Posts Tagged ‘Gula’

Pada pemrosesan gula dari tebu menghasilkan limbah atau hasil samping, antara lain ampas, blotong dan tetes. Ampas berasal dari tebu yang digiling dan digunakan sebagai bahan bakar ketel uap. Blotong atau filter cake adalah endapan dari nira kotor yang di tapis di rotary vacuum filter, sedangkan tetes merupakan sisa sirup terakhir dari masakan yang telah dipisahkan gulanya melalui kristalisasi berulangkali sehingga tak mungkin lagi menghasilkan kristal.

Rata-rata blotong dihasilkan sebanyak 3.8 % tebu atau sekitar 1.3 juta ton blotong per tahun. Blotong dari PG Sulfitasi rata-rata berkadar air 67 % dan kadar pol 3 %. Komposisi blotong secara umum dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Komposisi dari blotong

blotong1

Blotong merupakan limbah yang bermasalah bagi pabrik gula dan masyarakat karena blotong yang basah menimbulkan bau busuk. Oleh karena itu apabila blotong dapat dimanfaatkan akan mengurangi pencemaran lingkungan. Read the rest of this entry »

T. Martoyo

PENDAHULUAN

Teknologi membran telah berkembang pesat pada 20 tahun terakhir. Aplikasinya secara garis besar digolongkan sebagai proses untuk (a) pemi­sahan partikel (solid) yang tersuspensi dan (b) pemisahan padatan (makro molekul) yang terlarut (Rushton dkk., 1996). Penapisan partikel dengan rentang ukuran 0,02 - 10 mikro meter dinamai mikro filtrasi (MF), sedangkan yang berukuran 0,001 - 0,02 mikro meter dinamai ultrafiltrasi (UF).

Proses menggunakan teknologi membran (MF maupun UF) bukanlah teknologi yang sama sekali baru, tetapi telah digunakan di industri makanan sejak tahun tujuh puluhan. Generasi membran per­tama adalah membran organik dari bahan polimer: selulose nitrat dan selulose asetat. Penggunaan membran organik di berbagai industri cukup suk­ses, terutama pada kondisi operasi dan karakteristik bahan yang akan difiltrasi yang sesuai: suhu rendah, tidak viskos, sanitasi yang baik, dan lain-lain. Pada tahun 80 an mulai dikembangkan mem­bran anorganik atau keramik untuk mengatasi keterbatasan membran organik.

Penelitian tentang filtrasi membran di industri gula telah banyak dilakukan (Herve dkk.,1995; Saska, 1997; Steindl and Doyle, 1999; Steindl, 2001) hampir seluruhnya difokuskan pada filtrasi nira jernih yang dihasilkan dari proses yang konvensional. Bahan membran yang digunakan bervariasi dari berbagai polimer organik sampai dengan membran anor­ganik (keramik). Teknologi UF membran untuk nira jernih telah diaplikasikan secara komersial di salah satu pabrik gula di Hawai (Kwok, 1996).

Penelitian UF membran untuk nira mentah masih jarang dilakukan , khususnya untuk nira tebu. Kendala yang dihadapi antara lain karena kan­dungan suspended solid yang tinggi dalam nira mentah sehingga fluks yang dicapai rendah. Oleh karena itu diperlukan perlakuan pendahuluan untuk memisahkan suspended solid dalam nira mentah sebelum masuk ke sistem UF. Ujicoba UF membran untuk nira mentah pada skala pilot telah dilaporkan oleh Martoyo dkk. (2000). Ujicoba dilakukan di PG Kedawung pada MG 1999, unit UF dipasang secara on-line dengan proses di PG. Data yang dihasilkan selama ujicoba (980 jam) digunakan sebagai proposal pengembangan sistem UF membran pada skala komersial. Read the rest of this entry »

ABSTRAK

Daya aliran gula ialah daya hantar listrik dari garam-garam elektrolit terlarut di dalam larutan gula 40 % w/w. Daya aliran gula digunakan untuk menetapkan faktor cuci. Perbandingan antara daya aliran gula sesudah dan sebelum gula dicuci menunjukkan faktor cuci. Faktor ini merupakan salah satu parameter dari kinerja unit puteran, semakin besar faktor cuci semakin baik kinerja puteran. Alat yang biasa digunakan untuk mengukur daya aliran gula ialah Jembatan Wheatstone (Conductometer) yaitu suatu jembatan hambatan dari hambatan sumbat (geser) dengan galvanometer (mata kucing) sebagai indikator titik nol. Di lain pihak garam-garam elektrolit ini juga termasuk garam-garam yang membentuk abu gula, dimana kadarnya dapat ditentukan dengan Rafonimeter Buse Todt Golnow. Telah dilakukan percobaan untuk membandingkan hasil pengukuran daya aliran gula menggunakan Jembatan Wheatstone dengan kadar abu gula menggunakan Rafinometer Buse Todt Golnow. Dibedakan contoh gula dari proses sulfitasi dan karbonatasi. Percobaan dilakukan terhadap 346 contoh gula proses sulfitasi dan 55 contoh gula proses karbonatasi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kadar abu gula (X) mempunyai korelasi yang tinggi dengan daya aliran gula (Y), koefisien determinasi R2 > 0,95. Persamaan regresi untuk contoh gula proses sulfitasi adalah Y = 1749,58 X dan untuk contoh gula proses karbonatasi Y = 1938,68 X. Dengan demikian daya aliran gula (Y) dapat ditentukan dengan Rafinometer Buse Todt Golnow setelah kadar abu yang dihasilkan (X) disubstitusikan ke dalam persamaan di atas. Kedua per samaan tersebut berbeda satu sama lainnya, oleh karena itu persamaan ini dapat dipakai sesuai dengan proses pabrikasinya. Hal ini cukup bermanfaat untuk mengantisipasi jika terjadi kerusakan alat Jembatan Wheatstone (Conductometer) atau sebaliknya sehingga dalam mengukur daya aliran dapat digunakan Rafinometer Buse Todt Golnow atau sebaliknya.

Kata kunci: Daya aliran gula, Jembatan Wheatstone, kadar abu gula, Rafinometer Buse Todt

Golnow, proses pabrikasi.

FULLTEXT

http://www.ziddu.com/download/5017380/dayaalir.pdf.html

Gula selain dikonsumsi langsung juga digunakan sebagai bahan baku untuk industri makanan. Pada saat ini kebanyakan pabrik gula di Indonesia hanya mampu menghasilkan gula kualitas GKP (gula kristal putih) yang dikonsumsi langsung. Gula SHS ini masih belum memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan baku industri makanan. Untuk itu industri makanan membutuhkan kualitas gula yang lebih baik yang diperoleh dari gula rafinasi. Kata rafinasi diambil dari kata refinery artinya menyuling, menyaring, membersihkan. Jadi bisa dikatakan bahwa gula rafinasi adalah gula yang mempunyai kualitas kemurnian yang tinggi.

Proses Pembuatan Gula Rafinasi

Proses rafinasi yang digunakan dalam pabrik gula rafinasi bervariasi tergantung pada bahan yang diolah produk yang dikehendaki dan pertimbangan lain sesuai kondisi lokal. Namun demikian secara garis besar dapat diuraikan menjadi stasiun sebagai berikut :

Read the rest of this entry »