Blotong dan Pemanfaatannya

Pada pemrosesan gula dari tebu menghasilkan limbah atau hasil samping, antara lain ampas, blotong dan tetes. Ampas berasal dari tebu yang digiling dan digunakan sebagai bahan bakar ketel uap, partikel board dan bahan baku kertas. Blotong atau filter cake adalah endapan dari nira kotor pada proses pemurnian nira yang di saring di rotary vacuum filter, sedangkan tetes merupakan sisa sirup terakhir dari masakan yang telah dipisahkan gulanya melalui kristalisasi berulangkali sehingga sulit menghasilkan kristal.

Rata-rata blotong dihasilkan sebanyak 3.8 % tebu atau sekitar 1.1 juta ton blotong per tahun (produksi tebu tahun 2011 sekitar 28 juta ton). Blotong dari PG Sulfitasi rata-rata berkadar air 67 % dan kadar pol 3 %. Komposisi blotong secara umum dapat dilihat pada tabel 1.

 Tabel 1. Komposisi dari blotong

Blotong merupakan limbah yang bermasalah bagi pabrik gula dan masyarakat karena blotong yang basah menimbulkan bau busuk. Oleh karena itu apabila blotong dapat dimanfaatkan akan mengurangi pencemaran lingkungan.

Pemanfaatan Blotong

1.     Sumber Protein

Kandungan protein dari nira sekitar 0.5 % berat zat padat terlarut. Dari kandungan tersebut telah dicoba untuk melakukan ekstraksi protein dari blotong dan ditemukan bahwa kandungan protein dari blotong yang dipress sebesar 7.4 %. Protein hanya dapat diekstrak menggunakan zat alkali yang kuat seperti sodium dodecyl sulfate. Kandungan dari protein yang dapat diekstrak antara lain albumin 91.5 %; globulin 1 %; etanol terlarut 3 % dan protein terlarut 4 %.

2.     Pakan Ternak

Blotong dapat digunakan sebagai pakan ternak dengan cara dikeringkan dan dipisahkan partikel tanah yang terdapat didalamnya. Untuk menghindari kerusakan oleh jamur dan bakteri blotong yang dikeringkan harus langsung digunakan dalam bentuk pellet

3.     Briket

Pada saat ini pemanfaatan blotong antara lain sebagai bahan bakar alternative dalam bentuk briket. Untuk pembuatan briket blotong dipadatkan lalu dikeringkan. Keuntungan menggunakan briket blotong adalah harganya yang lebih murah daripada kayu bakar dan bahan bakar lain. Akan tetapi untuk membuat briket ini diperlukan waktu cukup lama antara 4 sampai 7 hari pengeringan, selain itu juga tergantung dari kondisi cuaca.

4.     Pupuk

Blotong dapat digunakan langsung sebagai pupuk, karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanah. Untuk memperkaya unsur N blotong dikompos dengan ampas tebu dan abu ketel (KABAK). Pemberian ke tanaman tebu sebanyak 100 ton blotong atau komposnya per hektar dapat meningkatkan bobot dan rendemen tebu secara signifikan. Kandungan hara kompos ampas tebu (KAT), blotong dan kompos dari ampas tebu, blotong dan abu ketel (KABAK)  disajikan pada Tabel 2.

 

Tabel 2. Hasil analisis kimia KAT, blotong dan KABAK

Analisis

KAT

Blotong

KABAK

 

  pH

 

7.32

 

7.53

 

6.85

  Karbon (C), %

16.63

26.51

26.51

  Nitrogen (N), %

1.04

1.04

1.38

  Nisbah C/N

16.04

25.62

15.54

  Fosfat (P2O5), %

0.421

6.142

3.020

  Kalium (K2O), %

0.193

0.485

0.543

  Natrium (Na2O), %

0.122

0.082

0.103

  Kalsium (Ca), %

2.085

5.785

4.871

  Magnesium (Mg), %

0.379

0.419

0.394

  Besi (Fe), %

0.251

0.191

0.180

  Mangan (Mn), %

 

0.066

0.115

0.090

 

Mengingat pentingnya pengendalian pencemaran lingkungan, maka hendaknya blotong diolah sehingga mempunyai manfaat dan memberikan nilai lebih selain itu dapat mengurangi pencemaran.

 

 


 

 

Pada pemrosesan gula dari tebu menghasilkan limbah atau hasil samping, antara lain ampas, blotong dan tetes. Ampas berasal dari tebu yang digiling dan digunakan sebagai bahan bakar ketel uap, partikel board dan bahan baku kertas. Blotong atau filter cake adalah endapan dari nira kotor pada proses pemurnian nira yang di saring di rotary vacuum filter, sedangkan tetes merupakan sisa sirup terakhir dari masakan yang telah dipisahkan gulanya melalui kristalisasi berulangkali sehingga sulit menghasilkan kristal.

 

Rata-rata blotong dihasilkan sebanyak 3.8 % tebu atau sekitar 1.1 juta ton blotong per tahun (produksi tebu tahun 2011 sekitar 28 juta ton). Blotong dari PG Sulfitasi rata-rata berkadar air 67 % dan kadar pol 3 %. Komposisi blotong secara umum dapat dilihat pada tabel 1.

 

Tabel 1. Komposisi dari blotong

 

 

Komponen

 

 

% Zat Kering

 

Wax dan fat kasar

Protein kasar

Sabut

Gula

Total Abu

SiO2

CaO

P2O5

MgO

 

 

5  -  14

5  -  15

15  -  30

5  -  15

9  -  20

4  -  10

1  -  4

1  -  3

0.5  -  1.5

 

Blotong merupakan limbah yang bermasalah bagi pabrik gula dan masyarakat karena blotong yang basah menimbulkan bau busuk. Oleh karena itu apabila blotong dapat dimanfaatkan akan mengurangi pencemaran lingkungan.

 

 

Pemanfaatan Blotong

 

1.     Sumber Protein

Kandungan protein dari nira sekitar 0.5 % berat zat padat terlarut. Dari kandungan tersebut telah dicoba untuk melakukan ekstraksi protein dari blotong dan ditemukan bahwa kandungan protein dari blotong yang dipress sebesar 7.4 %. Protein hanya dapat diekstrak menggunakan zat alkali yang kuat seperti sodium dodecyl sulfate. Kandungan dari protein yang dapat diekstrak antara lain albumin 91.5 %; globulin 1 %; etanol terlarut 3 % dan protein terlarut 4 %.

 

2.     Pakan Ternak

Blotong dapat digunakan sebagai pakan ternak dengan cara dikeringkan dan dipisahkan partikel tanah yang terdapat didalamnya. Untuk menghindari kerusakan oleh jamur dan bakteri blotong yang dikeringkan harus langsung digunakan dalam bentuk pellet

 

3.     Briket

Pada saat ini pemanfaatan blotong antara lain sebagai bahan bakar alternative dalam bentuk briket. Untuk pembuatan briket blotong dipadatkan lalu dikeringkan. Keuntungan menggunakan briket blotong adalah harganya yang lebih murah daripada kayu bakar dan bahan bakar lain. Akan tetapi untuk membuat briket ini diperlukan waktu cukup lama antara 4 sampai 7 hari pengeringan, selain itu juga tergantung dari kondisi cuaca.

 

4.     Pupuk

Blotong dapat digunakan langsung sebagai pupuk, karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanah. Untuk memperkaya unsur N blotong dikompos dengan ampas tebu dan abu ketel (KABAK). Pemberian ke tanaman tebu sebanyak 100 ton blotong atau komposnya per hektar dapat meningkatkan bobot dan rendemen tebu secara signifikan. Kandungan hara kompos ampas tebu (KAT), blotong dan kompos dari ampas tebu, blotong dan abu ketel (KABAK)  disajikan pada Tabel 2.

 

Tabel 2. Hasil analisis kimia KAT, blotong dan KABAK

 

Analisis

KAT

Blotong

KABAK

 

  pH

 

7.32

 

7.53

 

6.85

  Karbon (C), %

16.63

26.51

26.51

  Nitrogen (N), %

1.04

1.04

1.38

  Nisbah C/N

16.04

25.62

15.54

  Fosfat (P2O5), %

0.421

6.142

3.020

  Kalium (K2O), %

0.193

0.485

0.543

  Natrium (Na2O), %

0.122

0.082

0.103

  Kalsium (Ca), %

2.085

5.785

4.871

  Magnesium (Mg), %

0.379

0.419

0.394

  Besi (Fe), %

0.251

0.191

0.180

  Mangan (Mn), %

 

0.066

0.115

0.090

 

Mengingat pentingnya pengendalian pencemaran lingkungan, maka hendaknya blotong diolah sehingga mempunyai manfaat dan memberikan nilai lebih selain itu dapat mengurangi pencemaran.

 

 

Share

3 Responses to “Blotong dan Pemanfaatannya”

Leave a Reply

*

Saran, Kritik, Ngobrol

Categories
Tweet
Sugar Research Fan Page