RUMUSAN FGD SNI GKP

Tanggal 9 September 2017 diadakan Focus Group Discussion berkaitan dengan evaluasi SNI GKP wajib dengan tema “Penguatan Pabrik Gula Berbasis Tebu Dalam Perlindungan Konsumen Dan Peningkatan Kesejahteraan Petani.” FGD diadakan oleh P3GI bekerjasama dengan LPP bertempat di Yogyakarta. Rumusan FGD sebagai berikut :

  1. Permasalahan yang dihadapi industri gula adalah potensi rendemen dan produktivitas tebu petani yang masih rendah , dibutuhkannya penguatan transparansi dalam penetapan rendemen berbasis Analisa Rendemen Individu (ARI); mutu gula yang dihasilkan oleh PG berbasis tebu masih fluktuatif dan belum semuanya sesuai standar (SNI GKP); industri hilir berbasis tebu (diversifikasi) belum terintegrasi dengan PG; kebijakan terkait GKP dan GKR harus menguatkan pertumbuhan pabrik gula berbasis tebu dan peningkatan kesejahteraan petani, serta mencegah intersection pasar antara PG GKP dan GKR.
  1. Arah kebijakan pengembangan industri gula difokuskan pada peningkatan produksi dengan sasaran PG-PG eksisting , pembangunan PG baru di Pulau Jawa maupun di Luar Pulau Jawa serta PG Rafinasi. Pembangunan PG baru seharusnya terintegrasi dengan perkebunan tebunya. Kebijakan PG Rafinasi yang harus memiliki perkebunan tebu harus diterapkan secara konsisten.
  1. Sebagian besar PG di Indonesia menggunakan bahan baku tebu dengan proses Sulfitasi ganda untuk memproduksi Gula Kristal Putih. Gula produk dari proses ini rentan terhadap degradasi kualitas, khususnya kenaikan warna larutan selama penyimpanan, terlebih bila gudang penyimpannya tidak memenuhi standar. Diperlukan review dalam SNI GKP untuk mengakomodasi permasalahan peningkatan warna larutan ( ICUMSA ) selama penyimpanan dan distribusi di tingkat pasar. Oleh karena itu dalam forum ini diusulkan untuk dilakukan revisi dan penyempurnaan SNI GKP 3140.3 : 2010. Usulan revisi dan penyempurnaan SNI antara lain : sebagai berikut :

  • Mengakomodasi besaran toleransi parameter warna larutan untuk produk Gula Kristal Putih di pasar atau setelah tersimpan di gudang selama 12 bulan, khusus untuk gula dari PG sulfitasi
  • Menghilangkan parameter warna kristal dari standar SNI GKP dan memasukkan “Parameter Kritis” terkait K3L (Keselamatan, Kesehatan, Keamanan dan Lingkungan hidup). Standar warna yang umum digunakan secara Internasional adalah warna larutan.
  1. Melakukan review terhadap ketetapan SNI berdasarkan usulan yang disampaikan oleh para pelaku usaha gula berbasis tebu. Review tersebut dilakukan bersama antara pemerintah, produsen dan konsumen. Review dilakukan dengan memfokuskan pada parameter yang khusus menentukan keamanan pangan dalam SNI GKP.
  1. Pemberlakuan SNI wajib dapat dilakukan pengecualian terhadap gula produk yang tidak masuk dalam kategori produk SNI GKP wajib, misalnya untuk brown sugar atau produk varian gula lainnya. SNI untuk brown sugar atau varian gula harus memiliki parameter pembeda yang jelas terhadap GKP.
  1. Tim review SNI perlu dibentuk dengan tugas mengawal review SNI GKP dan SNI varian gula selain GKP, bersama-sama dengan pelaku industri gula. Tim ini dikoordinir oleh P3GI dan LPP.
  1. Industri gula harus lebih kreatif untuk melakukan diversifikasi produk gula, sehingga didapatkan varian-varian baru produk gula berserta SNI yang mengaturnya. Varian produk gula diperlukan untuk mengakomodasi keinginan dan kebutuhan pasar terhadap produk gula dengan nilai ICUMSA tinggi tetapi tetap memberikan faktor aman.
  1. Kebijakan terkait pergulaan nasional yang belum terintegrasi di antara pemangku kepentingan termasuk antar departemen atau kementerian perlu disinkronisasi oleh Tim Gugus Tugas di bawah Kemenko Perekonomian agar tidak tumpang tindih, meningkatkan daya saing pabrik gula, memberikan perlindungan terhadap konsumen dan meningkatan kesejahteraan petani. Tim Gugus Tugas tersebut bertugas untuk :Mengidentifikasi kebijakan yang salah/tidak tepat;  Mengevaluasi tidak tercapainya swasembada gula nasional; Memberikan solusi dan alternatif percepatan pencapaian swasembada gula nasional.

AGI menginisiasi pembentukan Tim gugus tugas ini kepada Kemenko Perekonomian.

Yogyakarta, 9 September 2017

Tim Perumus:

  1. Asosiasi Gula Indonesia
  2. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
  3. Lembaga Pendidikan Perkebunan
Share

Leave a Reply

*

Saran, Kritik, Ngobrol

Categories
Tweet
Sugar Research Fan Page