Posts Tagged ‘FORM B’

PENDAHULUAN

Pengukuran pol dan nira atau produk gula yang lain dengan polarimeter memerlukan syarat antara lain adalah larutan filtrat yang diukur harus jernih dan tidak berwarna gelap. Persyaratan ini akan lebih ketat lagi untuk polarimeter visual yang mengandalkan mata pengukurnya.

Larutan Timbal Asetat (TA) telah digunakan lebih dari satu abad yang lalu hingga kini untuk bahan penjernih Dibandingkan dengan bahan penjernih dari garam-garam logam lain kualitas penjernih TA lebih unggul (Browne and Zerban,1941) namun mengingat TA adalah logam yang bersifat racun kuat, penggunaannya untuk bahan penjernih mulai dipertanyakan (ICUMSA, 1990).

Pabrik gula di Indonesia seperti beberapa pabrik gula tebu di negara lain masih menggunakan TA sebagai bahan penjernih untuk analisis pol. Kalau dihitung, untuk analisis pol dalam pengawasan pabrikasi, untuk pabrik gula yang berkapasitas 4000 TCD diperlukan tidak kurang dari 100 kg TA per musim giling. Dapat dibayangkan untuk pabrik gula seluruh Indonesia, khususnya di Jawa, diperkirakan sekitar 5 ton TA per tahun dibuang sebagai limbah analisis pol, atau sekitar 500 ton TA tersebar di perut bumi Pulau Jawa selama seabad ini.

Dengan semakin meningkatnya pengawasan pencemaran lingkungan, hal tersebut di atas merupakan sesuatu yang harus diwaspadai. Salah satu upaya untuk mengantisipasi permasalahan pencemaran yang akan timbul adalah menyediakan bahan penjernih alternatif yang tidak beracun. Usaha untuk mengganti TA sebagai bahan penjernih telah dilakukan (Lew, 1986; Chou, 1988; Winstroom and Elsen, 1988; Clarke and Bourgeois, 1990; ICUMSA, 1990; Martoyo dan Santoso, 1992a, 1992b; 1995, 1997; Martoyo et al, 1994; Santoso dan Martoyo, 2000, 2001). Tampaknya garam aluminium paling banyak digunakan dan memberikan harapan. Bahkan untuk pabrik gula beet, penjernih aluminium telah direkomendasikan (tentative) oleh ICUMSA. Sedangkan untuk pabrik gula tebu masih dalam taraf penelitian.

Penjernih nira tebu dengan penjernih aluminium yang dilaporkan oleh ICUMSA (1990) dan Legendre & Clarke (1991) menghasilkan angka pol yang tidak begitu berbeda tetapi selalu sedikit lebih rendah. Kecepatan filtrasi lebih lambat dan warna filtrat lebih tinggi daripada hasil penjernihan dengan TA. Di samping itu penambahan Ca(OH)2 dalam bentuk susu yang sulit diukur dengan tepat. Padahal ketepatan komposisi bahan penjernih berpengaruh besar terhadap kualitas penjernihan (Martoyo dan Santoso, 1992a, 1992b; 1995, 1997; Martoyo et al, 1994; Santoso dan Martoyo, 2000, 2001).

Sebagai upaya untuk mengantisipasi kemungkinan penggantian TA sebagai bahan penjernih untuk analisis pol dalam pengawasan pabrikasi di pabrik gula, berikut diperkenalkan bahan penjernih alternatif yang berwawasan lingkungan, aman terhadap lingkungan.yang merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Martoyo dan Santoso (1992a, 1992b; 1995, 1997), Martoyo et al (1994); Santoso dan Martoyo (2000, 2001).baik di laboratorium P3GI maupun di pabrik gula. Read the rest of this entry »