Posts Tagged ‘CaO’
Bambang Eddy Santoso *) dan Toto Martoyo *)
RINGKASAN
Proses pemurnian nira mentah merupakan tahapan proses kunci, karena mempengaruhi keberhasilan tahapan berikutnya dalam proses pembuatan gula di pabrik gula. Kondisi pemurnian nira proses sulfitasi didesain sejak lebih dari 100 tahun yang lalu, dalam keadaan mutu tebu yang prima dan sampai saat ini belum ada perubahan yang berarti. Pada hal pada kenyataannya mutu tebu giling yang dipasok ke sebagian besar pabrik gula di Indonesia dari waktu ke waktu semakin rendah, atau tidak MBS (masak, bersih dan segar). Tebu yang bermutu rendah banyak mengandung bukan-gula yang akan berpengaruh negatip terhadap proses pemurnian nira. Akibatnya nira jernih hasil pemurnian (proses sulfitasi) dari sebagian besar pabrik gula sulfitasi bermutu rendah, sehingga berpengaruh negatip terhadap efisiensi proses secara keseluruhan, atau perolehan gula menurun. Permasalahan ini akan didekati dengan aplikasi dolomit hidrat untuk peningkatan efisiensi stasiun pemurnian nira. Paket teknologi diharapkan dapat meningkatkan perolehan gula melalui peningkatan BHR (boiling house recovery, efisiensi pengolahan) minimal 2 poin atau secara nasional tambahan perolehan gula sebesar 50.000 ton per tahun, atau setara dengan produksi satu pabrik gula berkapasitas 5 000 TT/H, per musim giling.
Di samping itu untuk mengetahui pengaruh tercampurnya dolomit dan kapur pada saat aplikasi berlangsung terhadap kualitas hasil pemurnian telah dilakukan percobaan skala lab menggunakan dolomit – kapur di P3GI. Di P3GI pemberian dolomit – kapur dilakukan secara bertahap, setelah dolomit sampai pH 7,2 kemudian kapur sampai pH 10,5, atau sebaliknya. Hasilnya menunjukkan bahwa adanya dolomit, baik yang asli maupun yang dicampur atau bertahap dengan kapur, menghasilkan kecepatan pengendapan yang lebih cepat dan kadar CaO nira jernih yang lebih rendah dibanding kontrol.
Aplikasi dolomit hidrat untuk pemurnian nira skala pabrik telah dilakukan. Hasilnya menunjukan bahwa persyaratan kondisi operasional pemurnian optimal belum dapat dilakukan dengan baik. Kondisi operasional yang dipersyaratkan dan yang dicapai (di dalam kurung) adalah: suhu pemurnian nira 70 - 80 oC (70 – 80 oC), pH nira defekasi 10,0 – 10,5 (8,5 – 9,0), pH nira sulfitasi 7,2 – 7,4 (7,0 – 7,8), dosis flokulan 2,5 ppm (2,5 ppm) dan suhu pengendapan 100 – 105 oC (95 – 100 oC). Namun demikian dengan kondisi ini dapat dihasilkan kecepatan pengendapan 13 % lebih cepat, kadar CaO nira jernih 22 % lebih rendah dan BHR 2,0 – 5,3 poin lebih tinggi. Sehingga manfaat yang dapat diperoleh dari aplikasi dolomit adalah peningkatan produksi gula minimal 5,6 ton per hari giling (asumsi pol tebu 10 %, hasil pemerahan gula 90 % dan kapasitas giling 3000 TCD) atau peningkatan pendapatan minimal Rp. 16,8 juta per hari (asumsi harga gula Rp. 3 juta per ton). Jika beaya aplikasi sekitar Rp. 4,4 juta per hari giling, maka peningkatan pendapatan bersih per hari minimal Rp. 12,4 juta atau berarti Rp. 1,9 milyar per musim giling dapat diraup.
