SUMBER PEMBENTUK WARNA KRISTAL GULA : Faktor Pabrik

Proses pengolahan gula terdiri beberapa tingkatan antara lain : eksktraksi, pemurnian, penguapan dan kristalisasi. Pada setiap tahapan proses terjadi reaksi baik fisika maupun kimia. Reaksi-reaksi tersebut akan berpengaruh terhadap degradasi warna nira dan bahan alur proses. Tabel 1 menunjukkan beberapa tipe zat warna yang terbentuk dalam tahapan proses pengolahan gula.

Tabel 1. Tipe Zat Pembentuk Warna Pada Berbagai Tahapan Proses Gula

  Bahan Ekstraksi Pemurnian Penguapan Kristalisasi
Produk Tebu Nira Nira Nira Kental Masakan, Stroop, tetes, gula
Alkalinitas Rendah Rendah Menengah Menengah
Suhu Menengah Tinggi Tinggi Menengah
Zat Warna CWP

Flavonoids

Phenolic

EBP*

Phenols-besi

HADP** Melanoidins

Non EBP***

Karamel

Melanoidins

Non EBP***

Karamel

*Enzymatic Browning Products

**Hexose Degradation

***Non Enzymatic Browning Products

Melanoidins

Melanoidins terbentuk karena reaksi antara komponen karbonil dan asam amino atau reaksi Maillard. Terbentuknya melanoidins umumnya di nira, dimana kecepatan reaksi nya rendah apabila brix nya rendah (Paton and McCowage, 1987). Pada kondisi brix meningkat dan dengan adanya panas kecepatan reaksi akan meningkat pula.

Karamel

Karamel terbentuk karena sukrosa yang terdegradasi oleh panas. Karamel terbentuk pada suhu tinggi, dimana pada sukrosa caramel mulai muncul pada suhu > 1850C (Ahari and Genetolle, 1961). Terbentuknya caramel lebih lama dibandingkan dengan melanoidins. Karamel biasanya terbentuk pada proses penguapan dan kristalisasi yang dilakukan pada brix dan suhu tinggi. Read the rest of this entry »

Share

SUMBER PEMBENTUK WARNA KRISTAL GULA : Faktor dari Tebu

Warna gula produk berasal dari warna bahan baku (tebu giling) dan dekomposisi kimia selama proses pembuatan gula berlangsung. Zat warna yang berasal dari tebu giling berupa turunan dari pigmen alami tanaman tebu antara lain chlorophyl, xanthophyl dan carotene. Turunan pigmen tersebut tidak larut dalam air. Sedangkan yang larut dalam air biasanya berasal dari senyawa polyphenol sebagai pembangkit warna sehingga warna nira berubah menjadi gelap. Zat warna yang terpenting pada tebu adalah senyawa fenolik dan flavonoid (Chen, 2002; Smith and Paton, 1985; Paton et al, 1985). Menurut beberapa penelitian yang dilakukan identifikasi warna dari gula terdiri dari asam humat, karamel, 5-HMF, melanoidin (Chen, 1971) dan asam-asam fenolat (Martoyo, 1986).

Tabel 1. Klasifikasi Zat Pembentuk Warna

  Bersumber dari Tebu Pembentukan Warna Selama Proses
Zat Warna Flavonoids

(polyphenols), anthocyanin, flavones, Melanins

Phenolics

(Benzoic, cyamic,, chlorogenic, gallic & cafeic acid)

Chlorphylis

Xanthrophylis

Carotene

Melanoidins HADPs Caramels
Hasil reaksi Oksidasi enzym Oksidasi/reaksi dengan besi menghasilkan warna Pigmen hijau, dihilangkan pada proses klarifikasi Produk reaksi Maillard Degradasi Hexos Alkaline Degradasi Sukrosa dan Gula Reduksi pada temperatur tinggi

Pigmen Tebu

Pigmen tebu sebagian besar terdiri dari clorophyl, xythophyle, sacharatin, tannins dan flavonoids. Pada pembuatan raw sugar, pigmen berpengaruh sebanyak dua pertiga dalam pembentukan warna (Smith and Paton, 1985). Pada penambahan kapur pigmen yang berwarna ungu/merah berubah menjadi hijau gelap (Mathur, 1984). Pigmen ini tidak stabil pada kondisi basa dan mudah terdekomposisi oleh panas. Pada umumnya pigmen akan dihilangkan pada proses klarifikasi, tapi sebagian kecil masih ditemukan pada warna gula.

Komponen Phenolic

Komponen phenolic dalam tanaman terbentuk sebagai ester. Komponen ester dalam tebu adalah asam chlorogenic dengan visual tidak berwarna hingga kuning. Komponen phenolic apabila kontak dengan permukaan yang mengandung besi akan meningkatkan intensitas warna karena absorpsi garam besi. Reaksinya membentuk warna gelap, reaksi ini terjadi terutama pada kondisi lingkungan asam.

Phenol mempunyai berat molekul tinggi, mudah larut dengan kadar anion rendah, maka senyawa ini sulit dihilangkan pada berbagai kondisi proses (Clarke et al, 1988). Selain itu dengan berat molekul tinggi senyawa ini akan meningkatkan viskositas bahan, memberikan kesulitan pada proses pencucian di sentrifugal, menurunkan efisiensi proses, meningkatkan konsumsi energi dan mempengaruhi kualitas gula produk  (Clarke et al, 1988). Read the rest of this entry »

Share

EFFECTS OF ANALYSIS METHOD IN PREDICTION CANE QUALITY USING NIR SPECTROSCOPY

ABSTRACT

NIR spectroscopy is a secondary method that can be used to predict the quality of a raw material. Analysis of sugar cane quality takes 2 hours; the use of NIR is expected to shorten the analysis time. In this study, NIR is used to predict three parameters of cane quality (pol%cane, brix% cane and fibre%cane) with two different analytical methods. The material for research was a 10 month Bululawang (BL) variety. Sugarcane was shredded using a JEFFCO cutter grinder, and then the samples of shredded cane are separated for conventional analysis and NIR. Conventional analysis using wet disintegrator and hydraulic press method. The same cane samples were measured at wavelength 700 – 2500 nm using NIR FOSS XDS RCA. Pretreatment of NIRS absorbance using Mahalanobis distance. The calibration model uses the partial least square (PLS) regression method. The NIR results were evaluated from high correlation coefficient (r2), low standard calibration (SEC) and high ratio of prediction to deviation (RPD). The experimental results show that the wet disintegrator method produces a better NIR calibration model than the hydraulic press method. The NIR evaluation of wet disintegrator method for pol%cane, r2 = 0,937, SEC = 0,459, SECV = 0,127, SEP = 0,516 and RPD = 3,119. Brix %cane, r2 = 0,905, SEC = 0,481, SECV = 0,117, SEP = 0,670  and RPD = 2,080. Fibre%cane, r2 =  0,783, SEC = 0,999 , SECV = 2,466, SEP = 1,396 and RPD = 1,267. NIR calibration for  pol%cane and brix%cane shows a good result, while the fibre%cane need to be improved. From the results of these experiments can be used as a basis for the development of NIR calibration models to analyze different cane varieties.

Keywords— NIR Spectroscopy, cane quality, NIR prediction, pol%cane     

Share

RUMUSAN FGD SNI GKP

Tanggal 9 September 2017 diadakan Focus Group Discussion berkaitan dengan evaluasi SNI GKP wajib dengan tema “Penguatan Pabrik Gula Berbasis Tebu Dalam Perlindungan Konsumen Dan Peningkatan Kesejahteraan Petani.” FGD diadakan oleh P3GI bekerjasama dengan LPP bertempat di Yogyakarta. Rumusan FGD sebagai berikut :

  1. Permasalahan yang dihadapi industri gula adalah potensi rendemen dan produktivitas tebu petani yang masih rendah , dibutuhkannya penguatan transparansi dalam penetapan rendemen berbasis Analisa Rendemen Individu (ARI); mutu gula yang dihasilkan oleh PG berbasis tebu masih fluktuatif dan belum semuanya sesuai standar (SNI GKP); industri hilir berbasis tebu (diversifikasi) belum terintegrasi dengan PG; kebijakan terkait GKP dan GKR harus menguatkan pertumbuhan pabrik gula berbasis tebu dan peningkatan kesejahteraan petani, serta mencegah intersection pasar antara PG GKP dan GKR.
  1. Arah kebijakan pengembangan industri gula difokuskan pada peningkatan produksi dengan sasaran PG-PG eksisting , pembangunan PG baru di Pulau Jawa maupun di Luar Pulau Jawa serta PG Rafinasi. Pembangunan PG baru seharusnya terintegrasi dengan perkebunan tebunya. Kebijakan PG Rafinasi yang harus memiliki perkebunan tebu harus diterapkan secara konsisten.
  1. Sebagian besar PG di Indonesia menggunakan bahan baku tebu dengan proses Sulfitasi ganda untuk memproduksi Gula Kristal Putih. Gula produk dari proses ini rentan terhadap degradasi kualitas, khususnya kenaikan warna larutan selama penyimpanan, terlebih bila gudang penyimpannya tidak memenuhi standar. Diperlukan review dalam SNI GKP untuk mengakomodasi permasalahan peningkatan warna larutan ( ICUMSA ) selama penyimpanan dan distribusi di tingkat pasar. Oleh karena itu dalam forum ini diusulkan untuk dilakukan revisi dan penyempurnaan SNI GKP 3140.3 : 2010. Usulan revisi dan penyempurnaan SNI antara lain : sebagai berikut :

Read the rest of this entry »

Share
Saran, Kritik, Ngobrol

Categories
Tweet
Sugar Research Fan Page