Pengukuran pol dan nira atau produk gula yang lain dengan polarimeter memerlukan syarat antara lain adalah larutan filtrat yang diukur harus jernih dan tidak berwarna gelap. Persyaratan ini akan lebih ketat lagi untuk polarimeter visual yang mengandalkan mata pengukurnya.
Larutan Timbal Asetat (TA) telah digunakan lebih dari satu abad yang lalu hingga kini untuk bahan penjernih Dibandingkan dengan bahan penjernih dari garam-garam logam lain kualitas penjernih TA lebih unggul (Browne and Zerban,1941) namun mengingat TA adalah logam yang bersifat racun kuat, penggunaannya untuk bahan penjernih mulai dipertanyakan (ICUMSA, 1990).
Pabrik gula di Indonesia seperti beberapa pabrik gula tebu di negara lain masih menggunakan TA sebagai bahan penjernih untuk analisis pol. Kalau dihitung, untuk analisis pol dalam pengawasan pabrikasi, untuk pabrik gula yang berkapasitas 4000 TCD diperlukan tidak kurang dari 100 kg TA per musim giling. Dapat dibayangkan untuk pabrik gula seluruh Indonesia, khususnya di Jawa, diperkirakan sekitar 5 ton TA per tahun dibuang sebagai limbah analisis pol, atau sekitar 500 ton TA tersebar di perut bumi Pulau Jawa selama seabad ini.
Penjernih Alternatif Formula 1 (FORM A dan FORM B)
Deskripsi
Bahan penjernih alternatif formula 1 terdiri dari dua macam bahan (FORM A dan FORM B) yang digunakan sebagai “bahan penjernih” dalam analisis pol (kadar gula) nira atau produk gula lain. Kedua bahan tersebut diberikan secara “in situ” ke dalam nira, masing-masing dalam bentuk larutan pada konsentrasi dan volume tertentu dengan tidak mengubah cara penjernihan yang berlaku selama ini di pabrik gula.
Kemampuan
Pol merupakan resultan dari kadar sukrosa, gula glukosa dan gula fruktosa. Dibanding penjernih Timbal Asetat (TA) maka penjernih formula 1 ini tidak mengendapkan gula fruktosa yang ada dalam nira atau produk gula lain, sehingga pembacaan pol yang ditunjukkan sesuai dengan kenyataan pol yang ada dalam nira. Bahan penjernih ini adalah bahan yang aman, tidak beracun dan tidak mencemari lingkungan.
Pengujian terhadap contoh gula murni (GKP I) yang sama dengan beberapa ulangan (duplikasi) menunjukkan bahwa antara pol standard, pol formula 1 dan pol TA tidak terdapat perbedaan yang berarti pada taraf 5 %. Namun rata-rata pol formula 1 lebih dekat dengan rata-rata pol standard daripada pol TA. Repeatability dari pol TA (rTA) = 0,402 lebih besar dari yang lain, rFormula 1 = 0,190 dan rStandard = 0,201. Kekeruhan filtrat TA (10,1 mg SiO2/L) lebih tinggi dari yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa untuk contoh gula murni penjernih formula 1 lebih cocok daripada penjernih TA.
PROSEDUR ANALISIS POL DENGAN BAHAN PENJERNIH FORM A DAN FORM B
Contoh nira perahan pertama, nira mentah, dan nira encer tidak diperlukan pengenceran sebelum dilakukan analisis. Sedangkan contoh-contoh yang pekat perlu diencerkan. Nira kental diencerkan 5 kali (w/w), setrup-setrup dan masakan-masakan diencerkan 10 kali (w/w) dan tetes diencerkan 15 kali (w/w). Prosedur penjernihan:
Bilasi labu takar 100-110 mL dengan nira yang encer tersebut, kemudian ukur 100 mL tepat. Tambahkan penjernih alternatif yaitu 5 mL Form A dan 5 mL FORM B, dikocok sampai homogen. Disaring dengan kertas saring Whatman 91 (atau kertas saring merang yang telah diperlakukan), 10 mL filtrat pertama dipakai sebagai pembilas tabung filtrat, selanjutnya penyaringan diteruskan sampai cukup untuk pengukuran pol. Filtrat diukur polnya dengan polarimeter.


Aww..
maz kuswurj,..
according to ‘09 season, we have experiences that FORM A/B was not clearly as use TA..
why.??
thanks b4
wass
I think that’s depend on our habit,as by using TA the clarify is rapidly comparing with form A & B. about the clearness of the solution its depend on the shaking. Perhaps your laboratory need to learn how to shake well ( I meant shake the bottle ) .,,, hahahaa…
mas risvank & mas humamy,
the latest clarifying technology is using Celite & autofilt, combined with NIR Pol measurement.
very short time. approx 1 min to clarify.
regards,
Adi