Pemurnian berfungsi untuk menghilangkan atau mengurangi bukan gula dari nira mentah seoptimal mungkin. Proses pemurnian ini dapat dilakukan secara fisis maupun kimiawi. Secara fisis dengan cara penyaringan sedangkan secara kimia melalui pemanasan, pemberian bahan pengendap serta penggunaan unit peralatan berupa pemanas pendahuluan (heat exchanger), defekator, sulfitator, expandeur, clarifier, rotary vacuum filter.

Terdapat tiga metode dalam proses pemurnian nira, yaitu :

1. Proses Defekasi

Dalam proses defekasi pemurnian nira dilakukan dengan penambahan susu kapur sebagai reagen. Reaktor untuk proses defekasi ini dinamakan defekator dan didalamnya terdapat pengaduk sehingga larutan yang bereaksi dalam defekator menjadi homogen. Pemurnian nira dengan cara defekasi dibagi menjadi :

a. Defekasi Dingin

Pada defekator ditambahkan susu kapur sehingga pH menjadi 7.2 – 7.4. Setelah itu baru nira dipanaskan lalu menuju ke pengendapan. Pada defekasi dingin reaksi antara CaO dengan Phospat lebih lambat, tetapi inversi dapat dikurangi. Karena suhu dingin maka absorbsi bahan bukan gula oleh endapan yang terbentuk lebih jelek dibandingkan defekasi panas.

b. Defekasi Panas.

Nira mentah dari gilingan dipanaskan terlebih dahulu, lalu direaksikan dengan susu kapur.

c. Defekasi Bertingkat.

Susu kapur ditambahkan pada nira dalam keadaan dingin hingga pH 6.5, kemudian nira dipanaskan dan ditambahkan susu kapur lagi hingga pH 7.2 – 7.4.

d. Defekasi sachharat

Sebagian nira ditambahkan susu kapur sedangkan sebagian yang lain dipanaskan, kemudian dicampur.

2. Proses Sulfitasi

Prinsip proses pemurnian ini adalah memproses nira mentah dengan menambahkan susu kapur dan gas SO2. Susu kapur ditambahkan berlebih kemudian dinetralkan oleh gas SO2. Dengan adanya penambahan reagen tersebut akan timbul endapan yang berfungsi sebagai pengadsorbsi bahan bukan gula. Beberapa modifikasi dalam proses sulfitasi antara lain :

a. Sulfitasi asam

Pada proses ini nira yang sudah dipanasi ditambahkan gas SO2 hingga pH 4.0 selanjutnya ditambahkan susu kapur hingga pH 8.5 dan dinetralkan kembali dengan gas SO2 hingga pH 7.2 – 7.4.

b. Sulfitasi alkalis

Pada proses ini nira ditambahkan susu kapur hingga pH 10.5 kemudian dinetralkan dengan gas SO2. Pertimbangan penggunaan sulfitasi alkalis karena tingginya kadar P2O5.

c. Sulfitasi netral

Pada proses sulfitasi ini pH nira dalam defekator sekitar 8.5. Pertimbangan melakukan sulfitasi netral adalah seimbangnya kadar P2O5, Fe2O3 dan Al2O3.

3. Proses Karbonatasi

Proses karbonatasi adalah pemurnian dengan menambahkan susu kapur berlebihan dan dinetralkan menggunakan gas CO2. Endapan yang terbentuk adalah endapan CaCO3. Ada dua macam modifikasi dalam proses karbonatasi, yaitu :

a. Karbonatasi tunggal

Pada proses ini proses pencampuran dilakukan dalam satu reaktor. Nira ditambahkan susu kapur berlebih kemudian dinetralkan menggunakan gas CO2. Alkalinitas dijaga antara pH 9 – 10.

b. Karbonatasi rangkap

Pada dasarnya prosesnya adalah sama dengan karbonatasi tunggal. Tetapi pemberian gas CO2 terbagi, yaitu apabila susu kapur habis alkalinitas dijaga tetap pada pH 10.5 kemudian nira ditapis. Hasil tapisan ini dialiri gas CO2 lagi.

PROSES SULFITASI DI PABRIK GULA

Pada proses ini nira dialirkan ke Pemanas Pendahuluan I, defekator, sulfitator, Pemanas Pendahuluan II, expandeuer, clarifier dan rotary vacuum filter. Sebelum menjalankan proses pemurnian kita harus mengetahui komposisi dari nira mentah tersebut dan sifat-sifatnya. Selain itu juga variabel proses yang dapat mempengaruhi pemurnian nira mentah. Nira mentah adalah nira yang dihasilkan dari gilingan pertama sampai gilingan akhir ditambah dengan Nira Tapis. Dalam nira mentah mengandung sukrosa, gula invert (glukosa+fruktosa), atom-atom (Ca,Fe,Mg,Al) yang terikat pada asam-asam, asam organik dan an organik, zat warna, lilin, asam-asam kieselgur yang mudah mengikat besi, aluminium, dan sebagainya. (Honig, 1953)

Beberapa hal yang perlu diketahui untuk proses pemurnian nira yaitu sifat-sifat dari sukrosa. Sifat-sifat sukrosa antara lain :

a. Sukrosa pecah atau terurai :

- Karena suasana sangat asam

- Pengaruh dari microorganisme

- Suhu yang tinggi.

b. Terhadap logam membentuk sakarat.

c. Memutar bidang polarisasi

d. Larut dalam air, dimana kelarutannya meningkat dengan peningkatan suhu

e. Dapat mengkristal, kristalnya berbentuk monoklin berwarna putih / jernih.

Pada pH dibawah 7 dengan suhu yang tinggi Sukrosa akan terinversi menjadi gula reduksi (glukosa + fruktosa )

Reaksinya :

C12H22O11 + H2O ? C6H12O6 + C6H12O6

Sukrosa glukosa fruktosa

Pada pH yang tinggi gula reduksi akan pecah menjadi zat warna yang dapat merusak warna gula dan membentuk asam organik. Oleh karena itu dalam melakukan proses pemurnian kita harus memperhatikan hal-hal tersebut diatas sehingga dapat meminimalkan kerusakan dari gula.

Flowsheet Proses Sulfitasi

Proses Defekasi

Nira dari gilingan di tampung di Peti Nira Mentah, sebelumnya ditimbang beratnya. Peti Nira Mentah berfungsi untuk menampung Nira dan menjaga supaya debit dari reaksi stabil. Dari Peti Nira Mentah Nira dipanaskan melalui pemanas pendahuluan I (PP I) sampai suhu 70o C. Tujuan dari pemanasan ini adalah

  1. Untuk mempersiapkan proses selanjutnya yaitu defekasi, dimana susu kapur akan bereaksi dengan bukan gula (dalam hal ini Phospat yang terkandung dalam tebu)
  2. Membunuh bakteri yang terdapat dalam Nira.
  3. Suhu tersebut merupakan suhu optimum dimana kehilangan gula karena inversi akibat pemanasan nira mentah (pH = ± 5.5) dapat diminimalisir dengan waktu pemanasan sependek mungkin.

Sistem kerja pemanas pendahuluan (juice heater) berdasarkan pada proses perpindahan panas. (heat transfer). Untuk alat ini menggunakan tipe Shell and Tube Heat Exchanger. Dimana Nira dialirkan di bagian dalam pipa sedangkan uap dialirkan di bagian luarnya. Agar proses perpindahan panas dapat berjalan efektif maka nira disirkulasikan dengan menggunakan baffles atau penyekat. Dari Pemanas Pendahuluan I nira dialirkan ke defekator. Reaksi Defekasi ini terjadi di dalam reaktor yang disebut defekator. Reaktor ini dilengkapi dengan pengaduk untuk membuat larutan menjadi homogen sehingga reaksi dapat berjalan dengan sempurna. Susu kapur (CaO) yang dipakai sekitar 0.4 – 0.8 % tebu (Hugot, 1986) dengan kekentalan 60 Be. Pemakaian susu kapur dengan ukuran tersebut didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut :

  1. Dengan susu kapur yang encer endapan yang terbentuk akan lebih baik.
  2. Volume nira kotor lebih sedikit sebab endapan yang terbentuk lebih besar.
  3. Kecepatan penyaringan akan lebih baik.
  4. Untuk mengurangi beban dari evaporator karena kapur dapat menyebabkan kerak di evaporator.

Reaksi defekasi berlangsung dalam 3 tahap atau defekasi bertingkat. Defekator I pH 6.5 dengan waktu tinggal 4 menit, Defekator II pH 7.5 dengan waktu tinggal 2 menit, dan Defekator III pH 9 – 9.5 dengan waktu tinggal 0.58 menit. Tujuan dari defekasi bertahap ini adalah untuk menghindari kerusakan gula reduksi karena beroperasi pada pH diatas 7 dan suhu yang tinggi. Selain itu juga beberapa koloid hanya dapat digumpalkan pada pH tertentu sehingga perlu dilakukan defekasi bertahap. Pengontrolan pH dilakukan secara otomatis sehingga apabila terjadi kekurangan atau kelebihan pH maka dapat segera dilakukan tindakan dengan cara mengurangi debit dari susu kapur yang diberikan. Sebagian Pabrik Gula masih melakukan pengontrolan pH dengan cara manual yaitu dengan memakai indikator PP (phenolphtalein), PAN (Phenol Alpha Naphtol) dan BTB (Bromo Tymol Blue).

Didalam tangki defekator terjadi reaksi antara fosfat dengan suspensi kapur. Reaksi ini dikenal dengan nama phosphoric acid lime Hasil reaksi berupa gumpalan-gumpalan (floc) kalsium fosfat primer Ca3(PO4)2.

Proses Sulfitasi

Nira dari defekator 3 masuk ke tangki Sulfitator yaitu penambahan gas SO2. Tujuannya adalah untuk menetralkan pH sampai 7.0 – 7.2. Gas SO2 akan bereaksi dengan ion Ca2+ membentuk endapan CaSO3 sehingga endapan menjadi incompressible (tidak mudah pecah). Selain itu fungsi gas SO2 adalah untuk mengikat unsur-unsur yang belum bereaksi di defekator, mengurangi viskositas larutan, mereduksi ion-ion Ferri menjadi Ferro sehingga warnanya menjadi lebih pucat. (Mathur, 1975).

Peti Pengendapan (Clarifier)

Sebelum dilakukan pemisahan endapan nira dipanaskan dahulu di Pemanas Pendahuluan II sampai suhu 1050 C. Tujuan dari pemanas pendahuluan II adalah :

  1. Untuk menyempurnakan reaksi sebelumnya yaitu antara Ca2+ dengan Phosphat.
  2. Menurunkan viskositas nira sehingga pengendapannya lebih cepat.
  3. Mengeluarkan gas-gas yang terlarut dalam nira agar tidak mengganggu jalannya proses pengendapan dari partikel-partikel endapan yang terbentuk.

Nira dari Pemanas Pendahuluan II dialirkan ke expandeur (flash tank). Fungsi dari bejana ini adalah untuk mengeluarkan gelembung gas dan udara yang terdapat dalam nira supaya tidak menghalangi pengendapan pada clarifier. Gelembung-gelembung ini bila tidak dikeluarkan akan menekan keatas partikel-partikel kotoran yang seharusnya mengendap. Nira masuk dengan jalan dipancarkan melalui sisi tangki sehingga nira akan bergerak secara tangensial. Nira akan berbenturan dengan dinding expandeur sehingga gas dan gelembung terlepas dari larutan dan keluar melalui cerobong.

Sebelum dialirkan kedalam clarifier nira dicampur dengan flokulan. Penambahan flokulan sekitar 2 – 3 ppm. Flokulan adalah suatu persenyawaan elektrolit yang bermuatan anion (anion polyelectrolyte) dengan berat molekul 5 – 10 juta. Flokulan ini berfungsi membentuk gumpalan-gumpalan kalsium fosfat sekunder. Kemudian dengan bantuan udara mikro gumpalan tersebut diapungkan ke permukaan clarifier. Gumpalan kalsium fosfat ini bersifat mengadsorbsi kotoran non sukrosa (Sumarno, 1996).

Larutan nira yang telah dicampur flokulan dialirkan ke single tray clarifier. Penggunaan single tray clarifier dapat memperpendek waktu tinggal sehingga kehilangan sukrosa karena hidrolisa dapat dikurangi. Aliran kedalam clarifier dibuat laminair sehingga tidak mengganggu jalannya pengendapan. Didalam clarifier terdapat scrapper yang berputar dengan lambat yang dijalankan oleh motor penggerak dengan as vertikal. Scrapper tersebut menggaruk-garuk lantai kompartemen dan mengarahkan endapan ke tengah untuk dialirkan melewati pipa nira kotor dan dikeluarkan untuk ditampung di mud mixer. Sedangkan nira jernih keluar melalui clarifier dengan cara overflow. Nira jernih disaring di DSM screen dan ditampung ke peti nira jernih kemudian dialirkan ke Pemanas Pendahuluan III tujuannya adalah untuk meringankan beban evaporator.

Rotary Vacuum Filter

Fungsi dari alat ini adalah untuk memisahkan blotong dan nira tapis. Nira tapis akan dikembalikan lagi ke tangki nira mentah untuk diproses kembali.Peralatan ini terdiri dari silinder yang berputar pada sumbunya dan sebagian silinder ini terendam dalam bak nira kotor yang akan disaring. Bagian luar dari silinder yang berfungsi sebagai penyaring terdiri dari segmen-segmen. Masing-masing segmen dihubungkan secara individual ke suatu jaringan pipa yang disebut thrill pipe yang berakhir pada suatu terminal yang disebut distributing valve atau timing block.

Flowsheet Proses Pembuatan Gula Kristal

40 Responses to “PROSES PEMURNIAN NIRA DI PABRIK GULA”

  • vivi:

    pada proses pemurnian nira ini, apakah sebelumnya melalui penelitian? kalau melalui penelitian, siapa yang meneliti?
    apakah proses pemurnian sama dengan proses penjernihan?
    mohon penjelasannya..
    terima kasih.

  • risvan:

    teknologi pemurnian nira telah diteliti semenjak jaman dahulu, bahkan teknologi yg sekarng digunakan sdh ada sejk tahun 1800 an jaman belanda, hanya ada modifikasi2. jadi semua proses kimia sebenarnhya diawali dari penelitian dan percobaan di lab, baru kemudian diaplikasikan di lapangan. Hal ini terus dilakukan sampai sekarang untuk memperoleh hasil proses yang optimal. P3GI sendiri sebagai lembaga penelitian gula telah berdiri sejak tahun 1887 atau berumur 121 tahun.
    Untuk istilah pemurnian dan penjernihan menurut pendapat saya pada proses pemurnian nira lebih tepat digunakan istilah pemurnian, karena menyangkut penghilangan kotoran2 dan koloid sehingga diperoleh nira yang murnia (dalam arti telah terkurangi kandungan non gulanya).

  • dheni:

    trm ksh atas infonya
    saya mau tanya
    apakah prosesnya dapat disederhanakan? dengan kata lain
    apakah pembuatan gula kristal ini dpt dilakukan oleh industri kecil/rumah tangga?
    dan apakah mungkin bahan baku gula kristal diganti dengan yang lain selain tebu?

  • risvank:

    kalau utk kualitas shs dperlukan industri skala bsar. Selain tebu bisa dri aren,sorgum yg mghsilkan gula semut. Di eropa bhan bku dri beet.

  • pl4nkton:

    terus kembangkan bro…. biar industri gula di Indonesia bisa terus berkembang.

  • riri:

    trims bgt ya mas informasinya,,
    sgt mmbantu tugas saya,,
    klo mas punya anilisis hazardnya tolong kirim ke email saya y,,

    sX lg thx,,

  • Suyanto:

    saya sedang mempelajari proses pembuatan gula aren.
    apakah sy dapat dibantu tentang tahapannya mulai dari nira aren sampai menjadi gula aren, dan juga perhitungan ekonominya?

    terima kasih,
    SYT

  • koko:

    mas aku minta hitungan untuk mendesain flash tank nira mentah ada?

    terima kasih

  • risvank:

    mksdnya tangki penampung nira mentah atau flash tank sebelum clarifier.. kalau untuk tangki nira mentah tergantung dari kapasitas pabrik.. dan dihitung berdasarkan neraca massa…

  • Agung N:

    Mas mau tanya kalo proses bleaching standar untuk pabrik gula kan menggunakan SO2, kalo menggunakan CO2 bisa gak..?
    trus untuk proses karbonatasi untuk karbonatasi tahap 3 kan PH dinetralkan sampai PH 7 tujuannya apa..? trus kenapa kok masih pake SO2 gak full CO2 dari awal…
    tolong Jawabannya dikirim ke e-mail saya.. terima kasih

  • mau saran… untuk manejemen pengolahan limbahnya..gimana??

    mustahilkan industri tidak menghasilkan limbah…

  • risvan:

    Untuk PG ada berbagai macam limbah, limbah padat yaitu ampas dan blotong. Ampas bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan produk lain. Blotong sekarang digunakan sebagai pupuk dan juga bisa digunakan sebagai briket.
    Selain itu juga terdapat limbah cair, sisa dari cleaning evaporator, juice heater dan lain-lain. untuk limbah cair ini diolah di pengolahan limbah bisa dengan sistem aerasi lanjut. P3GI telah mengembangkan pengolahan limbah cair dengan sistem biotray sehingga bisa menghemat penggunaan air di PG.

  • Danan:

    Apakah saya bisa minta informasi tentang perhitungan untuk desain defekator 1 dan 2, setidaknya dasar2 hitungan atau standar baku untuk perhitungan desain defekator. saya berencana melakukan redesain defekator 1 dan 2 pada pabrik gula dg kapasitas 3000 ton tebu per hari, trima kasih

  • Danan:

    Apakah saya bisa minta informasi tentang perhitungan untuk desain defekator 1 dan 2, setidaknya dasar2 hitungan atau standar baku untuk perhitungan desain defekator. saya berencana melakukan redesain defekator 1 dan 2 pada pabrik gula dg kapasitas 3000 ton tebu per hari, trima kasih

    PS.
    Informasi nya bisa dikirim ke email danank_01@yahoo.com

  • risvan:

    mohon maaf mas saya ga pnya desainya.. kalo buku tentang design alat punya.. Kalo menurut saya design defekator sama dengan design reaktor berpengaduk. coba dicari di chemical reaction engineering by levenspiel

  • Danan:

    Buku/referensi ttg design alat pakai buku apa?
    bisa share disini?
    kalau buku nya Mccleery judulnya apa ya?

  • ayu:

    pak,sebenarnya fungsi CO2 pada karbonatasi yang pertama itu apa ya?setau saya CO2 itu mengikat kelebihan kapur,tp itu berlaku pada karbonatasi II kan?mohon penjelasannya,trimakasih

  • yudhi:

    pak risvank,selama nira encer masuk dievaporator,peristiwa apa saja yang sebenarnya terjadi??mohon penjelasannya,terima kasih

  • risvan:

    @ayu ; sebelumnya nira di mix dengan kapur sehingga terbentuk endapan. Fungsi dari CO2 ini adalah untuk memperkuat endapan (koagulan) yang telah terbentuk.

    @Yudhi : Di evaporator nira encer diuapkan airnya atau istilahnya dipekatkan. Tentun didalamnya terjadi penguapan air yang ada dalam nira sehingga konsentrasi niranya meningkat. proses penguapan ini berlangsung pada kondisi vakum sehingga titik didih nira turun. kalau nira dipanaskan pada suhu tinggi akan merusak warnanya.

  • randy:

    saya maw tanya, pada proses penggilingan ato pemerahan nira itu nira encer minimal brp phnya? suhu pada saat di deficator itu apakah harus 75 derjt C ? Pada proses sulfitasi reaksi yg trjdi apa? apa mksd brix dan pol brix? Makaseh ya. Maaf pertanyaan nya banyak

  • risvan:

    @ Randy :
    Tebu yang digiling menghasilkan nira mentah, pH nya antara 5 - 5.5 (asam) pada proses defekasi Suhu ideal 75 C, sebuah reaksi akan sempurna apabila suhunya naik. akan tetapi perlu diperhatikan bahwa pada suhu tinggi kerusakan nira (inversi) juga semakin cepat. menurut penelitian (bogstra) suhu 75 adalah yang ideal…
    Pada sulfitasi terjadi reaksi antara gas SO2 dengan Kapur (Ca) yang berfungsi memperkuat koagulan yang terbentuk pada proses defekasi.
    Brix adalah zat terlarut yang terdapat dalam nira, untuk lebih jelasnya bisa dibaca pada artikel mengenai pol dan brix…

  • ninik:

    mas,tau tentang bleaching gula dengan menggunakan bahan organik….. ada g y?….klo ada,pake apa….

    makasih infonya

  • ekana:

    maaf,..
    boleh tau kelebihan dari pabrik gula yang memakai cara sulfatasi daripada cara carbonatasi,….???

  • risvan:

    Kelebihannya karena bahan baku yang digunakan (belerang lebih murah). dulu untuk membuat gas CO2 memerlukan kokas yang diimpor dan biayanya mahal. Selain itu pada proses karbonatasi menggunakan filter press yang memerlukan banyak tenaga kerja dan waktu. Tapi seiring dengen perkembangan teknologi gas CO2 bisa diambil (scrubb) dari gas cerobong boiler, sehingga kedepannya teknologi karbonatasi dapat dikembangkan.

  • winda:

    mas mau tanya
    kalu HK nira mentah ke Nira encer harusnya kan naik
    tapi ada beberapa waktu HKnya malah turun, padahal gula reduksi kecil, pH & suhu udah pas.
    kira2 kenapa y?
    mohon bantuannya
    trimakasih

  • risvan:

    Memang dalam analisa jam2 an HK NM ke NE bisa turun. Selain karena proses pemurniannya yang tidak pas bisa juga dari pengambilan sampel yang tidak pas. Dari Nira Mentah ke Nira Encer membutuhkan waktu min 45 menit tergantung clarifiernya. Kalau mengambil sampel NM dan NE bersamaan tentu tidak akan pas. Tetapi dalam analisa harian yang dilakukan secara continue tiap jam hal ini tidak menjadi masalah…

  • joseph pardede:

    Mohon penjelasan tentang orang yang pertama sekali melakukan penelitian pembuatan gula kristal putih dari nira aren (tgl, bln, thn).
    Terimakasih atas penjelasannya.

  • risvank:

    Pembuatan GKP telah dicoba dari berbagai macam bahan yang mengandung gula.. Mulai dari nipah, aren, tebu, beet.. GKP sendiri merupakan gula kristal (dalam hal ini sukrosa. Dari sekian banyak bahan yang paling efisien untuk diproses menjadi GKP adalah tebu dan beet. selain kadar sukrosa nya tinggi, laju inversi dari nira nya juga lebih rendah.

    Kalau untuk gula aren menurut pendapat saya lebih baik diolah menjadi gula cair atau gula merah karena untuk memproses menjadi GKP membutuhkan energi yang banyak…

  • daniel:

    Mas,tolong kasih tau titik didih dari nira ya ???

  • agung:

    klo alat” pada proeses di Indonesia sendiri sudah ada belum ? kalo bahan baku di ganti dengan singkong bagaimana????please reply to my mail….thanks before n best regard

  • ana:

    mas, kenapa, ya?setiap poabrik dikasi cerobong?
    mang si tujuan utama da cerobong agar asap dari pabrik g terkena warga, tapi kan kalau ditaruh di cerobong, pasti asap di udara, pastinya juga akan mencemari udara yang dihirup para penduduk lagi……..
    pa g da alat selain cerobong yang mang bener2 bisa mengelola asap dengan baik??

  • yudhi:

    mas risvank,saya butuh informasi untud desain sulfur tower pada pabrik gula sulfitasi….mohon informasi referensi yang mas risvank tahu??makasih

  • liliana:

    mas punten.. mau nanya.. setau saya ada salah satu cara lagi dlm pemurnian nira aren yaitu menggunakan PAC (Poly Alumunium Chlorida.. nah, kelebihan penambahan PAC dibanding 3 cara diatas itu apa ya? terus ada ga bahan kimia lain yg kira2 bisa digunakan untuk pemurniannya yang mungkin karakteristiknya hampir sama dengan PAC atau 3 cara diatas? jawab ya mas.makasih

  • risvank:

    @liliana : PAC juga bisa digunakan untuk pemurnian tetapi untuk skala besar juga perlu dipertimbangkan harganya apakah ekonomis untuk digunakan. PAC sendiri skarang digunakan sebagai bahan penjernih untuk analisa nira. Di P3GI produk ini dinamakan PAL yang berfungsi untuk mengendapkan kotoran non gula sehingga nira bisa diukur pol nya…

  • BUdhi Indrawan:

    mantep,, banyak dapet ilmu dari sini.. makasih pak..

  • zuand:

    asslm..
    Pak Risvank, saya tertarik dengan tulisan anda.
    apakah apakah anda telah menulis dalam sebuah buku.
    jika ada, bolehkah saya tau judul dan penerbitnya.
    terima kasih.

  • allwi:

    mas kenapa pada analisa kapur ada penambahan gula,?

  • Zuni k47:

    salam…
    Pak, ni saya lagi kerja praktek di Pabrik gula dan mengalami kesulitan unutk memahami beberapa bagiannya, boleh share kan?
    1. untuk menguji nilai Pol dari nira perasan pertama digunakan form A dan form B, sebenarnya cairan apa dan fungsinya bagaimana dari form A dan Form B tersebut?
    2. di bagian pemurnian, sebenarnya apa saja yang diikat oleh penambahan susu kapur dan sulfit sehingga terbntuk flokulan?
    3. di bagian evaporator, dari informasi yang saya dapat mengatakan bahwa ketika nira dipanaskan dapat menghasilkan ammonia, seperti apa persamaan reaksinya?
    Terimakasih…

  • Temen-temen bisa mohon bantuanya ga? saya sedang melaksanakan tugas akhir pada proses pengendalian ph pada bejana defektor. namun saya belum pernah melihat bejana defekator yang sebenarnya seperti apa? Ada yang bisa bantu saya ga? bentuk fisik bejana defekator itu seperti apa serta data teknisnya, sebab saya mau buat miniatur yang benar-benar merepresentasikan proses pemurnian di bejana defekatornya.

    Pa Risvank mohon bantuanya..
    musafir86@yahoo.com
    Terima kasih

  • Ferdy jenggot k47:

    Assalamua\’laikum

    mas Ni ferdy K47,
    1. mas,awalnya kan PG banyak yang pke Sulfitator, akan tetapi mengapa pada ganti jdi sulfur tower (absorbsi)?apa pertimbangannya?
    2. Apakah benar pada saat milling setelah cane cutter, tebu yang dihancurkan tidak mencucurkan nira??setahu saya bila tebu di patahin niranya kan akan keluar…
    3.Oh ya mas, saat nira keluar dari clarifier maka akan di alirkan ke flash tank untuk membuang gas2 yang akan membuat flokulan tidak jadi mengendap karena naik keatas, nah itu kan masuk ke flash tank secara tangensial, ada juga yang langsung ditabrakin sama baffle? yang lebih efektif tu yang mana pak? kemudian pertimbangnnya apa?
    karena saya diksi tau sama pembimbing yang tangensial dah diganti sama yang baffle…

    Terima kasih mas

Leave a Reply