Archive for December, 2011

Pemurnian Nira di Pabrik Gula

Salah satu tahap dari pembuatan gula adalah proses pemurnian. Pada proses pemurnian, zat bukan gula yang terdapat dalam gula dihilangkan dengan cara kimia. Bahan baku dari proses pemurnian adalah nira mentah (raw juice). Nira mentah mengandung sukrosa, gula invert (glukosa+fruktosa), atom-atom (Ca,Fe,Mg,Al) yang terikat pada asam-asam, asam organik dan an organik, zat warna, lilin, asam-asam kieselgur yang mudah mengikat besi, aluminium, dan sebagainya.

Seperti hal nya suatu reaksi kimia, untuk mencapai keberhasilan dalam reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor.  Parameter utama yang dapat mempengaruhi proses pemurnian nira adalah pH, suhu dan waktu. pH dari nira selama proses berpengaruh terhadap sukrosa yang terdapat dalam nira.

pH

Sukrosa

Glukosa + Fruktosa

7

Tidak terjadi inversi (aman) Tidak terjadi degradasi (aman)

< 7

Inversi menjadi gula reduksi Aman

> 7

Aman Terbentuk zat warna dan asam organik.

Skema Proses Pemurnian Nira

Read the rest of this entry »

Share

Pengertian, pol, brix dan HK dalam Analisa Gula

Dalam industri gula dikenal istilah-istilah pol, brix dan HK (hasil bagi kemurnian). Istilah-istilah ini terdapat analisa gula, baik dari nira sampai menjadi gula kristal. Tebu yang bersih terdiri dari air (73 – 76 %),  zat padat terlarut (10 – 16 %), sabut (11 – 16 %). Setelah tebu dicacah dan diperah di gilingan menghasilkan nira dan ampas. Nira tebu pada dasarnya terdiri dari dua zat, yaitu zat padat terlarut  dan air. Zat padat yang terlarut ini terdiri dari dua zat lagi yaitu gula dan bukan gula.

 

Zat padat terlatut atau biasa disebut dengan brix mengandung gula, pati, garam-garam dan zat organik. Baik buruknya kualitas nira tergantung dari banyaknya jumlah gula yang terdapat dalam nira. Untuk mengetahui banyaknya gula yang terkandung dalam gula lazim dilakukan analisa brix dan pol. Kadar pol menunjukkan resultante dari gula (sukrosa dan gula reduksi) yang terdapat dalam nira.

DERAJAT  BRIX
brix adalah jumlah zat padat semu yang larut (dalam gr) setiap 100 gr larutan. Jadi misalnya brix nira = 16, artinya bahwa dari 100 gram nira, 16 gram merupakan zat padat terlarut dan 84 gram adalah air. Untuk mengetahui banyaknya zat padat yang terlarut dalam larutan (brix) diperlukan suatu alat ukur. Read the rest of this entry »

Share

Sekilas Proses Pembuatan Gula

Gula merupakan salah satu bahan makanan pokok di Indonesia. Rata – rata manusia di Indonesia mengkonsumsi gula sebanyak 12 – 15 kg per tahun. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, tentu kebutuhan akan gula akan semakin meningkat pula. Di Indonesia gula kristal yang konsumsi sehari – hari didominasi oleh gula tebu. Gula kristal ini dibuat dan diproses dari tanaman tebu. Bagi penduduk di daerah pedesaan Jawa tentu sudah sangat kenal dengan Tebu ini. Tanaman ini merupakan jenis tanaman semusim yang dipanen atau ditebang satu tahun sekali..

Pernah kah anda membayangkan bagaimana membuat gula dari Tebu ?? lain hal nya dengan beras atau jagung atau bahan pokok lain. Proses pembuatan gula dari tebu memerlukan beberapa tahapan dan proses kimia serta mekanis. Kalau beras yang kita makan hanya dilakukan proses penggilingan dari gabah menjadi beras beda dengan pembuatan gula dari tebu yang harus dilakukan dalam skala pabrik. Untuk mengetahui langkah pembuatan gula dari tebu dapat anda lihat di diagram di bawah :

Pada umumnya pemrosesan tebu di pabrik gula dibagi menjadi beberapa tahap yang dikenal dengan proses pemerahan (gilingan), pemurnian, penguapan, kristalisasi, pemisahan dan penyelesaian (sugar handling)..

GILINGAN
Langkah pertama dalam proses pembuatan gula adalah pemerahan tebu di gilingan. Pada proses ini tebu yang ditebang dari kebun dicacah menggunakan alat pencacah tebu. Biasanya terdiri dari cane cutter, hammer shredder atau kombinasi dari keduanya. Tebu diperah menghasilkan “nira” dan “ampas”. Nira inilah yang mengandung gula dan akan di proses lebih lanjut di pemurnian. Ampas yang dihasilkan pada proses pemerahan ini digunakan untuk berbagai macam keperluan. Kegunaan utama dari ampas adalah sebagai bahan bakar ketel (boiler) dan apabil berlebih bisa digunakan sebagai bahan partikel board, furfural, xylitol dan produk lain. Read the rest of this entry »

Share

Sugar Losses in Processing

Proses pembuatan gula kristal putih (plantation white sugar) terdiri dari berbagai tahap. Tahapan proses terdiri dari pemerahan di gilingan, pemurnian nira, penguapan, kristalisasi sampai proses sugar handling. Dari tahapan proses tersebut tentu ada beberapa kehilangan (losses) yang tidak dapat dihindari. Tugas dari seorang process engineer  adalah untuk meminimalkan losses sehingga gula kristal yang diperoleh semaksimal mungkin.

Secara garis besar losses pada proses pengolahan gula dapat dibagi menjadi tiga bagian :

  1. Determined losses
  2. Undetermined losses
  3. Hidden losses

Determined Losses

Determined losses atau kehilangan yang dapat dihitung melalui analisa adalah kehilangan di dalam ampas, blotong dan tetes. Pada proses pemerahan di gilingan tebu di perah menghasilkan nira mentah dan ampas. Nira mentah sebagai bahan baku proses pemurnian dan ampas adalah sisa hasil pemerahan. Di dalam ampas masih terdapat gula dan di laboratorium di analisa kadar pol nya. Kadar pol ampas dikatakan baik adalah 2 %. Apabila lebih dari 2 % dapat dikatakan terjadi kehilangan gula di ampas. Tugas dari bagian gilingan adalah untuk menekan kehilangan dalam ampas seminimal mungkin dengan setting gilingan, pressing, pemberian imbibisi dan kondisi operasional di gilingan yang optimal. Read the rest of this entry »

Share
Saran, Kritik, Ngobrol

Categories
Tweet
Sugar Research Fan Page