Archive for the ‘Sugar Processing’ Category

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENURUNAN KUALITAS GULA KRISTAL SELAMA PROSES PENYIMPANAN

Seiring dengan naiknya kualitas hidup masyarakat, setiap konsumen menginginkan produk yang berkualitas dan sesuai dengan standar mutu. Gula sebagai salah satu kebutuhan pokok juga harus memenuhi standar mutu nasional (SNI) yang telah ditetapkan. Gula kristal setelah keluar dari proses di pabrik tidak langsung disalurkan ke konsumen. Kebanyakan pabrik gula di Indonesia mengemas gula kristal dalam bentuk karung dengan berat 50 kg. Gula ini disimpan dalam gudang pabrik untuk jangka waktu tertentu sebelum di salurkan ke konsumen. Selama proses penyimpanan gula akan mengalami degradasi kualitas bahkan bisa mengalami kerusakan apabila kondisi dari gudang dan kualitas gula tidak sesuai dengan standar.

Ketahanan gula selama proses penyimpanan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Selain karena pengaruh kondisi gudang penyimpanan, kemasan yang digunakan juga dari kualitas gula kristal yang diproduksi pabrik gula. Penggumpalan (caking ) selama proses penyimpanan merupakan suatu kondisi spontan dimana terjadi perbedaan kelembaban antara kristal gula dengan lingkungannya (Chitpraset dkk, 2006, Billings, 2005, Roge dan Mahlouti, 2003). Penurunan kualitas gula selama proses penyimpanan di gudang dipengaruhi oleh :

  1. Ukuran partikel kristal yang kecil dan tidak rata. tidak ada kristal konglomerat karena dapat menimbulkan rongga-rongga yang terisi lapisan molases sehingga berpotensi menjadi tempat tumbuhnya mikroorganisme.
  2. Kadar kotoran yang tinggi, contohnya kandungan gula reduksi yang tinggi yang berperan dalam sifat higroskopis gula kristal.
  3. Jumlah zat tak terlarut seperti partikel bagasilo dan kotoran lain yang menempel pada permukaan kristal gula. Zat tak larut dapat membawa air dan tempat tumbuhnya mikroorganisme.
  4. Kadar air gula kristal yang tinggi pada saat di packing. air yang terdapat dalam lapisan tetes pada permukaan kristal menyebabkan tekanan osmosa tinggi pada tetes dimana kondisi ini dapat menghambat propagasi mikroorganisme penyebab kerusakan gula.
  5. Kelembaban atmosfer (relative humidityi) yang tinggi. Read the rest of this entry »
Share

Rotary Vacuum Filter di Pabrik Gula

Tahap akhir dari proses pemurnian nira di pabrik gula adalah klarifikasi atau pengendapan. Pada proses ini nira yang sudah disulfitir (bereaksi dengan gas SO2) dialirkan ke bejana pengendapan (clarifier). Pada proses pengendapan ini dihasilkan nira jernih (clarified juice) dan nira kotor (mud juice). Nira kotor diproses lagi untuk dipisahkan antara zat padat dengan larutannya, sehingga dihasilkan nira tapis dan blotong. Sebelum tahun 1980 untuk memisahkan nira kotor pabrik gula menggunakan alat yang dinamakan filter press. Kekurangan dari alat ini adalah membutuhkan tenaga manusia yang relatif banyak dan kualitas blotongnya masih banyak mengandung gula (pol blotong > 2%). Sedangkan keuntungannya nira tapis yang dihasilkan kualitasnya bagus sehingga bisa langsung diproses di penguapan.

Semenjak pertengahan tahun 1980, pabrik gula beralih ke rotary vacuum filter untuk memisahkan nira tapis dengan blotong. Dengan menggunakan alat ini hanya membutuhkan sedikit tenaga (cukup 1-2 orang) dan pol blotong bisa ditekan sampai < 2 %, akan tetapi nira tapis yang dihasilkan kualitasnya jelek sehingga harus dimurnikan lagi (dikembalikan ke nira mentah) dimana menjadi beban bagi proses didepannya. Rotary Vacuum Filter terdiri dari silinder yang berputar pada sumbunya dan sebagian silinder ini terendam dalam bak nira kotor yang akan disaring. Bagian luar dari silinder yang berfungsi sebagai penyaring terdiri dari segmen-segmen. Masing-masing segmen dihubungkan secara individual ke suatu jaringan pipa¬† yang disebut thrill pipe yang berakhir pada suatu terminal yang disebut distributing valve atau timing block. Read the rest of this entry »

Share

Kehilangan Gula (Sukrosa) di Evaporator

Pengolahan gula dari tebu atau bahan pemanis lain melalui beberapa tahap proses. Secara umum tahap pengolahan tebu hingga menjadi gula adalah gilingan, pemurnian, penguapan, kristalisasi, centrifugasi dan sugar handling. Gula yang terkandung dalam batang tebu terdiri dari berbagai jenis, yaitu sukrosa (disakarida), glukosa dan fruktosa (monosakarida) dan polisakarida. Gula produk dari suatu PG hampir 99 % merupakan sukrosa. Suatu pabrik gula dikatakan efisien apabila dapat menekan kehilangan gula (sukrosa) seminimal mungkin dari proses pengolahan tebu menjadi gula kristal. Tentu tidak 100 % sukrosa yang terdapat dalam batang tebu dapat dikonversi menjadi gula produk. Dalam tahap pengolahan tersebut terdapat kehilangan sukrosa. Salah satu pos utama dalam kehilangan sukrosa adalah di Evaporator.

Kehilangan sukrosa di evaporator (pre evaporator + quadruple effect) sekitar 0,02 % sampai maksimum 0,2 % (Honig, 1963). Purchase, dkk (1987) melakukan perhitungan kehilangan sukrosa dengan menganalisa rasio glukosa / sukrosa pada quintuple effect evaporator. Dari hasil percobaannya diukur bahwa kehilangan total sukrosa dalam quintuple evaporator sebesar 0.68 %. Sedangkan Edye dan Clarke (1995) dengan konsep yang sama menyatakan bahwa total kehilangan sukrosa dalam evaporator sebesar 1,39 %.

Sumber-sumber kehilangan sukrosa di evaporator

Suhu operasional tinggi
Sukrosa akan mengalami kerusakan pada suhu > 120 0C, terutama pada badan pertama atau pre evaporator. Dengan kadar brix yang masih tinggi, operasional dengan suhu tinggi menyebabkan inversi dari sukrosa dan perubahan warna. Panpae, dkk (2008) menyatakan bahwa suhu, pH dan kandungan zat padat dari nira berpengaruh terhadap kehilangan sukrosa. Read the rest of this entry »

Share

Pemurnian Nira di Pabrik Gula

Salah satu tahap dari pembuatan gula adalah proses pemurnian. Pada proses pemurnian, zat bukan gula yang terdapat dalam gula dihilangkan dengan cara kimia. Bahan baku dari proses pemurnian adalah nira mentah (raw juice). Nira mentah mengandung sukrosa, gula invert (glukosa+fruktosa), atom-atom (Ca,Fe,Mg,Al) yang terikat pada asam-asam, asam organik dan an organik, zat warna, lilin, asam-asam kieselgur yang mudah mengikat besi, aluminium, dan sebagainya.

Seperti hal nya suatu reaksi kimia, untuk mencapai keberhasilan dalam reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor.  Parameter utama yang dapat mempengaruhi proses pemurnian nira adalah pH, suhu dan waktu. pH dari nira selama proses berpengaruh terhadap sukrosa yang terdapat dalam nira.

pH

Sukrosa

Glukosa + Fruktosa

7

Tidak terjadi inversi (aman) Tidak terjadi degradasi (aman)

< 7

Inversi menjadi gula reduksi Aman

> 7

Aman Terbentuk zat warna dan asam organik.

Skema Proses Pemurnian Nira

Read the rest of this entry »

Share
Saran, Kritik, Ngobrol

Categories
Tweet
Sugar Research Fan Page