Archive for March, 2012

Rotary Vacuum Filter di Pabrik Gula

Tahap akhir dari proses pemurnian nira di pabrik gula adalah klarifikasi atau pengendapan. Pada proses ini nira yang sudah disulfitir (bereaksi dengan gas SO2) dialirkan ke bejana pengendapan (clarifier). Pada proses pengendapan ini dihasilkan nira jernih (clarified juice) dan nira kotor (mud juice). Nira kotor diproses lagi untuk dipisahkan antara zat padat dengan larutannya, sehingga dihasilkan nira tapis dan blotong. Sebelum tahun 1980 untuk memisahkan nira kotor pabrik gula menggunakan alat yang dinamakan filter press. Kekurangan dari alat ini adalah membutuhkan tenaga manusia yang relatif banyak dan kualitas blotongnya masih banyak mengandung gula (pol blotong > 2%). Sedangkan keuntungannya nira tapis yang dihasilkan kualitasnya bagus sehingga bisa langsung diproses di penguapan.

Semenjak pertengahan tahun 1980, pabrik gula beralih ke rotary vacuum filter untuk memisahkan nira tapis dengan blotong. Dengan menggunakan alat ini hanya membutuhkan sedikit tenaga (cukup 1-2 orang) dan pol blotong bisa ditekan sampai < 2 %, akan tetapi nira tapis yang dihasilkan kualitasnya jelek sehingga harus dimurnikan lagi (dikembalikan ke nira mentah) dimana menjadi beban bagi proses didepannya. Rotary Vacuum Filter terdiri dari silinder yang berputar pada sumbunya dan sebagian silinder ini terendam dalam bak nira kotor yang akan disaring. Bagian luar dari silinder yang berfungsi sebagai penyaring terdiri dari segmen-segmen. Masing-masing segmen dihubungkan secara individual ke suatu jaringan pipa  yang disebut thrill pipe yang berakhir pada suatu terminal yang disebut distributing valve atau timing block. Read the rest of this entry »

Share

POTENSI TERJADINYA KOROSI DI PERALATAN PABRIK GULA

Industri gula, seperti proses industri lainnya tentu mengalami permasalahan korosi pada setiap tahapan prosesnya. Dengan adanya bahan konstruksi yang terbuat dari logam, maka Pabrik Gula rentan terhadap serangan korosi. Korosi tidak dapat dihindari, tetapi dapat diperlambat lajunya. Selama ini permasalahan korosi di pabrik gula kurang mendapat perhatian bahkan terkesan diabaikan, padahal biaya yang ditimbulkan akibat adanya korosi tidaklah sedikit. Bhaskaran, dkk (2003) melakukan audit mengenai korosi di Pabrik Gula di India. Dari hasil audit tersebut dihasilkan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh seluruh pabrik gula di India akibat masalah korosi sebesar US $ 14.000.000 atau hampir 140 milyar rupiah. Sedangkan studi yang dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa total biaya yang ditimbulkan akibat korosi untuk seluruh industrinya sebesar $ 137,9 milyar (Koch, GH, dkk, 2001).

Korosi adalah peristiwa rusaknya logam karena reaksi dengan lingkungannya (Roberge, 1999). Definisi lainnya adalah korosi merupakan rusaknya logam karena adanya zat penyebab korosi, korosi adalah fenomena elektrokimia dan hanya menyerang logam. Pada dasarnya logam akan mengalami reaksi dengan lingkungan dimana logam mengalami oksidasi sedangkan lingkungan (udara) mengalami reaksi reduksi.

KOROSI  DI PABRIK GULA
Peralatan di pabrik gula yang terbuat dari logam sangat rentan terhadap serangan korosi. Terlebih lagi Nira sebagai bahan baku proses pembuatan gula mempunyai kondisi asam, sehingga berpotensi untuk menimbulkan korosi di peralatan. Proses produksi di pabrik gula secara garis besar dibagi menjadi empat tahapan proses, yaitu : Ekstraksi tebu menjadi nira mentah (Gilingan), Nira mentah menjadi Nira Encer (Pemurnian), Nira Encer menjadi Nira Kental (Penguapan), Nira Kental menjadi Gula Kristal (Kristalisasi dan Pemisahan).

Pada tiap tahapan proses tersebut ada berbagai hal yang dapat menimbulkan serangan korosi. Berikut adalah identifikasi kemungkinan terjadinya korosi pada tiap bagian proses di Pabrik Gula. Read the rest of this entry »

Share

Ibunda, Kenapa Engkau Menangis ??

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”.  “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?”Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.”Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis? “Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,
“Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, danmengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak? Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”.

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup. Dan banyaklah mendo’akannya apabila beliau telah tiada. Karena sesungguhnya Ridha Nya Allah hanya berjarak sejengkal dengan ridhanya Orang tua..

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
Surah Luqman : 14

 from Nowhere

Share

DEGRADASI KUALITAS TEBU SETELAH TEBANG

Tebu sebagai bahan baku utama pabrik gula di Indonesia merupakan tanaman yang efisien. Batang tebu mengkonversi sinar matahari dengan proses fotosintesa sehingga menjadi gula (sukrosa, glukosa, fruktosa, dll) selama pertumbuhan. Reaksi utama pada proses fotosintesa tebu :

Setelah tebu ditebang kandungan sukrosa yang terdapat dalam batang tebu akan mengalami degradasi menjadi monosakarida atau gula reduksi yang disebabkan oleh aktivitas mikroba. Hal ini merupakan kerugian karena di pabrik gula yang akan di kristalkan adalah sukrosa sementara monosakarida dan gula lain akan menjadi tetes (molasses).

Kerusakan tebu (cane deterioration) merupakan faktor yang penting dalam memperoleh gula yang berkualitas. Selain menyebabkan kehilangan gula (sukrosa) yang besar, kerusakan tebu menyebabkan kesulitan dalam proses pengolahan tebu menjadi gula dan menambah biaya produksi. Clarke, et al (1980) memperkirakan bahwa kehilangan gula pada pra-panen sampai menjadi gula produk bervariasi antara 5 – 35 % dari sukrosa dalam tebu, tergantung pada kondisi lingkungan dan teknologi yang digunakan.

Kerusakan pada tebu selama panen dan pasca panen diantaranya disebabkan oleh kondisi natural varietas tebu dan tempat tumbuhnya, kondisi pra panen, yaitu banyak tebu yang dibakar (Saska et al, 2009; Solomon, 2000), penggunaan mekanisasi dengan tebu dipotong-potong (Mochtar, 1995; Uppal, 2003, Larrahondo, dkk, 2009) dan waktu tunda giling atau tebu lasahan (Mochtar dkk, 1995, Solomon 2000). Pada penelitian yang dilakukan di Kolombia oleh Larrahondo, dkk, 2009 menunjukkan adanya perbedaan kualitas antara metode tebang secara manual dengan mekanik. Penebangan secara mekanik meningkatkan zat asing selain gula dan penurunan pol % tebu sebesar 0,4 poin. Selain itu penebangan secara mekanis meningkatkan kadar amilum dan dekstran dalam nira. Read the rest of this entry »

Share
Saran, Kritik, Ngobrol

Categories
Tweet
Sugar Research Fan Page