Gula selain dikonsumsi langsung juga digunakan sebagai bahan baku untuk industri makanan. Pada saat ini kebanyakan pabrik gula di Indonesia hanya mampu menghasilkan gula kualitas GKP (gula kristal putih) yang dikonsumsi langsung. Gula SHS ini masih belum memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan baku industri makanan. Untuk itu industri makanan membutuhkan kualitas gula yang lebih baik yang diperoleh dari gula rafinasi. Kata rafinasi diambil dari kata refinery artinya menyuling, menyaring, membersihkan. Jadi bisa dikatakan bahwa gula rafinasi adalah gula yang mempunyai kualitas kemurnian yang tinggi.

Proses Pembuatan Gula Rafinasi

Proses rafinasi yang digunakan dalam pabrik gula rafinasi bervariasi tergantung pada bahan yang diolah produk yang dikehendaki dan pertimbangan lain sesuai kondisi lokal. Namun demikian secara garis besar dapat diuraikan menjadi stasiun sebagai berikut :

skema-rafinasi
A. Afinasi

Tujuan afinasi adalah mencuci kristal GKM (raw sugar) agar lapisan molases yang melapisi kristal berkurang sehingga warnanya semakin ringan atau warna ICUMSA lebih kecil. Pencucian dilakukan dalam mesin sentrifugal yaitu setelah GKM dicampur dengan sirup menjadi magma. Penurunan warna yang dicapai pada stasiun ini berkisar 30-50 %. Kristal yang telah dicuci dilebur dengan mencampur dengan air atau sweet water menghasilkan leburan (liquor) dengan brix sekitar 65.

B. Klarifikasi

Pengoperasian unit ini bertujuan untuk membuang semaksimal mungkin pengotor non sugar yang ada dalam leburan (melt liquor). Ada dua pilihan teknologi yaitu fosflotasi dan karbonatasi, keduanya banyak dipakai, fosflotasi pada umumnya digunakan di pabrik rafinasi di negara Amerika Latin dan beberapa di Asia sedangkan selebihnya menggunakan teknologi karbonatasi, termasuk pabrik rafinasi di Indonesia.

Teknologi Fosflotasi

Pada proses ini digunakan asam fosfat dan kalsium hidroksida yang akan membentuk gumpalan (primer) kalsium fosfat, reaksi ini berlangsung di reaktor. Penambahan flokulan (anion) sebelum tangki aerator dilakukan untuk membantu pembentukan gumpalan sekunder yang terbentuk dari gumpalan-gumpalan primer yang terikat oleh rantai molekul flokulan. Pembentukan gumpalan sekunder dapat menjerap berbagai pengotor : zat warna, zat anorganik, partikel yang melayang dan lain-lain. Untuk memisahkan gumpalan tersebut oleh karena dalam media liquor yang kental (brix: 65-70) maka gumpalan tidak diendapkan melainkan diambangkan. Proses pengambangan berlangsung dengan bantuan partikel udara yang dibangkitkan dalam aerator, proses pengambangan terjadi pada clarifier. Pada clarifier ini juga pemisahan gumpalan yang mengambang (scum) terjadi, yaitu dengan sekrap yang berputar pada permukaan clarifier dan menyingkirkan scum ke kanal yang dipasang pada sekeliling clarifier.

Teknologi Karbonatasi

Pada proses karbonatasi leburan dibubuhi kapur {Ca(OH)2} kemudian dialiri gas CO2 dalam bejana karbonatasi , terbentuk endapan kalsium karbonat yang akan menyerap pengotor termasuk zat warna.

Sumber gas CO2 berasal dari gas cerobong ketel yang sudah dimurnikan melalui scrubber. Proses karbonatasi dilakukan dua tahap, pertama dilakukan pembubuhan kapur sebanyak 0,5% brix bersamaan dengan pengaliran CO2 ekivalen dengan jumlah kapur yang ditambahkan. Kedua pada karbonator akhir menyempurnakan reaksi dengan aliran CO2 sampai pH turun di sekitar 8,3. Selanjutnya liquor ditapis pada penapis bertekanan (leaf filter) menghasilkan filter liquor dan mud.

C. Dekolorisasi

Liquor yang dihasilkan dari stasiun klarifikasi setelah ditapis dipompa ke stasiun dekolorisasi. Pada stasiun dekolorisasi pada prinsipnya ada dua teknologi yang lazim digunakan yaitu karbon aktif dan penukar ion, masing-masing dengan keunggulan dan kelemahannya. Kedua teknologi tersebut dapat menurunkan warna sekitar 75-85 %, pemilihan teknologi harus disesuaikan dengan kondisi lokal.

Macam zat warna

Terdapat beberapa macam zat warna yang terbawa atau terbentuk dalam proses refinery, yaitu :

1. Senyawaan Phenolic.

Senyawaan ini terdapat dalam tebu yang terbentuk dari hasil reaksi enzimatik flavonoid dan asam cinamic.

2. Melanoidins.

Warna senyawa ini umumnya hitam, terbentuk dari reaksi antara gula reduksi dengan asam amino (Reaksi Maillard), terbentuk dalam proses.

3. Karamel.

Terbentuk dalam proses bila sukrosa mengalami pemanasan berlebihan sehingga terbentuk senyawaan yang berwarna. Warna yang dihasilkan bisa kuning, coklat atau hitam tergantung dari tingkatan reaksi selama pemanasan.

4. Produk degradasi gula invert.

Meskipun kandungan glukosa dan fruktosa dalam proses refinery sangat kecil, namun senyawa ini mudah rusak oleh pemanasan terutama pada pH tinggi akan membentuk senyawaan polimer berwarna coklat yaitu 5-(hydroksimetil)-2-furaldehid.

Untuk menghilangkan zat warna dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

1. Dengan granul karbon aktif.

Kandungan karbon aktif sekitar 60 % dan dicampur dengan 5% MgO untuk mencegah turunnya pH. Karbon aktif ini dapat digunakan selama 3-6 minggu tergantung dari kualitas dan jumlah bahan yang masuk. Kemampuan karbon aktif dalam mereduksi zat warna sangat tinggi, namun bahan ini tidak mampu menghilangkan zat anorganik yang terlarut.

2. Bone Char.

Bahan ini terdiri dari campuran 90 % kalsium fosfat dan 10 % karbon yang dibuat dari tulang-tulang binatang ternak dipanaskan pada suhu 700 oC. Bone char dapat digunakan selama 4-5 hari kemudian di regenerasi kembali. Meskipun kemampuan mereduksi zat warna tidak sebaik karbon aktif namun mampu mereduksi kotoran zat anorganik.

3. Resin penukar ion (Ion- Exchange Resin)

Bahan ini mudah diregenerasi dan dalam penggunaannya mempunyai kapasitas lebih besar dibandingakan dengan karbon aktif maupun bone char, Selain itu penggunaan air juga lebih efisien. Ada dua jenis resin yang digunakan dalam refinery yaitu :Resin anion yang berfungsi mereduksi warna dan resin kation untuk menghilangkan senyawaan anorganik. Penggunaan resin senyawa akrilic lebih tahan dari resin stiren, namun resin akrilik kurang effektif dibanding resin stiren. Oleh sebab itu dalam proses dekolorisasi dianjurkan untuk menggunakan gabungan dua jenis resin ini secara seri, pertama sirup dilewatkan resin akrilik terlebih dahulu kemudian baru dilewatkan resin stiren.

Pada umumnya stasiun dekolorisasi menghasilkan liquor dengan warna di bawah 300 IU sehingga dengan bahan tersebut dapat diproduksi gula rafinasi lebih rendah dari 45 IU.

D. Kristalisasi

Produksi gula rafinasi

Bahan utama kristalisasi adalah liquor yang sudah melewati tahap dekolorisasi. Liquor tersebut kemurniannya tinggi sehingga teknik kristalisasi berbeda dengan kristalisasi pada PG.

Kristalisasi (evapocrystalisation) dilakukan di bejana vakum (65 cm Hg) dengan penguapan liquor pada suhu sekitar 70-80 0C sampai mencapai supersaturasi tertentu. Pada kondisi tersebut dimasukkan bibit kristal secara hati-hati sehingga inti kristal akan tumbuh mencapai ukuran yang dikehendaki tanpa menumbuhkan kristal baru. Campuran kristal sukrosa dengan liquor disebut masakan. Pemisahan kristal dilakukan dengan cara memutar masakan dalam mesin sentrifugal menghasilkan kristal (gula A) dan sirop A. Selanjutnya sirop A dimasak seperti yang dilakukan sebelumnya menghasilkan gula B dan sirop B. Demikian seterusnya sehingga secara berjenjang menghasilkan gula A, B dan C yang masuk dalam katagori gula rafinasi.

E. Pengeringan gula produk

Untuk gula produk dibuat dua jalur dengan tujuan agar dapat diproduksi dua macam produk misal GKR dan GKP pada waktu yang bersamaan. Pembuatan dua jalur dimulai dari stasiun sentrifugal, pengering gula penimbangan dan pengemasan.

F. Pengemasan gula produk

Produk dikemas dalam kantong polipropilen dengan liner, dengan berat gula 50 kg setiap kantong. Gula ditampung dalam sugar bin kapasitas 150 ton.

Tabel 1. Persyaratan SNI Gula Rafinasi

56 Responses to “GULA RAFINASI DAN PROSES PEMBUATANNYA”

  • Martoyo:

    Risvan,

    teruskan update websitemu. Limayan sudah bagus kok.
    Tolong untuk info2 lain, bisa cari diperpustakaan P3GI.
    Selamat ya…

    Salam

  • Terima kasih atas kunjungannya, Bung Risvan.
    Profesi anda menarik sekali. Dulu di kampung saya, tebu cuma buat dimakan (tapi ampasnya dibuanh heheh). Lalu tebu diolah menjadi gula. Kini, tebu bisa jadi bahan bakar kendaraan.

    Selamat bekerja. Semoga dari tebu akan muncul solusi.

    Kun

  • Tri asmuri:

    Men,,,Jelasin lagi donk Proses affinasinya yang lebih mendetail,,!!!

    seprti : - kenapa brix harus segitu ?
    - pengaruh divacuum pan seperti apa ?
    - saat pemisahan raw sugar dan mollases di afinasi centrifugar seperti apa,suhunya berapa,jika tinggi kenapa dan rendah kenapa,banyk lagi deh,,,

  • suro:

    hemmmm begitu ya…
    lalu kenapa gula rafinasi kok harganya lebih murah ya.. diliat dari proses, dia lebih panjang ???

    mohon pencerahannya?

  • Umar:

    Salam, Pak, bagus sekali web-nya. Begini, mo tanya neh apa perbedaan paling signifikan antara gula rafinasi dengan gula biasa yang sering di konsumsi oleh masy (Sukrosa). Kemudian, untuk membedakannya, adakah cara yang paling tepat dan dapat diterima secara ilmiah?
    Terima kasih

    http://food4healthy.wordpress.com

  • Joko:

    Dear Pak Risvan,
    Mudah2an bpk tidak keberatan untuk mengirimkan artikel tentang proses pembuatan dan pemurnian gula tebu ke alamat email saya : ferrite76@yahoo.com
    Terutama bagaimana cara menjernihkan gula…
    terimakasih.

  • risvank:

    Dilihat dari fisiknya gula rafinasi sdh terlihat berebda dari GKP. Untuk lebih meyakinkan bisa dilakukan analisa warna ICUMSA nya. Gula rafinasi warnanya dibawah 50 IU. sedangkan gula kristal berkisar antara 200 - 300 IU.

  • ratna:

    Dear Mas Risvan,

    Saat ini saya sedang persiapan untuk uji kompetensi ,saya membutuhkan PID pabrik gula, untuk mengetahui alat yg di gunakan (mis, pada proses ekstrasi, penguapan dll).
    Bisa tolong bantu saya mas.
    Kalo tidak keberatan bisa kirim ke email saya mas ngalemi241098@yahoo.com

    Terima kasih

  • rafinasi boy:

    naym nyam nyam.. gula rafinasi.. nyam nyam nyam!

  • ree:

    jika gula rafinasi memiliki kualitas tinggi,mengapa banyak anggapan bahwa gula tsb berbahaya di konsumsi?dan dilarang peredarannya di lingk. masy.?

  • risvan:

    Gula rafinasi diperuntukkan untuk industri jadi kalau di edarkan untuk konsumsi masyarakat bsa mengganggu stabilisasi harga. masalah harga yang lebih murah itu tergantung dari hukum pasar,….

  • rudy:

    risvan

    memang saat ini gula rafinasi dipersalahkan karena masuk ke retel yg katanya dapat menggangu harga gula ex pabrik gula tebu. menurut saya sih gak begitu ya. pemerintah lah yang harus membuat harga patokan gula ex pabrik gula lebih tinggi dari yang ada saat ini misal Rp 6000/kg pasti petani akan lebih semangat menanam tebu dan pabrik gula juga dapat lebih bergairah. moga2 ya

  • gula boy:

    GULA!! EA!!!

  • mas, thx
    tak pakai literatur..dms

  • chano:

    pak…
    memangnya apa perbedaan antara gula rafinasi dengan obat gula yang di jual secara umum.

    tyus gimana pendapat anda tentang larangan gula rafinasi untuk yang dikonsumsi itu yang bagaimana??

  • dido:

    Mas, berapa sih prosentase gula jadi yang dihasilkan dari raw sugar yang diolah di industri rafinasi?

  • ardhea:

    wah…rupanya anda sangat nglonthok tentang pengolahan tebu. di tempat aku kuliah, proses pengolahan tebu itu menjadi momok. mata kuliahnya satuan operasi, makanya gak ada yang berani ambil kerja praktik di pengolahan tebu..takut gak selesai2

  • risvank:

    @ardhe emang kuliah dimana??? jur tek kim??

  • Elsa:

    Mohon infonya, kalo ada proses pembuatan gula pharmaceutical grade (khusus bahan baku pembuatan obat untuk industri farmasi) dan perbedaanya dgn gula rafinasi.
    Terima kasih.

  • Jeje:

    mas.. aku butuh banget ini tanya..
    bahaya fisik dari gula itu sendiri setelah pengemasan meliputi apa aja?
    apa kah semut, rambut, serat tebu, dan batu bisa dikatakan sebagai kontaminasi fisik dari gula yang telah dikemas?? THX
    tolong bales dengan cepat ya..
    =(

  • terima kasih…informasinya sangat bermanfaat. Kebetulan saya distibutor untuk Dust Collector, sudah pasang di Jawa Manis Rafinasi (AAF W-RotoClone) dan PDSU. Kalau sugar cane ada menggunakan Dust Collector juga ga ya? terutama Wet Dust Collector, seperti scrubber….Thank’s. Salam

  • waduh secara sy praktisi di pabrik rafinasi om, emmmmmmmmm ada sedikit modifikasi deh kenyataannya

  • risvan:

    iya pak Indra, ini kan penjelasan secara umum saja… mengenai detail tentunya praktisi yang tahu….

  • Mau nanya nih mas, pada Tabel 1. Persyaratan SNI Gula Rafinasi, Klo boleh tau SNI Tahun berapa yach…2001 atau 2006.
    Tks

  • risvank:

    @Dg.narang itu SNI tahun 2006

  • Ben:

    Pak rispunk.., minta diimelin cara pembuatan gula dai tebu dan dari bit ya..email ke eliyanoor@yahoo.co.id. Salam gula (manis)

  • risvan:

    kan sudah ada pak di blog ini. sebenarnya antara gula tebu dg beet proses pembuatannya sama. Dari tahap gilingan, pemurnian, penguapan, kristalisasi, pemisahan kristal dan pengeringan. Untuk tahap pemurnian ada berbagai macam modifikasi proses, diantaranya sulfitasi, defekasi remelt karbonatasi, dan untuk gula rafinasi ada tambahan proses dekolorisasi.

  • febbie:

    mas bs tolong di emailin ke febbie_ay@yahoo.co.id penjelasan dari:
    a. Angka Lempeng Total (ALT)
    b. Khapang
    c. Khamir
    dalam baku mutu SNI ada 2 persyaratan (persyaratan I dan persyaratan II) maksudnya apa? terima kasih sebelumnya.

  • julius:

    Pak saya pengusaha gula batu kristal. Mau tanya bagaimana agar proses kristalisasi gula bisa dipercepat dan memperoleh hasil maximal? terimakasih. Keep on the good work.

  • mega:

    sy mhsw jur tek lingkungan lg tgs akhir ttg limbh cair rafinasi menggunakan elektrokoagulasi,,pny bhn yg bisa dijadiin literatur ga?

  • aqila:

    mas pegaruhnya apa jika tekanan vakuum pada refinary station antara 500 - 520 mmHg. trus penyebab gula lamping itu apa aja selain kadar air gula trsb? tlg juga jika ada info lowongan di industri gula refinasi. kirim ya ke email As.adul@yahoo.co.id sy tunggu jawaban dan infonya oke

  • novita:

    pak, klo produksi, konsumsi, harga, tarif dan subsidi gula rafinasi dari tahun 1975 sampai sekarang ada data ga?aku kesulitan mencarinya….trims, tlong di bales ke toru_novi@yahoo.com

  • risvan:

    @aqila : vakum untuk proses kristalisasi 60 - 65 cmHg. kalau lebih rendah otomatis suhu prosesnya tinggi, hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada kristal gula (gosong, karamel).

    @novita : maaf saya ga pnya kalo data produksi rafinasi.. coba cari di google

  • Adi Prasongko:

    Mas Risvan K, ayo diteruskan Blog ini..kayaknya ini penting diketahui oleh kawan kawan pabrik gula. sudah mulai pabrik Sulfitasi di rubah ke Karbonatasi.. apa ini kemajuan atau kemunduran ?

  • risvan:

    Iya pak Adi cuma kadang tidak sempat menulis atau kalau bapak ada artikel yang menarik bisa ditampilkan disini. Tapi ga ada fee nya loh pak :)

  • Pagi pak Risvan,

    Terima kasih pak artikelnya bisa menambah masukan kami dalam pembuatan artikel, atau kita bisa share informasi dan artikel ke temen-temen yang pengen tahu mengenai technologi gula, untuk mengunjungi alamat di http://www.gulaindonesia.com

  • Bagi temen-temen yang pengen menambah pengetahuan tentang gula dan turunannya juga bisa mengunjungi http://www.gulaindonesia.com

  • Pak Risvan atau bagi temen-temen yang juga menginginkan pengetahuan mengenai technologi gula juga bisa mengunjungi http://www.gulaindonesia.com

  • Ivo:

    Mas Risvan…
    Apa punya masukan untuk proses produksi gula yang menggunakan Sulfitasi Nira Mentah/Nira Kental agar kandungan belerang di Gula < 30 ppm.
    Saya pernah baca artikel mengenai penggunaan H2O2 (Hidrogen Peroksida) untuk Nira Kental…Apa ada rekomendasi?
    Mohon info mengenai penggunaan Ammonium biflouride untuk kerak di Tube Evaporator.
    Apa bisa Susu Kapur [Ca(OH)2] diganti dengan Sodium Carbonate?

  • risvan:

    Kalau mau kadar SO2 < 30 ppm ya pemakaiannya harus dikurangi. Untuk mengejar warna ICUMSA yang kecil bisa dengan cara lain dengan optimalisasi proses pemurnian dan penguapan. Memang bisa digunakan berbagai macam bahan kimia spt H2O2 untuk meningkatkan kualitas akan tetapi tentu juga ada efeknya pada proses terutama pada kuantitasnya.

    Mengenai penggunaan pembersih kerak ada berbagai macam bahan yang bisa digunakan tergantung dari kepentingan baik secara ekonomis maupun teknis.

    Penggunaan susu kapur untuk pemurnian bertujuan membentuk gumpalan endapan dengan pospat yang ada dalam nira sehingga akan mengikat koloid2 yang lain.. bahan Susu Kapur bisa diganti dengan bahan lain tetapi juga harus dipertimbangkan dari segi ekonomisnya, karena pada saat ini kapur adalah yang paling murah dan efisien dalam pemakaian maka digunakan kapur. Sekarang telah dikaji penggunaan dolomit sebagai pengganti susu kapur..

  • Hari:

    Bagus!
    Bisa diinfo kebutuhan energi spesifik untuk masing-masing prosesnya pak? Dan berapa harga best practice nya?
    Thanks
    Hari

  • Wali UI:

    Dear mas Risvan,

    Saya lagi coba cari informasi gula rafinasi, malah dapat informasi yang banyak dari ilmunya mas Risvan di web ini.
    Terimakasih sudah membagi ilmunya mas.

    Saya sebenarnya sangat tertarik untuk bisa magang di pabrik gula rafinasi.
    Tapi saya ga tau dimana aja pabriknya di Indonesia.

    Mohon pencerahannya mas, kalo bisa ada kontak person yang bisa saya hubungi.

    Thanks & regards,
    Wali UI

  • risvank:

    Berikut ini ada beberapa PG Rafinasi :

    a. PT. Angles Product Bojonagara Serang- Banten (500 ton)

    b. PT. JawaManis, Jl. Raya Anyer – Cilegon, Banten

    c. PT. Setra Usahatama Jaya (PMA) Cilegon, Banten

    d. PT. Permata Dunia Sukses Utama (PMDN) Cilacap - Jateng

    e. PT. Dharmapala Usaha Sukses (PMDN) Cilacap - Jateng

  • DeWa:

    Dear P’ Risvan, apakah gula rafinasi ini memiliki kandungan kalori yang rendah dibanding kan dengan gula pasir biasa yang dijual di pasar? Apakah ada persamaan prosesnya dengan pembuatan gula rendah kalori?
    Trims, dswarda@yahoo.co.id

  • agung:

    mengapa gula rafinasi harganya lebih murah, padahal kualitasnya lebih bagus dan tingkat kemurniannya lebih tinggi? bukankah seharusnya lebih mahal?

    mengapa tidak banyak investor yg tertarik pada industri gula?

  • alwi:

    mas kalo sedimen tinggi pengaruhnya dimana ??????

  • daniel:

    salam kenal pak risvank.
    kalo berkenan sudilah kiranya Bpk membantu saya untuk mempelajari proses fosflotasi dalam pengolahan raw sugar menjadi white sugar dan desain flosflotasi tank. trimakasih

  • Every one admits that modern life is expensive, however people require cash for various issues and not every one gets enough cash. Hence to get good loan or auto loan should be good solution.

Leave a Reply