsi untuk menghilangkan atau mengurangi bukan gula dari nira mentah seoptimal mungkin. Proses pemurnian ini dapat dilakukan secara fisis maupun kimiawi. Secara fisis dengan cara penyaringan sedangkan secara kimia melalui pemanasan, pemberian bahan pengendap.
Pada proses pemurnian nira terdapat tiga buah jenis proses, yaitu :
a. Defekasi
b. Sulfitasi
c. Karbonatasi
Pada saat ini sebagian besar pabrik gula di Indonesia menggunakan proses sulfitasi dalam memurnikan nira. Pada proses sulfitasi nira mentah terlebih dahulu dipanaskan melalui heat exchanger sehingga suhunya naik menjadi 700 C. Setelah itu nira tersebut dialirkan kedalam defekator dicampur dengan susu kapur. Fungsi dari susu kapur ini adalah untuk membentuk inti endapan sehingga dapat mengadsorp bahan bukan gula yang terdapat dalam nira dan terbentuk endapan yang lebih besar. Pada proses defekasi ini dilakukan secara bertahap ( 3 kali ) sehingga diperoleh pH akhir sekitar 9 – 10. Read the rest of this entry »

