Posts Tagged ‘HPB’
Efisiensi dari pabrik gula secara umum dinyatakan dalam tingkat ekstraksi di stasiun gilingan dan perolehan gula di stasiun pengolahan (boiling house). Overal Recovery diperoleh dengan mengalikan tingkat ekstraksi di stasiun gilingan dengan perolahan gula di stasiun pengolahan. Di Indonesia sistem perhitungan yang digunakan adalah dengan menggunakan Faktor Rendemen (FR)
Faktor Rendemen = KNT x HPB x PSHK x WR
KNT = Kadar Nira Tebu = Sap Gehalte Riet
Merupakan suatu angka yang menunjukkan jumlah nira tebu yang berhasil diperah oleh stasiun gilingan (nira tebu % tebu).
Yang mempengaruhi KNT antara lain :
1. Mutu tebu, jenis tebu, kadar sabut
2. Umur tebu : makin tua makin rendah
3. Kesegaran tebu
4. Kebersihan tebu
5. Mutu tebangan
6. Kotoran-kotoran tanah
7. Timbangan tebu dan nira
8. Timbangan air imbibisi. Read the rest of this entry »
Stasiun Gilingan di Pabrik Gula berfungsi untuk memerah nira dari tebu sebanyak mungkin dan meminimalkan kehilangan gula. Berikut adalah istilah yang biasanya digunakan dalam perhitungan neraca massa di stasiun gilingan Pabrik Gula :
- Tebu, adalah bahan mentah yang dijatuhkan ke krepyak tebu termasuk daun tebu, kotoran, air dsb.
- Berat Tebu, berat bahan mentah tersebut diatas, dengan kata lain berat bruto yang tepat dikurangi berat alat pengangkutan.
- Berat Tebu yang digiling setiap hari, dihitung dengan angka-angka laporan penimbangan.
- Bahan Sabut, adalah bahan kering dalam tebu yang tidak dapat larut, termasuk bahan kering yang tidak dapat dilarutkan dalam daun, kotoran dsb.
- Nira-Nira Tak Diencerkan, Nira yang diperah gilingan atau nira yang tertinggal dalam ampas dikurangi dengan air imbibisi.
- Nira Tebu, Nira tebu = Nira mentah tak diencerkan + nira tak diencerkan ampas akhir. Asumsi kehilangan di stasiun gilingan diabaikan.
