Archive for the ‘Pemurnian’ Category
Abstrak
Nira jernih hasil proses pemurnian nira cara sulfitasi masih berkualitas rendah. Penyebabnya antara lain tebu yang diolah berkualitas rendah, ditengarai dengan kadar total CaO nira jernih tinggi, > 1000 ppm. Kadar CaO nira jernih yang tinggi menyebabkan deposit kerak pada dinding bejana penguapan, menurunnya koefisien perpindahan panas sehingga pemakaian energi dalam proses menjadi boros. Telah dilakukan percobaan pemurnian nira skala laboratorium dengan membubuhkan amonium oksalat ke dalam proses pemurnian nira tebu cara sulfitasi. Tujuan utama percobaan ini adalah untuk menurunkan kadar total CaO ke tingkat minimal, akan tetapi harus mempertimbangkan pula kualitas nira yang dihasilkan yaitu sesuai dengan kaidah-kaidah proses pemurnian nira dan kemungkinan terapannya di pabrik gula. Rancangan percobaan yang digunakan rancangan blok acak lengkap. Variabel yang diamati : 1. Letak pembubuhan oksalat (sebelum dan sesudah proses pengendapan); 2. pH nira tersulfitasi pada saat pembubuhan oksalat (pH 7, 8 dan 9); dan 3. Konsentrasi oksalat yang dibubuhkan (0, 2000, 4000 dan 6000 ppm amonium oksalat). Kualitas nira jernih yang diamati: kemurnian nira (HK pol), kadar total CaO, warna dan kekeruhan. Hasil percobaan menunjukkan : 1. Pengaruh letak pembubuhan oksalat terhadap kemurnian dan kadar total CaO nira jernih tidak signifikan, sedangkan terhadap warna dan kekeruhan nira jernih signifikan. Warna nira jernih pada pembubuhan oksalat sesudah proses pengendapan (12843 IU) lebih rendah dibanding sebelum proses pengendapan (13927 IU), akan tetapi kekeruhan sesudah proses pengendapan (216 ppm SiO2) lebih tinggi dibanding sebelum proses pengendapan (44 ppm SiO2). 2. Pengaruh pH nira tersulfitasi pada saat pembubuhan oksalat terhadap kemurnian dan kadar total CaO nira jernih tidak signifikan, sedangkan terhadap warna dan kekeruhan nira jernih signifikan. Warna nira jernih pada pH nira tersulfitasi 7 (13936 IU) tidak berbeda dengan warna nira jernih pada pH nira tersulfitasi 8 (13678 IU), akan tetapi keduanya berbeda lebih tinggi dibanding warna nira jernih pada pH nira tersulfitasi 9 (12541 IU). Kekeruhan nira jernih pada pH nira tersulfitasi 9 (175 ppm SiO2) lebih tinggi dibanding kekeruhan pada pH nira tersulfitasi 8 (120 ppm SiO2) dan keduanya lebih tinggi dibanding kekeruhan pada pH nira tersulfitasi 7 (96 ppm SiO2). 3. Read the rest of this entry »
Bambang Eddy Santoso *) dan Toto Martoyo *)
RINGKASAN
Proses pemurnian nira mentah merupakan tahapan proses kunci, karena mempengaruhi keberhasilan tahapan berikutnya dalam proses pembuatan gula di pabrik gula. Kondisi pemurnian nira proses sulfitasi didesain sejak lebih dari 100 tahun yang lalu, dalam keadaan mutu tebu yang prima dan sampai saat ini belum ada perubahan yang berarti. Pada hal pada kenyataannya mutu tebu giling yang dipasok ke sebagian besar pabrik gula di Indonesia dari waktu ke waktu semakin rendah, atau tidak MBS (masak, bersih dan segar). Tebu yang bermutu rendah banyak mengandung bukan-gula yang akan berpengaruh negatip terhadap proses pemurnian nira. Akibatnya nira jernih hasil pemurnian (proses sulfitasi) dari sebagian besar pabrik gula sulfitasi bermutu rendah, sehingga berpengaruh negatip terhadap efisiensi proses secara keseluruhan, atau perolehan gula menurun. Permasalahan ini akan didekati dengan aplikasi dolomit hidrat untuk peningkatan efisiensi stasiun pemurnian nira. Paket teknologi diharapkan dapat meningkatkan perolehan gula melalui peningkatan BHR (boiling house recovery, efisiensi pengolahan) minimal 2 poin atau secara nasional tambahan perolehan gula sebesar 50.000 ton per tahun, atau setara dengan produksi satu pabrik gula berkapasitas 5 000 TT/H, per musim giling.
Di samping itu untuk mengetahui pengaruh tercampurnya dolomit dan kapur pada saat aplikasi berlangsung terhadap kualitas hasil pemurnian telah dilakukan percobaan skala lab menggunakan dolomit – kapur di P3GI. Di P3GI pemberian dolomit – kapur dilakukan secara bertahap, setelah dolomit sampai pH 7,2 kemudian kapur sampai pH 10,5, atau sebaliknya. Hasilnya menunjukkan bahwa adanya dolomit, baik yang asli maupun yang dicampur atau bertahap dengan kapur, menghasilkan kecepatan pengendapan yang lebih cepat dan kadar CaO nira jernih yang lebih rendah dibanding kontrol.
Aplikasi dolomit hidrat untuk pemurnian nira skala pabrik telah dilakukan. Hasilnya menunjukan bahwa persyaratan kondisi operasional pemurnian optimal belum dapat dilakukan dengan baik. Kondisi operasional yang dipersyaratkan dan yang dicapai (di dalam kurung) adalah: suhu pemurnian nira 70 - 80 oC (70 – 80 oC), pH nira defekasi 10,0 – 10,5 (8,5 – 9,0), pH nira sulfitasi 7,2 – 7,4 (7,0 – 7,8), dosis flokulan 2,5 ppm (2,5 ppm) dan suhu pengendapan 100 – 105 oC (95 – 100 oC). Namun demikian dengan kondisi ini dapat dihasilkan kecepatan pengendapan 13 % lebih cepat, kadar CaO nira jernih 22 % lebih rendah dan BHR 2,0 – 5,3 poin lebih tinggi. Sehingga manfaat yang dapat diperoleh dari aplikasi dolomit adalah peningkatan produksi gula minimal 5,6 ton per hari giling (asumsi pol tebu 10 %, hasil pemerahan gula 90 % dan kapasitas giling 3000 TCD) atau peningkatan pendapatan minimal Rp. 16,8 juta per hari (asumsi harga gula Rp. 3 juta per ton). Jika beaya aplikasi sekitar Rp. 4,4 juta per hari giling, maka peningkatan pendapatan bersih per hari minimal Rp. 12,4 juta atau berarti Rp. 1,9 milyar per musim giling dapat diraup.
PENDAHULUAN
Pengukuran pol dan nira atau produk gula yang lain dengan polarimeter memerlukan syarat antara lain adalah larutan filtrat yang diukur harus jernih dan tidak berwarna gelap. Persyaratan ini akan lebih ketat lagi untuk polarimeter visual yang mengandalkan mata pengukurnya.
Larutan Timbal Asetat (TA) telah digunakan lebih dari satu abad yang lalu hingga kini untuk bahan penjernih Dibandingkan dengan bahan penjernih dari garam-garam logam lain kualitas penjernih TA lebih unggul (Browne and Zerban,1941) namun mengingat TA adalah logam yang bersifat racun kuat, penggunaannya untuk bahan penjernih mulai dipertanyakan (ICUMSA, 1990).
Pabrik gula di Indonesia seperti beberapa pabrik gula tebu di negara lain masih menggunakan TA sebagai bahan penjernih untuk analisis pol. Kalau dihitung, untuk analisis pol dalam pengawasan pabrikasi, untuk pabrik gula yang berkapasitas 4000 TCD diperlukan tidak kurang dari 100 kg TA per musim giling. Dapat dibayangkan untuk pabrik gula seluruh Indonesia, khususnya di Jawa, diperkirakan sekitar 5 ton TA per tahun dibuang sebagai limbah analisis pol, atau sekitar 500 ton TA tersebar di perut bumi Pulau Jawa selama seabad ini.
Dengan semakin meningkatnya pengawasan pencemaran lingkungan, hal tersebut di atas merupakan sesuatu yang harus diwaspadai. Salah satu upaya untuk mengantisipasi permasalahan pencemaran yang akan timbul adalah menyediakan bahan penjernih alternatif yang tidak beracun. Usaha untuk mengganti TA sebagai bahan penjernih telah dilakukan (Lew, 1986; Chou, 1988; Winstroom and Elsen, 1988; Clarke and Bourgeois, 1990; ICUMSA, 1990; Martoyo dan Santoso, 1992a, 1992b; 1995, 1997; Martoyo et al, 1994; Santoso dan Martoyo, 2000, 2001). Tampaknya garam aluminium paling banyak digunakan dan memberikan harapan. Bahkan untuk pabrik gula beet, penjernih aluminium telah direkomendasikan (tentative) oleh ICUMSA. Sedangkan untuk pabrik gula tebu masih dalam taraf penelitian.
Penjernih nira tebu dengan penjernih aluminium yang dilaporkan oleh ICUMSA (1990) dan Legendre & Clarke (1991) menghasilkan angka pol yang tidak begitu berbeda tetapi selalu sedikit lebih rendah. Kecepatan filtrasi lebih lambat dan warna filtrat lebih tinggi daripada hasil penjernihan dengan TA. Di samping itu penambahan Ca(OH)2 dalam bentuk susu yang sulit diukur dengan tepat. Padahal ketepatan komposisi bahan penjernih berpengaruh besar terhadap kualitas penjernihan (Martoyo dan Santoso, 1992a, 1992b; 1995, 1997; Martoyo et al, 1994; Santoso dan Martoyo, 2000, 2001).
Sebagai upaya untuk mengantisipasi kemungkinan penggantian TA sebagai bahan penjernih untuk analisis pol dalam pengawasan pabrikasi di pabrik gula, berikut diperkenalkan bahan penjernih alternatif yang berwawasan lingkungan, aman terhadap lingkungan.yang merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Martoyo dan Santoso (1992a, 1992b; 1995, 1997), Martoyo et al (1994); Santoso dan Martoyo (2000, 2001).baik di laboratorium P3GI maupun di pabrik gula. Read the rest of this entry »
ABSTRAK
Proses pemurnian nira di pabrik gula dalam pembuatan gula dari tebu harus dilakukan, sebagai upaya untuk membuang bukan gula dalam nira mentah sehingga kemurnian (HK pol) nira jernih yang dihasilkan lebih tinggi daripada nira mentahnya, kadar gula reduksi tidak meningkat; kadar CaO total, kekeruhan dan warna nira jernih rendah. Penelitian untuk mengetahui pengaruh pH defekasi dan kewayuan tebu terhadap kualitas nira jernih hasil proses pemurnian nira telah dilakukan. Nira mentah dipanaskan 75 oC, ditambahkan susu kapur 15 Be dengan pH defekasi divariasi 3 taraf (8,5; 9,5 dan 10,5), kemudian ditambahkan gas belerang (sulfit) sampai pH 7,2, dipanaskan 100 oC, ditambahkan flokulan (bahan pengendap) dengan dosis 2 ppm. Tebu yang pada saat ini kualitasnya jelek (ditengarai HK pol nira perahan pertama < 75 %) didekati dengan taraf kewayuan tebu. Kewayuan tebu di variasi dalam 5 taraf (tebu digiling pada 0, 1, 4, 7 dan 11 hari setelah tebu ditebang). Parameter yang diamati adalah kualitas nira jernih yang meliputi HK pol, gula reduksi, kadar CaO total, kekeruhan dan warna nira jernih. Hasil percobaan menunjukkan bahwa HK pol nira jernih dipengaruhi oleh taraf kewayuan tebu dan pH defekasi. Pada taraf kewayuan tebu yang semakin tinggi, HK pol nira jernih semakin rendah; pada pH defekasi 10,5 HK pol nira jernih tertinggi. Kadar gula reduksi nira jernih dipengaruhi oleh taraf kewayuan tebu saja, semakin tinggi taraf kewayuan tebu semakin tinggi kadar gula reduksi. Kadar CaO total dan warna nira jernih dipengaruhi oleh interaksi antara kewayuan tebu dengan pH defekasi. Kadar CaO total dan warna tertinggi pada taraf kewayuan 11 hari dengan pH defekasi 10,5; terendah pada tinggkat kewayuan 0 hari dengan pH defekasi 9,5 - 10,5. Kekeruhan nira jernih dipengaruhi oleh taraf kewayuan tebu dan pH defekasi. Pada taraf kewayuan yang semakin tinggi, kekeruhan nira jernih semakin rendah, demikian pula untuk pH defekasi yang semakin tinggi kekeruhan nira jernih semakin rendah. Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil nira jernih yang optimal, pH defekasi pada proses pemurnian nira perlu fleksibel mungkin untuk mengantisipasi kualitas tebu yang diolah.
Kata kunci: pH defekasi, kewayuan tebu, proses pemurnian nira, kualitas nira jernih.
