Archive for the ‘Sugar Processing’ Category
Pemurnian Nira di Pabrik Gula
Salah satu tahap dari pembuatan gula adalah proses pemurnian. Pada proses pemurnian, zat bukan gula yang terdapat dalam gula dihilangkan dengan cara kimia. Bahan baku dari proses pemurnian adalah nira mentah (raw juice). Nira mentah mengandung sukrosa, gula invert (glukosa+fruktosa), atom-atom (Ca,Fe,Mg,Al) yang terikat pada asam-asam, asam organik dan an organik, zat warna, lilin, asam-asam kieselgur yang mudah mengikat besi, aluminium, dan sebagainya.
Seperti hal nya suatu reaksi kimia, untuk mencapai keberhasilan dalam reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Parameter utama yang dapat mempengaruhi proses pemurnian nira adalah pH, suhu dan waktu. pH dari nira selama proses berpengaruh terhadap sukrosa yang terdapat dalam nira.
|
pH |
Sukrosa |
Glukosa + Fruktosa |
|
7 |
Tidak terjadi inversi (aman) | Tidak terjadi degradasi (aman) |
|
< 7 |
Inversi menjadi gula reduksi | Aman |
|
> 7 |
Aman | Terbentuk zat warna dan asam organik. |
Sugar Losses in Processing
Proses pembuatan gula kristal putih (plantation white sugar) terdiri dari berbagai tahap. Tahapan proses terdiri dari pemerahan di gilingan, pemurnian nira, penguapan, kristalisasi sampai proses sugar handling. Dari tahapan proses tersebut tentu ada beberapa kehilangan (losses) yang tidak dapat dihindari. Tugas dari seorang process engineer adalah untuk meminimalkan losses sehingga gula kristal yang diperoleh semaksimal mungkin.
Secara garis besar losses pada proses pengolahan gula dapat dibagi menjadi tiga bagian :
- Determined losses
- Undetermined losses
- Hidden losses
Determined Losses
Determined losses atau kehilangan yang dapat dihitung melalui analisa adalah kehilangan di dalam ampas, blotong dan tetes. Pada proses pemerahan di gilingan tebu di perah menghasilkan nira mentah dan ampas. Nira mentah sebagai bahan baku proses pemurnian dan ampas adalah sisa hasil pemerahan. Di dalam ampas masih terdapat gula dan di laboratorium di analisa kadar pol nya. Kadar pol ampas dikatakan baik adalah 2 %. Apabila lebih dari 2 % dapat dikatakan terjadi kehilangan gula di ampas. Tugas dari bagian gilingan adalah untuk menekan kehilangan dalam ampas seminimal mungkin dengan setting gilingan, pressing, pemberian imbibisi dan kondisi operasional di gilingan yang optimal. Read the rest of this entry »
Kehilangan Gula Pada Proses Pembuatan Gula
Proses pembuatan gula dari tebu melalui beberapa tahap dimulai dari lahan sampai ke emplasemen gilingan, mengesktrak nira di gilingan, pemurnian nira, penguapan, kristalisasi, puteran sampai pengepakan gula dalam karung. Dari berbagai tahap tersebut terjadi kehilangan gula dalam hal ini sukrosa sehingga jumlah sukrosa yang seharusnya bisa dikristalkan menjadi gula berkurang. Oleh karena itu sebenarnya Pabrik Gula bukanlah tempat untuk membuat gula, PG hanya berkewajiban untuk menyelamatkan gula (sukrosa) yang ada dalam tebu. Proses pembentukan sukrosa sendiri terjadi di lahan melalui proses fotosintesis. Penyebab kehilangan sukrosa dapat dikategorikan sebagai berikut :
- Karena zat kimia yaitu kondisi asam
- Kehilangan secara fisik
- Kehilangan yang disebabkan oleh mikroba
Langkah pertama pada proses pembuatan gula tebu adalah tahapan tebang angkut. Sebelum tebu ditebang kehilangan gula dapat disebabkan karena penyakit, hama, atau oleh cuaca. Setelah ditebang tebu akan mengalami kerusakan yang disebabkan oleh enzyme, bahan kimia dan mikroba. Enzim invertase yang terdapat pada tebu akan mengkonversi sukrosa menjadi gula reduksi (glukosa dan fruktosa) sehingga kemurnian dari nira berkurang. Kerusakan oleh mikroba disebabkan oleh bakteri Leuconostoc, dimana bakteri ini dapat menyebabkan terbentuknya dextran. Pembentukan dextran yang berlebihan akan menimbulkan kesulitan dalam proses. Oleh karena itu untuk mengurangi kehilangan gula selama tebang angkut, hendaknya proses tebang angkut dilakukan secara efisien sehingga tebu setelah ditebang dapat digiling secepatnya. Read the rest of this entry »
Komposisi Nira Tebu dan Pengaruhnya dalam Proses Pengolahan Gula
Tebu (Saccharum officinarum) merupakan tanaman penghasil gula yang telah lama dibudidayakan di Indonesia khususnya Pulau Jawa. Gula Kristal yang kita konsumsi diproses dari sukrosa yang terbentuk di batang tebu. Kadar sukrosa yang ada dalam batang tebu bervariasi antara 8 – 13 % pada tebu segar yang mencapai kemasakan optimal. Sukrosa adalah senyawa disakarida dengan rumus molekul C12H22O11. Sukrosa terbentuk melalui proses fotosintesis yang ada pada tumbuh-tumbuhan. Pada proses tersebut terjadi interaksi antara karbon dioksida dengan air didalam sel yang mengandung klorofil. Bentuk sederhana dari persamaan tersebut adalah :
6 CO2 + 6 H2O —–> C6H12O6 + 6 O2
Gula tebu adalah disakarida, gula tersebut dapat dibuat dari gabungan dua gula yang sederhana yaitu glukosa dan fruktosa (monosakarida). Penggabungan dari dobel unit karbon monosakarida menjadi : C12H22O11 yang selanjutnya dinamakan sukrosa atau saccharose. Selain sukrosa didalam batang tebu terdapat zat-zat lain. Dalam proses produksi gula zat – zat ini harus dihilangkan sehingga dihasilkan gula yang berkualitas. Berikut adalah komponen nira tebu berdasarkan zat yang terlarut.
|
Komposisi Nira Tebu |
% Zat terlarut |
|
Gula Sukrosa Glukosa Fruktosa Garam Asam Organik Protein Starch / Pati Gums Zat lilin Zat warna dan komponen minor
|
75 – 92 70 – 88 2.0 – 4.0 2.0 – 4.0 3.0 – 4.5 1.5 – 5.5 0.5 – 0.6 0.001 – 0.05 0.3 – 0.6 0.05 – 0.15 3.0 – 5.0 |
sumber : “Principle of Sugar Technology”, P. Honig
Sukrosa merupakan komponen terbesar pada zat yang terlarut dalam nira. Pada kondisi larutan dengan brix rendah dapat mengalami dekomposisi oleh berbagai sebab : Read the rest of this entry »

