Posts Tagged ‘pabrik gula’

Bambang Eddy Santoso dan Sunantyo

ABSTRAK

Bejana penguapan merupakan salah satu dari jenis peralatan proses industri kimia dalam satuan operasi teknik kimia yang berfungsi untuk meningkatkan konsentrasi bahan dari konsentrasi rendah menjadi konsentrasi tinggi. Salah satu industri yang selalu menggunakan satuan operasi bejana penguapan selama prosesnya adalah industri gula. Di industri gula satuan operasi bejana penguapan digunakan untuk meningkatkan konsentrasi nira encer dari konsentrasi (brix) rendah (< 15 %) menjadi nira kental yang mempunyai brix tinggi (> 60 %). Sistem operasional bejana penguapan secara kontinyu, dengan jumlah efek tripple, quadruple atau quintuple efek. Pada umumnya pabrik gula di Indonesia menggunakan quadruple efek yaitu dalam sistem operasionalnya bekerja 4 efek (badan bejana) yang dipasang seri, masukan nira encer ke badan bejana penguapan pertama searah dengan masuknya uap pemanas. Metode perhitungan kinerja bejana penguapan dijumpai 6 macam metode, yaitu menurut metode Geankoplis, Honig, Chen & Chou, Hugot, Landheer, Anonymous. Dari ke enam metode perhitungan tersebut, maka dalam studi ini dikelompokkan ke dalam 2 kelompok metode dasar yaitu kelompok I (Geankoplis, Honig dan Chen & Chou) dimana metode perhitungan berdasarkan neraca masa + neraca panas, dan kelompok II (Hugot, Landheer dan Anonymous) metode perhitungannya berdasarkan “pressure drops distribution” + neraca masa. Dengan data kondisi bahan baku baik kualitas maupun kuantitasnya yang dipandang berpengaruh terhadap kinerja bejana penguapan dibuat sama yaitu kapasitas giling 250 ton tebu/jam, nira encer % tebu = 100, brix nira encer = 13 % dan brix nira kental yang diharapkan = 65 %. Suhu nira encer masuk badan bejana penguapan pertama 100 oC, tekanan uap pemanas dari uap bekas ke badan bejana penguapan pertama = 1,33 kg/cm2 dan vakum dalam ruang uap badan bejana penguapan terakhir = 65,6 cmHg. Koefisien perpindahan panas untuk kedua metode tersebut sama. Hasil uji perhitungan menurut metode I menunjukkan kebutuhan uap bekas sebagai pemanas badan bejana penguapan pertama sebanyak 62 310 kg/jam, total luas permukaan pemanas 3786 m2 atau rata-rata per badan bejana = 947 m2 dan ekonomi uap = 321 %. Sedangkan menurut metode II menunjukkan kebutuhan uap bekas sebanyak 50 000 kg/jam, total luas permukaan pemanas 3878 m2 atau rata-rata per badan bejana = 970 m2 dan ekonomi uap = 400 %. Jika kedua metode tersebut dibandingkan, maka metode II dipandang lebih menguntungkan ditinjau dari jumlah kebutuhan uap dan ekonomi uapnya. Sebagai saran dari kajian ini, perlu dilakukan perhitungan lebih lanjut terhadap bejana penguapan dengan sistem penyadapan penuh ke pemanas pendahuluan dan pan masak.

Kata kunci: bejana penguapan standar, kebutuhan uap pemanas (bekas), luas permukaan pemanas, ekonomi uap.

FULLTEXT

http://www.ziddu.com/download/5017323/Evapcalc.pdf.html

Oleh :
Risvan Kuswurjanto
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
Jl. Pahlawan No. 25 Pasuruan

PENDAHULUAN

Industri gula, seperti proses industri lainnya tentu mengalami permasalahan korosi pada setiap tahapan prosesnya. Dengan adanya bahan konstruksi yang terbuat dari logam, maka Pabrik Gula rentan terhadap serangan korosi. Korosi tidak dapat dihindari, tetapi dapat diperlambat lajunya. Selama ini permasalahan korosi di pabrik gula kurang mendapat perhatian bahkan terkesan diabaikan, padahal biaya yang ditimbulkan akibat adanya korosi tidaklah sedikit. Korosi berpotensi terjadi di Pabrik gula karena bahan konstruksinya banyak terbuat dari logam khususnya besi.

Bhaskaran, dkk (2003) melakukan audit mengenai korosi di Pabrik Gula di India. Dari hasil audit tersebut dihasilkan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh seluruh pabrik gula di India akibat masalah korosi sebesar US $ 14.000.000 atau hampir 140 milyar rupiah. Sedangkan studi yang dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa total biaya yang ditimbulkan akibat korosi untuk seluruh industrinya sebesar $ 296 milyar (Roberge, 1999 ).

JENIS KOROSI DAN MEKANISMENYA

Korosi adalah peristiwa rusaknya logam karena reaksi dengan lingkungannya (Roberge, 1999). Definisi lainnya adalah korosi merupakan rusaknya logam karena adanya zat penyebab korosi, korosi adalah fenomena elektrokimia dan hanya menyerang logam (Gunaltun, 2003).

Pada dasarnya peristiwa korosi adalah reaksi elektrokimia. Secara alami pada permukaan logam dilapisi oleh suatu lapisan film oksida (FeO.OH). Pasivitas dari lapisan film ini akan rusak karena adanya pengaruh dari lingkungan, misalnya adanya penurunan pH atau alkalinitas dari lingkungan ataupun serangan dari ion-ion klorida. Pada proses korosi terjadi reaksi antara ion-ion dan juga antar elektron. Anode adalah bagian dari permukaan logam dimana metal akan larut. Read the rest of this entry »