Archive for February, 2012

Bahan Penjernih Ramah Lingkungan untuk Analisa pol

Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (PPPGI)
Jl. Pahlawan 25 Pasuruan 67126, Telp : 0343 – 421086 (ext 163)

Pengukuran pol dan nira atau produk gula yang lain dengan polarimeter memerlukan syarat antara lain adalah larutan filtrat yang diukur harus jernih dan tidak berwarna gelap. Persyaratan ini akan lebih ketat lagi untuk polarimeter visual yang mengandalkan mata pengukurnya.

Larutan Timbal Asetat (TA) telah digunakan lebih dari satu abad yang lalu hingga kini untuk bahan penjernih Dibandingkan dengan bahan penjernih dari garam-garam logam lain kualitas penjernih TA lebih unggul (Browne and Zerban,1941) namun mengingat TA adalah logam yang bersifat racun kuat, penggunaannya untuk bahan penjernih mulai dipertanyakan (ICUMSA, 1990).

Pabrik gula di Indonesia seperti beberapa pabrik gula tebu di negara lain masih menggunakan TA sebagai bahan penjernih untuk analisis pol. Kalau dihitung, untuk analisis pol dalam pengawasan pabrikasi, untuk pabrik gula yang berkapasitas 4000 TCD diperlukan tidak kurang dari 100 kg TA per musim giling. Dapat dibayangkan untuk pabrik gula seluruh Indonesia, khususnya di Jawa, diperkirakan sekitar 5 ton TA  per tahun dibuang sebagai limbah analisis pol, atau sekitar 500 ton TA tersebar di perut bumi Pulau Jawa selama seabad ini.

Dengan semakin meningkatnya pengawasan pencemaran lingkungan, hal tersebut di atas merupakan sesuatu yang harus diwaspadai. Salah satu upaya untuk mengantisipasi permasalahan pencemaran yang akan timbul adalah menyediakan bahan penjernih alternatif yang tidak beracun. Usaha untuk mengganti TA sebagai bahan penjernih telah dilakukan  (Lew, 1986; Chou, 1988; Winstroom and Elsen, 1988; Clarke and Bourgeois, 1990; ICUMSA, 1990;  Martoyo dan Santoso, 1992a, 1992b; 1995, 1997; Martoyo et al, 1994; Santoso dan Martoyo, 2000, 2001). Tampaknya garam aluminium paling banyak digunakan dan memberikan harapan. Bahkan untuk pabrik gula beet, penjernih aluminium telah direkomendasikan (tentative) oleh ICUMSA. Sedangkan untuk pabrik gula tebu masih dalam taraf penelitian. Read the rest of this entry »

Share

SEIRI, SEITON, SEISO, SEIKETSU, SHITSUKE

SEIRI, SEITON, SEISO, SEIKETSU, SHITSUKE  atau disingkat 5S. bagi teman yang pernah bekerja di perusahaan Jepang pasti pernah membaca atau mendengar kata-kata tersebut. Pada awal saya dulu bergabung dengan salah satu perusahaan Jepang tidak mengerti apa maksud dari kata-kata tersebut. Selama bekerja di perusahaan itu budaya 5S memang benar-benar dilaksanakan oleh seluruh karyawan tidak peduli Kepala Pabrik, bagian personalia, karyawan staff maupun pekerja.

Apa sebenarnya 5 S itu ? Ini bukan hanya slogan atau kata-kata, 5S adalah sebuah konsep manajemen dalam bekerja yang dikenalkan oleh Hiroyuki Hirano dari Jepang.

1. SEIRI
Merupakan suatu upaya untuk mengurangi dan menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan di tempat kerja. Kita usahakan barang – barang yang ada di sekitar tempat kerja kita adalah barang yang memang kita perlukan untuk menunjang pekerjaan. Bagi pekerja di kantor perlu membuat daftar barang-barang yang tersimpan baik di arsip, meja maupun di ruangan. Demikian juga untuk pekerjaan di pabrik harus ada daftar alat-alat yang ada di daerah tempat bekerja.

2. SEITON
Segala sesuatu harus diletakkan di tempat nya, sehingga apabila dibutuhkan kita tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencari dan menggunakannya. Untuk pekerja kantoran terutama berhubungan dengan penataan file di almari atau rak yang harus diberi nama sesuai kelompoknya. Perlu juga untuk menata file yang ada dalam computer sehingga dengan mudah dapat dicari kalo diperlukan. Bagi pekerja di lapangan atau pabrik, alat-alat pendukung semisal kunci, obeng, dan alat lain ditempatkand dalam satu wadah atau almari dengan diberi tulisan. Apabila selesai menggunakan dikembalikan pada tempat nya semula. Read the rest of this entry »

Share
Saran, Kritik, Ngobrol

Categories
Tweet
Sugar Research Fan Page