Archive for the ‘Sugar Analysis’ Category
Sukrosa ialah gula kristal yang manis rasanya, dibuat dari tebu atau beet, mempunyai rumus kimia C12H22O11, mempunyai sifat aktif optik (memutar bidang polarisasi). Dengan adanya sifat ini maka kadar gula (sukrosa, atau zat aktif optik lainnya) dalam suatu larutan gula dapat ditentukan kadarnya dengan cara polarisasi. [Catatan: Pada panjang gelombang 589,44 nm (sinar Natrium), larutan sukrosa dengan konsentrasi 26,00 sukrosa per 100 ml larutan pada suhu 20,0 oC dan ketebalan larutan 2 dm memutar bidang polarisasi sebesar 34,620 derajat busur].
Polarisasi atau pol didefinisikan sebagai jumlah gula (gram) yang terlarut dalam 100 gram larutan yang mempunyai kesamaan putaran optik dengan sukrosa murni terlarut dalam air. Alat yang digunakan untuk mengukur pol suatu larutan gula dinamakan polarimeter atau sakarimeter. Satuan polarisasi ialah oS (sugar scale, skala gula).
Pengukuran pol dengan polarimeter didasarkan pada putaran optik larutan sukrosa di mana penunjukkan angka 100 oS pada polarimeter didapat dari mengukur larutan sukrosa murni yang mengandung 26,00 g sukrosa setiap 100 ml larutan. Pengukuran ini dilakukan pada panjang gelombang 589,44 nm pada suhu pengukuran 20 oC panjang tabung 2 dm.
Perhitungan Kadar Pol dan Sukrosa :
http://www.ziddu.com/download/5017490/POLDANSUKROSA.pdf.html
Tebu adalah tanaman sejenis rumuput-rumputan yang di dalam batangnya banyak mangandung gula, berdiameter 2 - 4 cm dan panjang 2 - 4 meter. Secara utuh, tebu terdiri dari daun, pucuk, batang, bongkotan dan akar. Di pabrik gula; daun, pucuk dan akar disebut kotoran tebu, sedangkan bongkotan yang masih tertanam di tanah dimanfaatkan lagi untuk diambil sebagai bahan baku (bibit) tebu keprasan. Batang tebu yang berdiameter 2 - 4 cm dan panjang 2 - 4 meter. Batang tebu adalah tebu yang bebas dari daun atau klaras, pucukan (40 cm ke atas dari titik tumbuh), bongkotan (20 cm ke atas dari akar paling bawah) dan akar. Di dalam batang tebu inilah terkandung paling banyak gula tebu, khsusnya sukrosa (C11H22O11). Batang tebu disebut juga tebu layak giling, dan untuk selanjutnya batang tebu disebut: tebu.
Secara khusus, tebu segar dan tepat masak terdiri dari nira tebu (73 - 83 % tebu) dan sabut tebu (12 - 20 % tebu). Di dalam nira tebu terdiri dari brix atau zat padat terlarut (10 - 15 % tebu) dan air tebu (65 - 75 % tebu). Di dalam brix tebu terdiri dari gula tebu atau sukrosa (9,5 - 14,3 % tebu) dan bukan gula (0,5 - 0,8 % tebu).
Brix
Brix ialah zat padat kering terlarut dalam suatu larutan (gram per 100 gram larutan) yang dihitung sebagai sukrosa. Zat yang terlarut seperti gula (sukrosa, glukosa, fruktosa, dan lain-lain), atau garam-garam klorida atau sulfat dari kalium, natrium, kalsium, dan lain-lain merespon dirinya sebagai brix dan dihitung setara dengan sukrosa.
Perhitungan Brix :
http://www.ziddu.com/download/5017518/brix.pdf.html
Tabel Koreksi Brix :
http://www.ziddu.com/download/5017570/TABELBRIX.pdf.html
ABSTRAK
Nira tebu yang segar kemurnian sukrosanya tinggi, kemudian akan mengalami penurunan mutu jika disimpan cukup lama, lebih-lebih tanpa ditambahkan bahan pengawet. Nira menjadi keruh, berwarna lebih pekat dan berbau akibat dari perkembang-biakan mirkoba di dalam nira. Di pabrik gula, biasanya terjadi pada saat pabrik berhenti giling yang cukup lama, terutama nira-nira yang encer yang terdapat di peti-peti tunggu (brix < 25 %). Pengukuran kadar gula (sukrosa) secara polarimetris terhadap nira semacam ini cukup sulit, dengan bahan penjernih yang ada nira tidak dapat dijernihkan sehingga tidak dapat dibaca dengan polarimeter. Untuk itu dilakukan suatu percobaan menentukan kadar sukrosa dalam nira yang rusak tersebut. Penentuan kadar sukrosa dilakukan secara polarimetris (polarisasi ganda) dan secara titrasi (reduksi ganda) terhadap nira segar dan nira rusak (nira yang telah disimpan terbuka selama ± 24 jam pada suhu kamar tanpa ditambahkan bahan pengawet). Hasil percobaan menunjukkan bahwa kadar sukrosa dalam nira segar dapat ditentukan dengan cara polarimetris dan cara titrasi, karena kadar sukrosa yang dihasilkan dengan kedua cara tersebut tidak berbeda. Sedangkan kadar sukrosa dalam nira yang rusak pada umumnya tidak dapat ditentukan dengan cara polarimetris, tetapi secara titrasi dapat ditentukan dengan baik dan sukses. Dengan demikian kadar sukrosa dalam nira yang rusak mutunya akibat penyimpanan yang cukup lama dapat ditentukan secara titrasi (reduksi ganda). Hal ini cukup bermanfaat bagi para praktisi pabrik gula dalam mengambil keputusan apakah nira tersebut layak untuk diproses lebih lanjut atau dibuang saja.
Kata kunci: kadar sukrosa, nira rusak, pol ganda, reduksi ganda.
Dalam industri gula dikenal istilah-istilah pol, brix dan HK (hasil bagi kemurnian). Istilah-istilah ini muncul dalam analisa gula, baik dari nira sampai menjadi gula kristal. Nira tebu pada dasarnya terdiri dari dua zat yaitu zat padat terlarut dan air. Zat padat yang terlarut ini terdiri dari dua zat lagi yaitu gula dan bukan gula. Berikut skema bagian-bagian dari nira.

Baik buruknya kualitas nira tergantung dari banyaknya jumlah gula yang terdapat dalam nira. Sekarang bagaimanakah caranya menghitung gula yang terkandung dalam nira tebu tersebut ?
DERAJAT BRIX
Brix adalah jumlah zat padat semu yang larut (dalam gr) setiap 100 gr larutan. Jadi misalnya brix nira = 16, artinya bahwa dari 100 gram nira, 16 gram merupakan zat padat terlarut dan 84 gram adalah air. Untuk mengetahui banyaknya zat padat yang terlarut dalam larutan (brix) diperlukan suatu alat ukur. Read the rest of this entry »
