Archive for the ‘Opini’ Category

Oleh :
Dr. Toto Martoyo
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI)
Jl. Pahlawan No 25 Pasuruan 67126
email : toto.martoyo@yahoo.co.id

Akhir-akhir ini marak kembali keinginan pihak “petani” untuk mendirikan Pabrik Gula Mini (PGM) yang hal ini dipicu oleh harga gula pasir yang sedang bagus dan rendemen Pabrik Gula yang tidak beranjak dari angka 6-7%. Di samping itu adanya informasi keberhasilan Pabrik Gula Mini yang telah dibangun dan dioperasikan di beberapa lokasi turut menambah semakin maraknya keinginan membangun Pabrik Gula Mini.

Menanggapi hal tersebut kita harus hati-hati tidak serta merta pro atau kontra. Kita memandangnya harus rasional dan dengan wawasan yang global. Dari pengamatan tampaknya pengertian Pabrik Gula Mini adalah pabrik gula yang berkapasitas < 250 TTH dengan sistem closed pan. Kalau produk yang dikehendaki Gula Kristal Putih (GKP) maka Pabrik Gula Mini harus terdiri minimal dari Stasiun Gilingan, Stasiun Pemurnian Nira, Stasiun Penguapan, Stasiun Masakan/Kristalisasi, Stasiun Pemisahan Kristal dan Stasiun Pengeringan Gula. Teknologi yang digunakan untuk stasiun tersebut belum tentu sama dengan yang digunakan di Pabrik Gula besar, yang penting harus sesuai dengan karakteristik Pabrik Gula Mini yaitu fleksibel dan manual. Permasalahan utama yang dihadapi dalam pengoperasian Pabrik Gula Mini adalah Efisiensi Pengolahan dan Energi. Read the rest of this entry »

Oleh :
Dr. Toto Martoyo
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI)
Jl. Pahlawan No 25 Pasuruan 67126
email : toto.martoyo@yahoo.co.id

Ada pemikiran untuk merubah proses produksi gula putih di Indonesia dari proses sulfitasi yang menghasilkan gula putih (Direct White Sugar) menjadi proses yang menghasilkan raw sugar (GKM). Selanjutnya GKM akan diproses menjadi refined sugar (GKR). Pengembangan Industri Raw sugar setidaknya memperhatikan beberapa hal antara lain, daya dukung lahan dan lingkungan di Jawa, program swasembada gula nasional, existing pabrik gula rafinasi (PGR) dan pabrik gula putih (PGP) dan perkembangan sistem produksi gula baru.

1. Pabrik raw sugar (Gula Kristal Mentah) berbahan baku tebu rasanya sudah tidak layak lagi dikembangkan di Jawa. Selain karena persaingan dengan komoditi dan peruntukan lain sehingga lahan menjadi mahal, juga karena masalah lingkungan. Kita lihat apa yang terjadi akhir-akhir ini bencana banjir dan tanah longsor melanda Jawa tiada henti. Sudah waktunya Jawa dihutankan kembali untuk mencegah bencana banjir secara mendasar. Oleh karena itu pertanaman tebu yang akan datang seharusnya dikembangkan di luar Jawa dengan demikian juga Pabrik Gula Mentah.

2. Model industri Gula Mentah (raw sugar) dikembangkan berupa kompleks industri terpadu yang memanfaatkan co-product, seperti tetes dan ampas tebu untuk memproduksi etanol dan derivatnya serta energi. Untuk itu kompleks industri harus berkapasitas besar minimal 10.000 TCD. Namun produksi Gula Kristal Mentah disesuaikan dengan kebutuhan Pabrik Gula Rafinasi, kelebihannya digunakan untuk produksi etanol dll.

3. Existing Pabrik Gula Rafinasi di Jawa dan juga yang akan dibangun di pusat industri makanan/minuman di luar Jawa bahan bakunya (GM) dipasok dari PGM dalam negeri. Hasil gula rafinasi dapat dijual untuk konsumsi langsung.

4. Perlu diantisipasi sistem produksi baru, yaitu produksi gula putih (sekualitas gula rafinasi) langsung dari tebu, jadi tanpa melalui GM. Kalau demikian maka kelak pabrik rafinasi tidak diperlukan lagi. Diperkirakan sistem ini akan berkembang dalam 5-10 tahun yang akan datang.

5. Dalam rangka program nasional swasembada gula terutama untuk konsumsi langsung, maka Pabrik Gula Putih yang ada dipertahankan sambil melakukan peningkatan kualitas sanitasi dan higinis. Sampai kemudian secara “alamiah” menyesuaikan dengan permintaan pasar.