Posts Tagged ‘blotong’

Rotary Vacuum Filter di Pabrik Gula

Tahap akhir dari proses pemurnian nira di pabrik gula adalah klarifikasi atau pengendapan. Pada proses ini nira yang sudah disulfitir (bereaksi dengan gas SO2) dialirkan ke bejana pengendapan (clarifier). Pada proses pengendapan ini dihasilkan nira jernih (clarified juice) dan nira kotor (mud juice). Nira kotor diproses lagi untuk dipisahkan antara zat padat dengan larutannya, sehingga dihasilkan nira tapis dan blotong. Sebelum tahun 1980 untuk memisahkan nira kotor pabrik gula menggunakan alat yang dinamakan filter press. Kekurangan dari alat ini adalah membutuhkan tenaga manusia yang relatif banyak dan kualitas blotongnya masih banyak mengandung gula (pol blotong > 2%). Sedangkan keuntungannya nira tapis yang dihasilkan kualitasnya bagus sehingga bisa langsung diproses di penguapan.

Semenjak pertengahan tahun 1980, pabrik gula beralih ke rotary vacuum filter untuk memisahkan nira tapis dengan blotong. Dengan menggunakan alat ini hanya membutuhkan sedikit tenaga (cukup 1-2 orang) dan pol blotong bisa ditekan sampai < 2 %, akan tetapi nira tapis yang dihasilkan kualitasnya jelek sehingga harus dimurnikan lagi (dikembalikan ke nira mentah) dimana menjadi beban bagi proses didepannya. Rotary Vacuum Filter terdiri dari silinder yang berputar pada sumbunya dan sebagian silinder ini terendam dalam bak nira kotor yang akan disaring. Bagian luar dari silinder yang berfungsi sebagai penyaring terdiri dari segmen-segmen. Masing-masing segmen dihubungkan secara individual ke suatu jaringan pipa  yang disebut thrill pipe yang berakhir pada suatu terminal yang disebut distributing valve atau timing block. Read the rest of this entry »

Share

Blotong dan Pemanfaatannya

Pada pemrosesan gula dari tebu menghasilkan limbah atau hasil samping, antara lain ampas, blotong dan tetes. Ampas berasal dari tebu yang digiling dan digunakan sebagai bahan bakar ketel uap, partikel board dan bahan baku kertas. Blotong atau filter cake adalah endapan dari nira kotor pada proses pemurnian nira yang di saring di rotary vacuum filter, sedangkan tetes merupakan sisa sirup terakhir dari masakan yang telah dipisahkan gulanya melalui kristalisasi berulangkali sehingga sulit menghasilkan kristal.

Rata-rata blotong dihasilkan sebanyak 3.8 % tebu atau sekitar 1.1 juta ton blotong per tahun (produksi tebu tahun 2011 sekitar 28 juta ton). Blotong dari PG Sulfitasi rata-rata berkadar air 67 % dan kadar pol 3 %. Komposisi blotong secara umum dapat dilihat pada tabel 1.

 Tabel 1. Komposisi dari blotong

Blotong merupakan limbah yang bermasalah bagi pabrik gula dan masyarakat karena blotong yang basah menimbulkan bau busuk. Oleh karena itu apabila blotong dapat dimanfaatkan akan mengurangi pencemaran lingkungan. Read the rest of this entry »

Share

Sugar Losses in Processing

Proses pembuatan gula kristal putih (plantation white sugar) terdiri dari berbagai tahap. Tahapan proses terdiri dari pemerahan di gilingan, pemurnian nira, penguapan, kristalisasi sampai proses sugar handling. Dari tahapan proses tersebut tentu ada beberapa kehilangan (losses) yang tidak dapat dihindari. Tugas dari seorang process engineer  adalah untuk meminimalkan losses sehingga gula kristal yang diperoleh semaksimal mungkin.

Secara garis besar losses pada proses pengolahan gula dapat dibagi menjadi tiga bagian :

  1. Determined losses
  2. Undetermined losses
  3. Hidden losses

Determined Losses

Determined losses atau kehilangan yang dapat dihitung melalui analisa adalah kehilangan di dalam ampas, blotong dan tetes. Pada proses pemerahan di gilingan tebu di perah menghasilkan nira mentah dan ampas. Nira mentah sebagai bahan baku proses pemurnian dan ampas adalah sisa hasil pemerahan. Di dalam ampas masih terdapat gula dan di laboratorium di analisa kadar pol nya. Kadar pol ampas dikatakan baik adalah 2 %. Apabila lebih dari 2 % dapat dikatakan terjadi kehilangan gula di ampas. Tugas dari bagian gilingan adalah untuk menekan kehilangan dalam ampas seminimal mungkin dengan setting gilingan, pressing, pemberian imbibisi dan kondisi operasional di gilingan yang optimal. Read the rest of this entry »

Share

Kehilangan Gula Pada Proses Pembuatan Gula

Proses pembuatan gula dari tebu melalui beberapa tahap dimulai dari lahan sampai ke emplasemen gilingan, mengesktrak nira di gilingan, pemurnian nira, penguapan, kristalisasi, puteran sampai pengepakan gula dalam karung. Dari berbagai tahap tersebut terjadi kehilangan gula dalam hal ini sukrosa sehingga jumlah sukrosa yang seharusnya bisa dikristalkan menjadi gula berkurang. Oleh karena itu sebenarnya Pabrik Gula bukanlah tempat untuk membuat gula, PG hanya berkewajiban untuk menyelamatkan gula (sukrosa) yang ada dalam tebu. Proses pembentukan sukrosa sendiri terjadi di lahan melalui proses fotosintesis. Penyebab kehilangan sukrosa dapat dikategorikan sebagai berikut :

  1. Karena zat kimia yaitu kondisi asam
  2. Kehilangan secara fisik
  3. Kehilangan yang disebabkan oleh mikroba

Langkah pertama pada proses pembuatan gula tebu adalah tahapan tebang angkut. Sebelum tebu ditebang kehilangan gula dapat disebabkan karena penyakit, hama, atau oleh cuaca. Setelah ditebang tebu akan mengalami kerusakan yang disebabkan oleh enzyme, bahan kimia dan mikroba. Enzim invertase yang terdapat pada tebu akan mengkonversi sukrosa menjadi gula reduksi (glukosa dan fruktosa) sehingga kemurnian dari nira berkurang. Kerusakan oleh mikroba disebabkan oleh bakteri Leuconostoc, dimana bakteri ini dapat menyebabkan terbentuknya dextran. Pembentukan dextran yang berlebihan akan menimbulkan kesulitan dalam proses. Oleh karena itu untuk mengurangi kehilangan gula selama tebang angkut, hendaknya proses tebang angkut dilakukan secara efisien sehingga tebu setelah ditebang dapat digiling secepatnya. Read the rest of this entry »

Share
Saran, Kritik, Ngobrol

Categories
Tweet
Sugar Research Fan Page