Posts Tagged ‘Nira’
POTENSI APLIKASI DI PABRIK GULA
Ultrafiltrasi membran
Setelah diketahui karakteristik filtrasi membran dari informasi baik dari dalam maupun luar negeri serta kondisi umum pabrik gula dalam negeri maka dapat dikemukakan potensi aplikasi filtrasi membran untuk pabrik gula. Seperti diketahui bersama bahwa sebagian besar proses pemurnian nira di PG menggunakan proses sulfitasi . Nira jernih hasil pemurnian mutunya masih rendah, turbiditas yang dicapai masih berkisar 70-150 ppm, kandungan polisakaridanya juga tinggi dan warnanya gelap, biasanya lebih tinggi dari 10 000 IU. Dengan kondisi bahan olah (nira jernih) yang demikian sulit diharapkan untuk menghasilkan gula dengan mutu yang baik. Di samping itu dengan mutu nira jernih yang jelek pabrik belakang akan mengalami kesulitan, masakan menjadi viskos akibatnya kristalisasi berjalan lambat dan menimbulkan kesulitan pada proses sentrifugal. Akhirnya kehilangan gula dalam tetes meningkat atau recovery gula menurun. Kerugian yang ditimbulkan besar, baik karena mutu produk yang rendah sehingga harga jualnya rendah maupun karena jumlah gula yang dihasilkan lebih sedikit. Aplikasi filtrasi membran berpeluang untuk memperbaiki mutu nira jernih.
Ultrafiltrasi nira jernih
Macam pengotor dalam nira jernih antara lain partikel melayang (suspended solid), makromolekul seperti protein dan berbagai polisakarida yang larut dalam nira jernih. Ultrafiltrasi lebih sesuai digunakan untuk filtrasi nira jernih karena di samping dapat menyingkirkan partikel melayang juga dapat memisahkan makromolekul yang terdapat dalam nira jernih. Hasil penelitian ultrafiltrasi nira jernih (Kwok, 1996; Steindl and Doyle,1999) menunjukkan bahwa UF dapat menekan warna permeate sekitar 10-15 %, sehingga setelah diuapkan menghasilkan nira kental dengan warna 40 % lebih rendah dan setelah dikristalkan warna raw sugar 44 % lebih rendah dari blangko atau sekitar 500 IU. Read the rest of this entry »
Pada proses pengolahan tebu menjadi gula salah satu tahap yang dilalui adalah proses evaporasi melalui evaporator. Pada proses ini nira jernih akan dinaikkan konsentrasinya dengan cara penguapan. Pada saat ini hampir semua pabrik gula menggunakan evaporator Robert (tipe kalandria), gambar 1, dimana nira akan dialirkan dalam pipa dan dipanaskan dengan uap.
Gambar 1. Evaporator tipe Robert
Pendidihan didalam Pipa Vertikal
Apabila kedalam pipa vertikal diisikan air, kemudian dipanasi dengan uap dari luar maka terjadi hal-hal sebagai berikut : Mula-mula dinding luar pipa menjadi panas dan melekatlah titik-titik kondensat dari uap pemanas yang mengembun, gambar 2. Titik-titik kondensat semakin bertambah besar dan pada suatu saat, karena massanya akan bergerak kebawah serta berkumpul pada dasar bejana pemanas. Sebelum titik-titik kondensat meninggalkan tempat melekatnya di dinding pipa, maka akan membentuk “lapisan air” yang berfungsi sebagai isolasi panas. Keadaan tersebut sangat merugikan ditinjau dari proses perpindahan panas sehingga suatu sistem yang dapat menghalau secepatnya titik-titik kondensat tadi akan sangat menguntungkan. Read the rest of this entry »
Bambang Eddy Santoso dan H. Suwandi
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
Jl. Pahlawan 25 Pasuruan, 67126
ABSTRAK
Nira campuran dan rata-rata bobot adalah dua hal yang berbeda tetapi sama. Berbeda secara fisik, karena nira campuran adalah nira yang merupakan campuran dari nira tebu tiga bagian (atas, tengah dan bawah), rata-rata bobot adalah perhitungan rata-rata secara matematik yang memperhitungkan bobot dari komponen pembentuknya (nira tebu bagian atas, tengah dan bawah). Keduanya mempunyai maksud dan tujuan yang sama karena keduanya merupakan titik pusat kesetimbangan dari nira tebu bagian atas tengah dan bawah sehingga menggambarkan nira tebu lonjoran. Dalam upaya menempatkan analisis nira campuran sebagai bagian dari analisis kemasakan tebu tiga bagian, telah dilakukan suatu penelitian tentang analisis kemasakan tebu untuk membahas permasalahan tersebut. Pada penelitian ini digunakan 10 varietas @ 5 batang selama 5 ronde pengamatan. Parameter yang diamati adalah berat nira masing-masing bagian; brix dan pol dari nira tiga bagian, campuran dan rata-rata bobot. Selanjutnya dihitung HKpol, nilai nira dan rendemen. Uji statistik yang digunakan adalah uji sepasang (faktor varietas dan ronde dianggap sebagai kontributor banyaknya data contoh tebu), analisis variansi dan perbandingan ganda Newman Keuls. Hasilnya menunjukkan bahwa rangking kualitas nira dan rendemen dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah nira bagian atas, campuran, rata-rata bobot, tengah dan bawah. Ada perbedaan yang signifikan antara kualitas nira campuran dengan rata-rata bobot. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh proporsi pencampuran sisa nira A, T dan B menjadi nira campuran tidak sesuai lagi dengan proporsi nira saat tebu diperah. Rata-rata koefisien peningkatan dari analisis nira campuran dan rata-rata bobot tidak begitu berbeda, namun secara individual ada perbedaan yang cukup tinggi. Hal ini perlu diwaspadai, karena dapat menyebabkan kesalahan dalam menginterpretasikan fenomena kemasakan tebu. Untuk menempatkan analisis nira campuran sesuai porsinya yang menggambarkan kualitas nira tebu lonjoran, maka disarankan untuk menggunakan perhitungan rata-rata bobot dari hasil analisis nira A, T dan B. Cara perhitungan ini dapat menghemat waktu analisis, sehingga waktu yang dihemat dapat dipakai untuk menambah jumlah contoh varietas yang diuji. Di lain pihak, agar tidak terjadi kesalah-pahaman dalam menginterpretasikan rendemen hasil analisis kemasakan tebu dengan rendemen hasil analisis nira perahan pertama pabrik gula, disarankan rendemen analisis kemasakan diganti dengan nilai nira saja karena hasil akhir perhitungan (faktor kemasakan dan koefisien peningkatan) keduanya persis sama.
Kata kunci: analisis kemasakan tebu, nira tebu tiga bagian, nira campuran, rata-rata bobot, koefisien peningkatan.
FULLTEXT
http://www.ziddu.com/download/5017083/Analisakemasakantebu.pdf.html
Gula reduksi ialah gula yang mempunyai gugus aldehida atau keton bebas yang dalam suasana basa dapat mereduksi logam-logam, sedangkan gula itu sendiri teroksidasi menjadi asam-asam (asam aldonat, asam ketonat atau asam uronat). Gula reduksi dalam nira, sirup atau tetes tebu terutama terdiri dari glukosa dan fruktosa dengan perbandingan sekitar 1 : 1. Metode yang digunakan untuk menentukan kadar gula reduksi dalam nira, sirup dan tetes tebu ialah metode Lane & Eynon.
Gula reduksi dapat mereduksi larutan Fehling menjadi tembaga oksida yang mengendap berwarna merah bata (ion kupri tereduksi menjadi ion kupro). Larutan Fehling A mengandung ion kurpi (CuSO4), sedangkan larutan Fehling B mengandung campuran alkali (NaOH dan KNaC4H4O6). Gula reduksi dengan alkali (Fehling B) akan membentuk enediol, kemudian enediol ini dengan ion kupri (Fehling A) akan membentuk ion kupro dan campuran asam-aam. Selanjutnya ion kupro dalam suasana basa akan membentuk kurpo hidroksida yang dalam keadaan panas mendidih akan mengendap menjadi endapan kupro oksida (Cu2O) yang berwarna merah bata.
Perhitungan Kadar Gula Reduksi Nira Tebu :
http://www.ziddu.com/download/5017454/GULAREDUKSI.pdf.html
