Archive for July, 2008

Efisiensi dari pabrik gula secara umum dinyatakan dalam tingkat ekstraksi di stasiun gilingan dan perolehan gula di stasiun pengolahan (boiling house). Overal Recovery diperoleh dengan mengalikan tingkat ekstraksi di stasiun gilingan dengan perolahan gula di stasiun pengolahan. Di Indonesia sistem perhitungan yang digunakan adalah dengan menggunakan Faktor Rendemen (FR)

Faktor Rendemen = KNT x HPB x PSHK x WR

KNT = Kadar Nira Tebu = Sap Gehalte Riet
Merupakan suatu angka yang menunjukkan jumlah nira tebu yang berhasil diperah oleh stasiun gilingan (nira tebu % tebu).
Yang mempengaruhi KNT antara lain :

1. Mutu tebu, jenis tebu, kadar sabut

2. Umur tebu : makin tua makin rendah
3. Kesegaran tebu
4. Kebersihan tebu
5. Mutu tebangan
6. Kotoran-kotoran tanah
7. Timbangan tebu dan nira
8. Timbangan air imbibisi. Read the rest of this entry »

Oleh :
Risvan Kuswurjanto
Amin Hidayat
Jurusan Teknik Kimia
ITS Surabaya 2003

ABSTRAK

Beton merupakan bahan konstruksi yang paling banyak digunakan karena kekuatannya dan ekonomis. Ion klorida yang terdapat di lingkungan dapat menyebabkan kerusakan dini pada beton. Kerusakan ini terjadi karena ion klorida menyerang baja tulangan beton sehingga terkorosi. Untuk itu dipelajari suatu cara untuk mencegah proses korosi yang terjadi pada beton. Dalam penelitian ini akan dilakukan pencegahan korosi dengan proteksi katodik secara impressed current.

Penelitian ini dilakukan dengan pemaparan spesimen beton bertulang di laboratorium dengan beberapa variasi komposisi beton bertulang, kondisi lingkungan yang meliputi kadar ion klorida dan posisi anoda dalam beton dengan standart kontrol perlindungan depolarisasi 100mv. Setelah dilakukan proteksi, lalu mengukur laju korosi besi tulangan dengan metode Elechtrochemical Impedance Spectroscopy (EIS) pengukuran ini dilakukan setiap 5 hari sekali. Selanjutnya hasil pengukuran dianalisa untuk mengetahui laju korosinya.

Dari penelitian yang dilakukan diperoleh bahwa resistansi dari beton dipengaruhi oleh kondisi dari lingkungan dan komposisi nya. Semakin tinggi konsentrasi larutan NaCl maka resistansi beton semakin rendah sehingga lebih reaktif. Beton dengan komposisi 1:2 mempunyai resistasni lebih tinggi daripada komposisi 1:4.

Kata kunci : beton; elechtrochemical impedance spectroscopy;korosi; proteksi katodik Read the rest of this entry »

Oh Tuhan!!
Aku telah menemukan cinta!

Betapa mengagumkannya!
Betapa luhurnya!
Beta indahnya cinta itu!

Tubuhku hangat
oleh panasnya
cinta ini

Betapa rahasia
Betapa mendalam!
Betapa terang cinta ini!

Kuberikan penghormatanku
pada bintang gemintang dan rembulan
Kuberikan penghormatanku
pada roh gairah
yang menggetarkan dan membangkitkan
gairah alam ini beserta isinya

Aku telah tersungkur
tanpa mampu bangkit
Jebakan macam apa ini?
Rantai apa yang telah membelenggu tangan dan kakiku

Sungguh aneh
dan amatlah menakjubkan
ketakberdayaanku yang tercinta ini

Diamlah
jangan membuka rahasia
cintaku yang mulia

( RUMI )

ABSTRAK

Nira tebu yang segar kemurnian sukrosanya tinggi, kemudian akan mengalami penurunan mutu jika disimpan cukup lama, lebih-lebih tanpa ditambahkan bahan pengawet. Nira menjadi keruh, berwarna lebih pekat dan berbau akibat dari perkembang-biakan mirkoba di dalam nira. Di pabrik gula, biasanya terjadi pada saat pabrik berhenti giling yang cukup lama, terutama nira-nira yang encer yang terdapat di peti-peti tunggu (brix < 25 %). Pengukuran kadar gula (sukrosa) secara polarimetris terhadap nira semacam ini cukup sulit, dengan bahan penjernih yang ada nira tidak dapat dijernihkan sehingga tidak dapat dibaca dengan polarimeter. Untuk itu dilakukan suatu percobaan menentukan kadar sukrosa dalam nira yang rusak tersebut. Penentuan kadar sukrosa dilakukan secara polarimetris (polarisasi ganda) dan secara titrasi (reduksi ganda) terhadap nira segar dan nira rusak (nira yang telah disimpan terbuka selama ± 24 jam pada suhu kamar tanpa ditambahkan bahan pengawet). Hasil percobaan menunjukkan bahwa kadar sukrosa dalam nira segar dapat ditentukan dengan cara polarimetris dan cara titrasi, karena kadar sukrosa yang dihasilkan dengan kedua cara tersebut tidak berbeda. Sedangkan kadar sukrosa dalam nira yang rusak pada umumnya tidak dapat ditentukan dengan cara polarimetris, tetapi secara titrasi dapat ditentukan dengan baik dan sukses. Dengan demikian kadar sukrosa dalam nira yang rusak mutunya akibat penyimpanan yang cukup lama dapat ditentukan secara titrasi (reduksi ganda). Hal ini cukup bermanfaat bagi para praktisi pabrik gula dalam mengambil keputusan apakah nira tersebut layak untuk diproses lebih lanjut atau dibuang saja.

Kata kunci: kadar sukrosa, nira rusak, pol ganda, reduksi ganda.

full article