Archive for the ‘Pabrik Gula’ Category

LOWONGAN PEKERJAAN DI P3GI

PUSAT PENELITIAN PERKEBUNAN GULA INDONESIA

(P3GI) MEMBUKA KESEMPATAN KEPADA ALUMNI LULUSAN TAHUN 2006 KEATAS MENJADI TENAGA PENELITI DENGAN PERSYARATAN SEBAGAI BERIKUT :

1. USIA MAKSIMUM 35 TAHUN

2. INDEKS PRESTASI KUMULATIF MINIMAL 3.00

3. LULUSAN:

  • TEKNIK KIMIA (diutamakan pria)
  • TEKNIK MESIN (diutamakan pria)
  • AGRONOMI
  • PEMULIAAN TANAMAN
  • TANAH I AGROKLIMAT
  • TEKNIK PERTANIAN I MEKANISASI
  • SOSIAL EKONOMI

 

BAGI YANG BERMINAT DAPAT MENYAMPAIKAN LAMARANNYA DIALAMATKAN KE

BAGIAN ORTALA

PUSAT PENELITIAN PERKEBUNAN GULA INDONESIA

JL. PAHLAWAN 25 PASURUAN 67126

Atau

Email : riset_gula@yahoo.com

 

LAMARAN DITUNGGU PALING LAMBAT AKHIR AGUSTUS  2012.

 

Share

DEGRADASI KUALITAS TEBU SETELAH TEBANG

Tebu sebagai bahan baku utama pabrik gula di Indonesia merupakan tanaman yang efisien. Batang tebu mengkonversi sinar matahari dengan proses fotosintesa sehingga menjadi gula (sukrosa, glukosa, fruktosa, dll) selama pertumbuhan. Reaksi utama pada proses fotosintesa tebu :

Setelah tebu ditebang kandungan sukrosa yang terdapat dalam batang tebu akan mengalami degradasi menjadi monosakarida atau gula reduksi yang disebabkan oleh aktivitas mikroba. Hal ini merupakan kerugian karena di pabrik gula yang akan di kristalkan adalah sukrosa sementara monosakarida dan gula lain akan menjadi tetes (molasses).

Kerusakan tebu (cane deterioration) merupakan faktor yang penting dalam memperoleh gula yang berkualitas. Selain menyebabkan kehilangan gula (sukrosa) yang besar, kerusakan tebu menyebabkan kesulitan dalam proses pengolahan tebu menjadi gula dan menambah biaya produksi. Clarke, et al (1980) memperkirakan bahwa kehilangan gula pada pra-panen sampai menjadi gula produk bervariasi antara 5 – 35 % dari sukrosa dalam tebu, tergantung pada kondisi lingkungan dan teknologi yang digunakan.

Kerusakan pada tebu selama panen dan pasca panen diantaranya disebabkan oleh kondisi natural varietas tebu dan tempat tumbuhnya, kondisi pra panen, yaitu banyak tebu yang dibakar (Saska et al, 2009; Solomon, 2000), penggunaan mekanisasi dengan tebu dipotong-potong (Mochtar, 1995; Uppal, 2003, Larrahondo, dkk, 2009) dan waktu tunda giling atau tebu lasahan (Mochtar dkk, 1995, Solomon 2000). Pada penelitian yang dilakukan di Kolombia oleh Larrahondo, dkk, 2009 menunjukkan adanya perbedaan kualitas antara metode tebang secara manual dengan mekanik. Penebangan secara mekanik meningkatkan zat asing selain gula dan penurunan pol % tebu sebesar 0,4 poin. Selain itu penebangan secara mekanis meningkatkan kadar amilum dan dekstran dalam nira. Read the rest of this entry »

Share

Impressed Current Cathodic Protection Pada Besi Tulangan Beton

ABSTRAK

Beton merupakan bahan konstruksi yang paling banyak digunakan karena kekuatannya dan ekonomis. Ion klorida yang terdapat di lingkungan dapat menyebabkan kerusakan dini pada beton. Kerusakan ini terjadi karena ion klorida menyerang baja tulangan beton sehingga terkorosi. Untuk itu dipelajari suatu cara untuk mencegah proses korosi yang terjadi pada beton. Dalam penelitian ini akan dilakukan pencegahan korosi dengan proteksi katodik secara impressed current.

Penelitian ini dilakukan dengan pemaparan spesimen beton bertulang di laboratorium dengan beberapa variasi komposisi beton bertulang, kondisi lingkungan yang meliputi kadar ion klorida dan posisi anoda dalam beton dengan standart kontrol perlindungan depolarisasi 100mv. Setelah dilakukan proteksi, lalu mengukur laju korosi besi tulangan dengan metode Elechtrochemical Impedance Spectroscopy (EIS) pengukuran ini dilakukan setiap 5 hari sekali. Selanjutnya hasil pengukuran dianalisa untuk mengetahui laju korosinya.

Dari penelitian yang dilakukan diperoleh bahwa resistansi dari beton dipengaruhi oleh kondisi dari lingkungan dan komposisi nya. Semakin tinggi konsentrasi larutan NaCl maka resistansi beton semakin rendah sehingga lebih reaktif. Beton dengan komposisi 1:2 mempunyai resistasni lebih tinggi daripada komposisi 1:4.

Kata kunci : beton; elechtrochemical impedance spectroscopy;korosi; proteksi katodik

Read the rest of this entry »

Share

Blotong dan Pemanfaatannya

Pada pemrosesan gula dari tebu menghasilkan limbah atau hasil samping, antara lain ampas, blotong dan tetes. Ampas berasal dari tebu yang digiling dan digunakan sebagai bahan bakar ketel uap, partikel board dan bahan baku kertas. Blotong atau filter cake adalah endapan dari nira kotor pada proses pemurnian nira yang di saring di rotary vacuum filter, sedangkan tetes merupakan sisa sirup terakhir dari masakan yang telah dipisahkan gulanya melalui kristalisasi berulangkali sehingga sulit menghasilkan kristal.

Rata-rata blotong dihasilkan sebanyak 3.8 % tebu atau sekitar 1.1 juta ton blotong per tahun (produksi tebu tahun 2011 sekitar 28 juta ton). Blotong dari PG Sulfitasi rata-rata berkadar air 67 % dan kadar pol 3 %. Komposisi blotong secara umum dapat dilihat pada tabel 1.

 Tabel 1. Komposisi dari blotong

Blotong merupakan limbah yang bermasalah bagi pabrik gula dan masyarakat karena blotong yang basah menimbulkan bau busuk. Oleh karena itu apabila blotong dapat dimanfaatkan akan mengurangi pencemaran lingkungan. Read the rest of this entry »

Share
Saran, Kritik, Ngobrol

Categories
Tweet
Sugar Research Fan Page