DEGRADASI KUALITAS TEBU SETELAH TEBANG

Tebu sebagai bahan baku utama pabrik gula di Indonesia merupakan tanaman yang efisien. Batang tebu mengkonversi sinar matahari dengan proses fotosintesa sehingga menjadi gula (sukrosa, glukosa, fruktosa, dll) selama pertumbuhan. Reaksi utama pada proses fotosintesa tebu :

Setelah tebu ditebang kandungan sukrosa yang terdapat dalam batang tebu akan mengalami degradasi menjadi monosakarida atau gula reduksi yang disebabkan oleh aktivitas mikroba. Hal ini merupakan kerugian karena di pabrik gula yang akan di kristalkan adalah sukrosa sementara monosakarida dan gula lain akan menjadi tetes (molasses).

Kerusakan tebu (cane deterioration) merupakan faktor yang penting dalam memperoleh gula yang berkualitas. Selain menyebabkan kehilangan gula (sukrosa) yang besar, kerusakan tebu menyebabkan kesulitan dalam proses pengolahan tebu menjadi gula dan menambah biaya produksi. Clarke, et al (1980) memperkirakan bahwa kehilangan gula pada pra-panen sampai menjadi gula produk bervariasi antara 5 – 35 % dari sukrosa dalam tebu, tergantung pada kondisi lingkungan dan teknologi yang digunakan.

Kerusakan pada tebu selama panen dan pasca panen diantaranya disebabkan oleh kondisi natural varietas tebu dan tempat tumbuhnya, kondisi pra panen, yaitu banyak tebu yang dibakar (Saska et al, 2009; Solomon, 2000), penggunaan mekanisasi dengan tebu dipotong-potong (Mochtar, 1995; Uppal, 2003, Larrahondo, dkk, 2009) dan waktu tunda giling atau tebu lasahan (Mochtar dkk, 1995, Solomon 2000). Pada penelitian yang dilakukan di Kolombia oleh Larrahondo, dkk, 2009 menunjukkan adanya perbedaan kualitas antara metode tebang secara manual dengan mekanik. Penebangan secara mekanik meningkatkan zat asing selain gula dan penurunan pol % tebu sebesar 0,4 poin. Selain itu penebangan secara mekanis meningkatkan kadar amilum dan dekstran dalam nira.

Kerusakan tebu selama proses pasca panen berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas tebu. Dengan adanya tebu yang ditunda giling dapat menyebabkan susutnya bobot tebu dan meningkatnya kadar gula reduksi. Setelah tebu ditebang secara otomatis akan terjadi penguapan pada batang tebu. Persentase kehilangan berat ini bergantung dari suhu, kelembaban, metode penyimpanan dan kondisi waktu ditebang. Penurunan bobot tebu secara langsung dapat mempengaruhi perolehan berat kristal yang diterima (Santoso dkk, 1996). Tebu setelah ditebang lalu diangkut ke emplasement pabrik gula. Apabila proses tebang angkut ini berjalan normal dan berlaku sistem FIFO maka tidak akan timbul masalah. Dengan kondisi sekarang dimana banyak tebu yang tidak bisa langsung terangkut ke emplasement pabrik, kemungkinan kerusakan karena waktu tunda giling semakin besar.

Penyebab terbesar dari degradasi tebu setelah ditebang adalah waktu tunda giling. Penundaan giling disebabkan karena tebu yang ditebang tidak langsung dibawa ke pabrik, tebu yang dibawa ke pabrik tidak langsung digiling atau bisa juga pabrik mengalami gangguan sehingga berhenti giling. Pada tebu yang dilasah di lahan atau di emplasement pabrik dapat terinfeksi oleh mikroba. Mikroba dan bakteri memanfaatkan gula yang terdapat pada batang tebu sebagai sumber energinya. Gula (sukrosa) yang seharusnya diproses di pabrik menjadi rusak dan terkonversi menjadi bentuk lain seperti dekstran, asam laktat, levan, alteran, dll., Watt, DA dan Cramer, M.D., 2009.  Singh et al (2008) memperkirakan bahwa 13 kg gula hilang tiap ton tebu selama proses penundaan giling. Peningkatan kadar gula reduksi ini disebabkan oleh proses inversi, yaitu pengubahan sukrosa menjadi gula reduksi oleh mikroba (Siddhant, et al , 2008; Singh, et al , 2008). Liu, dkk, 2009, dalam percobaannya pada dua varietas tebu di Cina mengemukakan bahwa tebu yang ditunda giling selama 5 hari terdapat kenaikan kadar gula reduksi dari 0,2 menjadi 1,2% atau sekitar 0,16 % per hari.

Ada beberapa metode pemanenan tebu, diantaranya adalah dengan cara dibakar terlebih dahulu. Metode pembakaran tebu sebelum dipanen lazim digunakan pada lahan tebu yang luas dengan mode tebangan mekanisasi. Keuntungan dari membakar tebu sebelum ditebang adalah berkurangnya jumlah kotoran seperti trash, daun dan klaras. Tetapi apabila setelah ditebang tebu tidak langsung digiling dibawah 24 jam kadar dekstran nira perahan meningkat dan menimbulkan kerugian dalam proses. Mochtar (1995) melaporkan bahwa tebu yang dibakar dan ditunda giling mengalami peningkatan kadar dekstran % brix yang signifikan. Dengan semakin lama waktu tunda giling pada tebu yang dibakar dekstran akan lebih cepat terbentuk. Clark (1980) melaporkan bahwa kehilangan gula (sukrosa) yang diakibatkan oleh dekstran mencapai 5 -25 % dan bahkan lebih. Dengan kehilangan sebanyak itu tentu hasil gula yang diperoleh akan menurun sedangkan tetes yang dihasilkan oleh pabrik gula meningkat. Dekstran berakibat negatif pada proses pembuatan gula. Kadar dekstran tinggi menyebabkan nira sukar dioleh dan viskositas pada proses kristalisasi tinggi sehingga sukar untuk di kristalkan, Abdel Rahman, dkk, 2008.

Kerugian yang ditimbulkan oleh degradasi kualitas tebu setelah panen cukup besar. Sukrosa yang seharusnya diproses di pabrik gula menjadi rusak sehingga produk gula kristal yang seharusnya dapat diperoleh menurun. Untuk mengurangi kerugian karena kehilangan gula selama pasca panen perlu dilakukan langkah antisipasi dan manajemen penangan tebu setelah panen atau manajemen tebang angkut yang baik. Salah satu metode yang telah dikenal di kalangan praktisi industri gula adalah mengirimkan tebu “MBS” untuk menghasilkan gula dengan kuantitas dan kualitas yang bagus.

MBS atau kepanjangan dari Masak, Bersih dan Segar adalah salah satu cara untuk menekan kehilangan gula selama pasca panen. “Masak” artinya tebu ditebang tepat pada kondisi optimum kemasakannya. “Bersih” maksudnya tebu yang dikirim ke pabrik gula kadar kotorannya seminimal mungkin (maks 5 %). “Segar” berarti tebu yang telah ditebang diupayakan untuk segera digiling dengan waktu penundaan giling dibawah 24 jam. Dengan aplikasi system MBS dan didukung performance pabrik yang bagus (jam berhenti giling rendah) diharapkan kuantitas produksi gula dapat meningkat.

PUSTAKA :

Abdel-Rahman, E.A., Smejkal.Q., Shick.R., El-Syiad.S., Kurz.T., 2008. Influence of Dextran Concentration and Molecular Fraction on the Rate of Sucrose Crystallization in Pure Sucrose Solution. Journal of Food Engineering 84, p:501-508,

Clarke, M.A, et al. Sucrose Loss in The Manufacture of Cane Sugar. Proc. 17th Congress ISSCT. 2192 – 2203.

Eggleston. G., Legendre.B., Tew.T., 2005. New Insight on Factory Indicators of Freeze Deterioration Cane. Proc. ISSCT, Vol. 25, p:9-24.

Eggleston. G. 2002. Deterioration of Cane Juice – Source and Indicators. Food Chemistry 78. p:95-103.

Foster.D.H, et al, Studies on Cane Deterioration in Australia. Proc. 17th Congress ISSCT. 2204 – 2220.

Jimenez.E.R. 2005. The Dextranase Along Sugar Making Industry. Biotecnologia Aplicada vol 22 no 1. p:20 – 27.

Larrahondo, J.E. dkk. (2009). Impact of Extraneous Matter on Post Harvest Sucrose Losses and Quality Parameters in Sugarcane. SugarTech 11(22) pp : 171 – 175.

Lionnet G.R.E., 1986. Post Harvest Deterioration of Whole Stalk Sugarcane. Proc. Of The South African Sugar Technologists Association-June 1986. p:52-57.

Liu, J.Y. dkk. 2009. Post Harvest deterioration of two promising sugarcane clones CYZ02-588 dan CYZ02-1826 developed at Yunan, P.R. China. Sugar Tech 11(2) pp : 225 – 227.

Mochtar, H.M.. 1995. Pembentukan Dekstran Akibat Dari Keterlambatan Tebang/Angkut/Proses. Gula  Indonesia XX (3), p:11 – 17.

Mochtar, H.M., Beberapa Aspek Pra-Panen dan Pasca Panen yang Perlu Diperhatikan dalam Rangka Maksimalisasi Perolehan Gula dari Tebu. 71-90 hal

Santoso, B.E, dkk. 1996. Tebu Kotor dan Penundaan Giling  : Pengaruhnya Terhadap Penurunan Kualitas Tebu dan Nira. Prosiding Pertemuan Teknis P3GI, 7-1 s/d 7-13 hal.

Saska.M., Goedeau.S., Dinu.I., Marquette., 2009. Determination of Sucrose Loss in Storage of Green Billet Cane. Journal of ASSCT 29. p:53-77

Siddhant, Srivastava R.P., Singh S.B., Sharma, M.L. 2008. Assesment of Sugar Losses During Stalling in Different Varieties of Sugarcane under Subtropical Condition. Sugar Tech 10 (4).  p: 350 – 354.

Singh.I., Solomon.S., Shrivastava.A.K., Singh.R.K., Singh.J., 2006. Post Harvest Quality Deterioration of Cane Juice : Physio Biochemical indicators. Sugar Tech   8 (2&3), p:128-131.

Solomon.S., 2000. Post Harvest Cane Deterioration and its Milling Consequences., Sugar Tech 2 (1&2). p:1-18.

Uppal, S.K. 2003. Post Harvest Losses in Sugarcane. Sugar Tech 5 (1&2). p:93-94.

Watt, D.A. dan Cramer, M.D. 2009. Post Harvest Biology of Sugarcane. Sugar Tech 11(2) pp : 142-145

Share

One Response to “DEGRADASI KUALITAS TEBU SETELAH TEBANG”

Leave a Reply

*

Saran, Kritik, Ngobrol

Categories
Tweet
Sugar Research Fan Page