Archive for September, 2017

EFFECTS OF ANALYSIS METHOD IN PREDICTION CANE QUALITY USING NIR SPECTROSCOPY

ABSTRACT

NIR spectroscopy is a secondary method that can be used to predict the quality of a raw material. Analysis of sugar cane quality takes 2 hours; the use of NIR is expected to shorten the analysis time. In this study, NIR is used to predict three parameters of cane quality (pol%cane, brix% cane and fibre%cane) with two different analytical methods. The material for research was a 10 month Bululawang (BL) variety. Sugarcane was shredded using a JEFFCO cutter grinder, and then the samples of shredded cane are separated for conventional analysis and NIR. Conventional analysis using wet disintegrator and hydraulic press method. The same cane samples were measured at wavelength 700 – 2500 nm using NIR FOSS XDS RCA. Pretreatment of NIRS absorbance using Mahalanobis distance. The calibration model uses the partial least square (PLS) regression method. The NIR results were evaluated from high correlation coefficient (r2), low standard calibration (SEC) and high ratio of prediction to deviation (RPD). The experimental results show that the wet disintegrator method produces a better NIR calibration model than the hydraulic press method. The NIR evaluation of wet disintegrator method for pol%cane, r2 = 0,937, SEC = 0,459, SECV = 0,127, SEP = 0,516 and RPD = 3,119. Brix %cane, r2 = 0,905, SEC = 0,481, SECV = 0,117, SEP = 0,670  and RPD = 2,080. Fibre%cane, r2 =  0,783, SEC = 0,999 , SECV = 2,466, SEP = 1,396 and RPD = 1,267. NIR calibration for  pol%cane and brix%cane shows a good result, while the fibre%cane need to be improved. From the results of these experiments can be used as a basis for the development of NIR calibration models to analyze different cane varieties.

Keywords— NIR Spectroscopy, cane quality, NIR prediction, pol%cane     

Share

RUMUSAN FGD SNI GKP

Tanggal 9 September 2017 diadakan Focus Group Discussion berkaitan dengan evaluasi SNI GKP wajib dengan tema “Penguatan Pabrik Gula Berbasis Tebu Dalam Perlindungan Konsumen Dan Peningkatan Kesejahteraan Petani.” FGD diadakan oleh P3GI bekerjasama dengan LPP bertempat di Yogyakarta. Rumusan FGD sebagai berikut :

  1. Permasalahan yang dihadapi industri gula adalah potensi rendemen dan produktivitas tebu petani yang masih rendah , dibutuhkannya penguatan transparansi dalam penetapan rendemen berbasis Analisa Rendemen Individu (ARI); mutu gula yang dihasilkan oleh PG berbasis tebu masih fluktuatif dan belum semuanya sesuai standar (SNI GKP); industri hilir berbasis tebu (diversifikasi) belum terintegrasi dengan PG; kebijakan terkait GKP dan GKR harus menguatkan pertumbuhan pabrik gula berbasis tebu dan peningkatan kesejahteraan petani, serta mencegah intersection pasar antara PG GKP dan GKR.
  1. Arah kebijakan pengembangan industri gula difokuskan pada peningkatan produksi dengan sasaran PG-PG eksisting , pembangunan PG baru di Pulau Jawa maupun di Luar Pulau Jawa serta PG Rafinasi. Pembangunan PG baru seharusnya terintegrasi dengan perkebunan tebunya. Kebijakan PG Rafinasi yang harus memiliki perkebunan tebu harus diterapkan secara konsisten.
  1. Sebagian besar PG di Indonesia menggunakan bahan baku tebu dengan proses Sulfitasi ganda untuk memproduksi Gula Kristal Putih. Gula produk dari proses ini rentan terhadap degradasi kualitas, khususnya kenaikan warna larutan selama penyimpanan, terlebih bila gudang penyimpannya tidak memenuhi standar. Diperlukan review dalam SNI GKP untuk mengakomodasi permasalahan peningkatan warna larutan ( ICUMSA ) selama penyimpanan dan distribusi di tingkat pasar. Oleh karena itu dalam forum ini diusulkan untuk dilakukan revisi dan penyempurnaan SNI GKP 3140.3 : 2010. Usulan revisi dan penyempurnaan SNI antara lain : sebagai berikut :

Read the rest of this entry »

Share
Saran, Kritik, Ngobrol

Categories
Tweet
Sugar Research Fan Page