Archive for the ‘Sugar Technology’ Category

Gula selain dikonsumsi langsung juga digunakan sebagai bahan baku untuk industri makanan. Pada saat ini kebanyakan pabrik gula di Indonesia hanya mampu menghasilkan gula kualitas GKP (gula kristal putih) yang dikonsumsi langsung. Gula SHS ini masih belum memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan baku industri makanan. Untuk itu industri makanan membutuhkan kualitas gula yang lebih baik yang diperoleh dari gula rafinasi. Kata rafinasi diambil dari kata refinery artinya menyuling, menyaring, membersihkan. Jadi bisa dikatakan bahwa gula rafinasi adalah gula yang mempunyai kualitas kemurnian yang tinggi.

Proses Pembuatan Gula Rafinasi

Proses rafinasi yang digunakan dalam pabrik gula rafinasi bervariasi tergantung pada bahan yang diolah produk yang dikehendaki dan pertimbangan lain sesuai kondisi lokal. Namun demikian secara garis besar dapat diuraikan menjadi stasiun sebagai berikut :

Read the rest of this entry »

Oleh :
Ir. Sunantyo, MT, APU.
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI)
Jalan Pahlawan No. 25 Pasuruan

Pendahuluan

Kualitas tebu atau bahan baku pabrik gula tetap menjadi perhatian para pelaku industri gula baik dari kalangan praktisi ataupun penelitian dan masih menarik untuk ditinjau ulang. Pada tahun 1920 Winter membahas masalah tiap bagian bukan gula yang terkandung dalam tebu giling masuk ke pabrik gula untuk diolah dan keluar membawa 0.4 bagian gula. Tahun 1933 Demand mengemukakan hasil penelitiannya tentang hasil hablur yang lebih tinggi 12 % bila menggiling tebu bebas sogolan. (21) Sedangkan pada tahun 1990 an keatas banyak makalah yang membahas masalah kualitas bahan baku tebu dengan segala dampaknya, yaitu sejak tebu di lokasi tebangan sampai masalah viskositas masakan akhir D meningkat karena kualitas bahan baku (tebu) yang belum BSM(15). BSM yaitu istilah yang popular dikalangan pelaku industri gula yang merupakan singkatan dari : bersih, segar dan manis.

Yang dimaksud dengan tebu bersih adalah tebu dalam keadaan bersih dari kotoran yang berupa akar, tanah, daduk, pucuk tebu dan sogolan. Tebu segar adalah tebu pada saat tebang dalam kondisi sehat dan segar tidak terserang hama/penyakit, tidak kering, tidak terbakar dan setelah ditebang langsung digiling. Sedangkan tebu manis adalah tebu dalam kondisi masak optimal, tidak layu atau kekeringan(13).

Menggiling Tebu Bersih

Para peneliti terdahulu mempunyai perhatian yang sama mengenai kualitas bahan baku yang diolah pabrik gula. Apabila gula yang terdapat dalam batang tebu sedikit, maka sedikit pula gula yang dikeluarkan atau yang dapat diambil dari batang tebu tersebut. Kotoran tebu tidak mengandung gula, tetapi apabila kotoran tebu tersebut tergiling bersama dengan tebu, maka kotoran akan keluar bersama dengan ampas dan dapat mengandung gula. Suatu keuntungan menggiling tebu bersih adalah kehilangan gula yang terbawa oleh ampas rendah (gambar 1). Demikian pula menurut Mayoral, J.E. et.al(1965) kehilangan gula dalam ampas dengan menggiling tebu 100.000 ton yang kandungan kotoran tebunya 3 %, kehilangan gula dalam ampas sebanyak 53.6 ton dan yang kandungan kotoran tebunya mencapai 17 % tebu kehilangan gula dalam ampas meningkat menjadi 303.1 ton gula(8). Read the rest of this entry »

By :

By R.K Goyal, Rajesh Khosla, Pravin Goel
Jindal Stainless Limited

Corrosion of sugar manufacturing equipment has been among the most important concern of the plant operation in the sugar industry. Stainless steel has emerged as the most suitable material for overcoming most of the problems associated with the sugar industry. This paper is an attempt to explore the various application in the industry with a view to minimizing the life cycle costs for the industry.

What are Stainless Steels
Stainless steels grades are essentially alloys of iron with more than 11% of Chromium These grades may contain additional elements like nickel, manganese, carbon, nitrogen, silicon, etc. They can further be modified for special purposes by addition of molybdenum, titanium, niobium, silicon, sulphur, etc. A wide range of these grades have been developed based on specific requirements. These are classified into following categories based on their microstructure:

Corrosion in Sugar Industry
Most of the equipment is made in Sugar industry from Mild steel. This has resulted in the corrosion becoming a major factor to be addressed in the Sugar industry. Color in sugar due to Iron Oxide: In India, plantation white sugar is manufactured, where, generally no further refining is carried out. Therefore it is important to minimize color imparting impurities (corrosion) in the process equipment. It is estimated that about 20-25 kg equivalent of Fe2O3 is mixed in the juice for every 1000 tones of Cane processed through sulphitation process. (Source: P Honig, Principles of Sugar Technology Part-I). Due to this corrosion, the color of juice darkens resulting in loss of whiteness. Read the rest of this entry »

Oleh :
B.E. SANTOSO dan MARTOYO

Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
Jl. Pahlawan No. 25 Pasuruan 67126

ABSTRAK

Pada kesetimbangan proses pembuatan gula dari tebu, di stasiun gilingan dikenal istilah air tebu bebas brix dan di stasiun pengolahan dikenal istilah faktor pol yang tidak dapat mengkristal. Air tebu bebas brix = 100 - kadar nira tebu - kadar sabut tebu. Faktor pol yang tidak dapat mengkristal = (Pol tebu - Rendemen) : (Brix tebu - Pol tebu). Rumus ini adalah rumus dasar yang digunakan pada umumnya untuk mengontrol proses pembuatan gula. Untuk pabrik gula yang mengolah tebu dengan kualitas standar dan efisiensi pabrik standar, air tebu bebas brix = 3 % tebu dan faktor pol yang tidak dapat mengkristal = 0,5. Ingin diketahui sebenarnya seberapa besar air tebu bebas brix dan faktor pol yang tidak dapat mengkristal untuk pabrik gula di Indonesia kaitannya dengan kualitas tebu dan kondisi pabrik di Indonesia pada saat ini. Pada tahun 1997 s.d. 2003 telah dilakukan uji kinerja pabrik di 9 pabrik gula di Jawa dan Sumatera masing-masing selama 5 - 6 hari efektif sehingga keseluruhannya terdapat 60 pasang data harian. Data yang dihasilkan antara lain: Pol nira perahan pertama (npp), brix npp, pol tebu, brix tebu, sabut tebu dan rendemen. Dari data tersebut dihitung air tebu bebas brix dan faktor pol yang tidak dapat mengkristal. Hasilnya menunjukkan bahwa air tebu bebas brix untuk pabrik gula tersebut berkisar antara 0,3 s.d. 7,7; kuartil bawah 1,3; median 2,4; kuartil atas 3,7 atau rata-rata 2,7 dengan simpangan baku 1,8. Angka ini tidak begitu berbeda dengan standar air tebu bebas brix. Sedangkan faktor pol yang tidak dapat mengkristal berkisar antara 0,47 s.d. 1,18; kuartil bawah 0,63; median 0,76; kuartil atas 0,90 atau rata-rata 0,78 dengan simpangan baku 0,17. Angka ini berbeda dan lebih tinggi daripada standar faktor pol yang tidak dapat mengkristal. Hal ini menunjukkan bahwa gula yang tidak dapat dikristalkan tinggi disebabkan oleh kualitas tebu dan efesiensi pabrik yang rendah (kemurnian npp rendah = 75,50 %; rekoveri total rendah = 67,59 %). Air tebu bebas brix dan faktor pol yang tidak dapat mengkristal bermanfaat untuk memformulasikan rumus rendemen empirik yang komponennya berdasarkan pol npp (P), brix npp (B) dan sabut tebu (S) yaitu rendemen = 1,78 P . [ { 100 - ( S + 8 ) : 100 ] - 0,78 B . [ (100 - (S + 3 ) : 100 ].

Kata kunci: Air tebu bebas brix, pol yang tidak dapat mengkristal, uji kinerja pabrik. Read the rest of this entry »