Posts Tagged ‘Gilingan’
B. E. Santoso*) dan T. Martoyo*)
ABSTRAK
Untuk mendapatkan nira sebagai bahan baku untuk stasiun pengolahan, tebu harus diekstraksi terlebih dahulu di stasiun gilingan, selain dihasilkan nira tebu juga dihasilkan ampas tebu. Di pabrik gula ampas tebu sangat penting perannya, karena digunakan sebagai bahan bakar ketel di stasiun pembangkit enerji di mana ketel adalah pembangkit enerji yang merupakan jantung pabrik gula. Untuk menghitung berapa kecukupan ampas tebu yang dibutuhkan sebagai bahan bakar diperlukan data sabut tebu, karena sabut tebu itulah pada dasarnya yang mengandung nilai bakar (4000 kkal per kg sabut tebu). Di samping itu kadar sabut tebu dipakai juga sebagai dasar untuk menyetel gilingan. Untuk menentukan kadar sabut tebu pada umumnya harus menentukan kadar bahan kering dan brix ampas tebu terlebih dahulu, diperlukan waktu minimal 2 - 3 jam untuk mendapatkan data tersebut. Ampas % tebu dihitung dari rumus 100 - imbibisi % tebu - nira mentah % tebu. Sabut tebu dihitung dengan rumus ampas % tebu x (bahan kering % ampas - brix % ampas). Dari hasil penelitian dan performance test di stasiun gilingan beberapa pabrik gula pada masa giling tahun 1997 - 2001 telah dikumpulkan data rata-rata harian sebanyak 69 data berpasangan, sabut tebu dan ampas tebu. Ingin diketahui hubungan (regresi) yang paling baik antara kedua kelompok data ini untuk memprediksi kadar sabut tebu dengan mudah jika telah diketahui kadar ampas tebu sesuai neraca bahan (tebu + air imbibisi = nira mentah + ampas tebu). Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan antara sabut tebu dengan ampas tebu berbentuk linier sederhana. Unsur kuadratik tidak dapat dimasukkan ke dalam persamaan regresi, karena selain Y tidak mempunyai hubungan secara parsial dengan X2 juga menyebabkan F-hitung menjadi lebih kecil dari linier dan tidak meningkatkan nilai R2 dan Sy secara signifikan. Unsur kubik dapat dimasukkan ke dalam persamaan regresi, namun demikian masih menyebabkan F-hitung menjadi lebih kecil dari linier dan tidak meningkatkan nilai R2 dan Sy secara signifikan. Sedangkan unsur linier memberikan nilai F-hitung tertinggi, koefisien determinasi R2 dan simpangan baku Sy tidak berbeda dengan kuadratik dan kubik. Oleh karena itu persamaan regresi linier adalah regresi yang paling baik untuk memprediksi sabut tebu berdasarkan ampas tebu, yaitu dengan persamaan Y = 0,4728 X - 1,00; F-hitung = 1028,7; koefisien determinasi R2 = 0,94 dan simpangan regresi (Sy) = 0,50. Persamaan regresi ini bermanfaat bagi praktisi pabrik gula untuk memprediksi kadar sabut tebu yaitu untuk memperkirakan ketersediaan ampas tebu dalam menunjang kebutuhan bahan bakar ketel, juga sebagai dasar penyetelan gilingan dan pengawasan gilingan lainnya.
Kata kunci: stasiun gilingan, ampas tebu, sabut tebu, regresi prediksi.
Oleh :
Ir. Sunantyo, MT. APU.
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
P3GI Pasuruan
PENDAHULUAN
Upaya menyelematkan kandungan gula atau sukrosa dalam batang tebu memerlukan penanganan seoptimal mungkin, yaitu semenjak tebu ditebang sampai digiling di stasiun gilingan. Dalam hal ini telah banyak diketahui oleh pelaku industri gula, baik dari bidang tanaman, pabrikasi maupun bidang instalasi. Di stasiun gilingan tebu terlebih dahulu dipotong, dirobek, dibelah, dicacah dan dihancurkan menjadi serpihan kecil-kecil kemudian digiling untuk diperah niranya.
Pelbagai upaya telah dilakukan semaksimal mungkin oleh para teknolog untuk memerah nira yang terkandung di batang tebu. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi efisiensi dalam pemerahan nira. Dalam kegiatan pemerahan nira dari batang tebu dikenal dengan istilah ekstraksi. Ekstraksi didefinisikan sebagai proses pemisahan bahan dari campurannya dengan menggunakan suatu pelarut. Sebagai pelarut yang digunakan dalam proses pemerahan nira di stasiun gilingan adalah air. Air yang digunakan sebagai pelarut dalam proses ekstraksi tebu kita kenal sebagai air imbibisi. Maksud dari pemberian imbibisi ini adalah untuk mengencerkan nira yang tersisa dalam ampas tebu agar lebih mudah diperah niranya.
Salah satu faktor penting yang mempengaruhi pemerahan nira dari batang tebu adalah pemberian imbibisi air di stasiun gilingan. Kiat pemberian imbibisi di stasiun gilingan yang dilakukan sejak lama ternyata mempunyai permasalahan tersendiri yang unik dan menarik untuk ditinjau.
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Hasil Ekstraksi
Di pabrik gula angka pengawasan gilingan untuk menyatakan hasil ekstraksi di stasiun gilingan adalah angka HPG (Hasil Pemerahan Gula). Ekstraksi atau HPG dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain jenis tebu, kadar sabut, umur tebu, kandungan kotoran tebu, tipe atau jenis pencacahan awal, susunan gilingan, putaran rol, bentuk alur rol, setelan gilingan, stabilitas kapasitas giling, tekanan, sanitasi gilingan, kadar gula atau pol tebu dan imbibisi. Dari banyak faktor yang berpengaruh terhadap hasil ekstraksi tersebut dalam tulisan ini akan ditinjau ulang sehubungan tentang imbibisi.
Imbibisi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil ekstraksi. Sehubungan dengan imbibisi untuk angka pengawasan di stasiun gilingan dinyatakan dalam angka imbibisi % tebu dan imbibisi % sabut. Guna mendapatkan gambaran pengaruh imbibisi terhadap hasil ekstraksi, berikut disajikan data rerata imbibisi % sabut dan % pol ampas akhir seperti tampak pada tabel 1. Read the rest of this entry »
Stasiun Gilingan di Pabrik Gula berfungsi untuk memerah nira dari tebu sebanyak mungkin dan meminimalkan kehilangan gula. Berikut adalah istilah yang biasanya digunakan dalam perhitungan neraca massa di stasiun gilingan Pabrik Gula :
- Tebu, adalah bahan mentah yang dijatuhkan ke krepyak tebu termasuk daun tebu, kotoran, air dsb.
- Berat Tebu, berat bahan mentah tersebut diatas, dengan kata lain berat bruto yang tepat dikurangi berat alat pengangkutan.
- Berat Tebu yang digiling setiap hari, dihitung dengan angka-angka laporan penimbangan.
- Bahan Sabut, adalah bahan kering dalam tebu yang tidak dapat larut, termasuk bahan kering yang tidak dapat dilarutkan dalam daun, kotoran dsb.
- Nira-Nira Tak Diencerkan, Nira yang diperah gilingan atau nira yang tertinggal dalam ampas dikurangi dengan air imbibisi.
- Nira Tebu, Nira tebu = Nira mentah tak diencerkan + nira tak diencerkan ampas akhir. Asumsi kehilangan di stasiun gilingan diabaikan.
By : Risvan Kuswurj
Gula benda manis yang setiap hari kita makan. Gula yang kita konsumsi adalah Gula Kristal Putih (GKP) atau Plantation White Sugar atau gula SHS (Superiuer Hoof Suicker). Bahan baku utama untuk pembuatan gula berasal dari tebu dan beet. Untuk daerah tropis kebanyakan menggunakan bahan baku dari Tebu. Kenapa harus tebu ? Untuk membuat gula kristal bahan baku utamanya adalah sukrosa, karena sukrosa ini yang dapat dikristalkan.
Gula yang ada dalam tebu berada dalam bentuk disakarida (sukrosa) dan monosakarida (fruktosa dan glukosa). Untuk menjadi gula kristal yang dibutuhkan adalah sukrosa, sedangkan monosakaridanya tidak bisa dikristalkan. Setelah tebu ditebang atau dipanen maka tebu akan dibawa ke Pabrik Gula untuk diolah menjadi gula kristal.
Secara Garis besar langkah pemrosesan tebu menjadi gula sebagai berikut :
- Ekstraksi di Gilingan
- Pemurnian
- Penguapan
- Pengkristalan
- Pemisahan
- Pengeringan dan Pengepakan Read the rest of this entry »
