Bahan Dasar Proses Kristalisasi
Dalam proses pembuatan gula, yang dimulai dari pemerahan tebu menghasilkan nira mentahh, kemudian dengan pemurnian untuk menghilangkan kotoran dan penguapan untuk menguapkan air maka akan diperoleh nira kental. Nira kental ini adalah bahan baku utama dalam proses kristalisasi. Dari rangkaian proses sebelumnya nira masih mengandung kotoran dan kadar air. Di proses kristalisasi ini kadar kotoran dan air yang ada dalam nira akan dihilangkan. Di nira kental masih terkandung kotoran sebesar 15 – 20 % zat terlarut, sedangkan kadar airnya 35 – 40 % (memiliki brix 60 – 65). Nira kental sebagian besar mempunyai brix sebesar 60 – 65 % dengan tujuan supaya larutan tersebut mendekati konsentrasi jenuhnya.
Faktor – Faktor yang Berpengaruh Terhadap Proses Kristalisasi
Pelbagai faktor yang dipandang dapat mempengaruhi proses pemasakan atau proses kristalisasi, a.l. suhu, vakum, proses penguapan sebelumya, kerataan kristal, kadungan kotoran dalam larutan, viskositas larutan dan pencampuran atau sirkulasi larutan.
Kelarutan sakarosa
Sakrosa atau gula dapat larut dalam air. Jumlah kelarutannya bergantung pada suhu dan keberadaan komponen lainnya di dalam larutan gula tersebut. Untuk gula murni, di dalam air akan terlarut bergantung pada suhu larutannya sesuai dengan suatu korelasi atau hubungan dalam persamaan berikut ini.
Daerah-Daerah Kejenuhan dan Sifatnya
Berdasarkan kenyataan terbentuknya cristal dengan penguapan ataupun penjenuhan larutan terjadi pada konsentrasi lewat jenuh, pada kosien kejenuhan berapakah terjadinya cristal ini sumar untuk ditentukan dengan pasti karena componen-komponen nira akan turut mempengaruhi, sehingga tebu yang berasal dari tempat berlainan ataupun tebu dengan jenis yang berbeda akan memerlukan derajat kejenuhan berbeda untuk dapat terjadinya pengkristalan.
Untuk itu para ahli membagi daerah kejenuhan menjadi :
Larutan Encer :
Larutan pada daerah kejenuhan dibawah kosien kejenuhan 1,00 dimana larutan masih dapat melarutkan cristal sukrose.
Larutan Jenuh :Larutan yang memiliki kosien kejenuhan tepat 1,00 (KK = 1,00) dimana akan terjadi kesetimbangan antara jumlah sucrosa yang melarut dan sucrosa yang mengkristal.
Larutan yang tidak dapat melarutkan sucrosa lagi.
Daerah Meta Mantap :
Larutan yang terletak pada daerah konsentrasi diatas kosien kejenuhan 1,00 (KK > 1,00) dimana molekul sukrosa dalam larutan hanya dapat menempelkan diri pada kristal yang telah ada. Daerah ini juga disebut daerah pembesaran kristal.
Daerah Pertengahan :
Larutan yang terletak pada daerah konsentrasi dimana molekul sukrosa dalam larutan telah mampu membentuk inti kristal apabila terdapat atau hadir kristal sukrosa dalam larutan.
Daerah Goyah :
Larutan yang terletak pada konsentrasi diatas daerah pertengahan dimana molekul sukrosa dalam larutan telah mampu membentuk inti kristal dengan serentak tanpa adanya kristal yang lain.
Langkah-langkah proses kristalisasi adalah sebagai berikut :
a. Menarik larutan dan pemekatan
Bahan dasar yang akan dikristalkan dipanaskan sampai mendekati suhu masak, selanjutnya pemekatan dimulai. Dengan demikian koefisien kejenuhannya berangsur-angsur meningkat. Pada keadaan lewat jenuh akan terbentuk suatu pola kristal sukrosa. Proses kristalisasi dijaga pada suhu rendah karena molekul sukrosa akan mudah rusak pada suhu tinggi, oleh karena itu digunakan vakum. Pemekatan tidak boleh melewati daerah metastabil, karena akan terjadi inti baru berupa kristal-kristal halus.
b. Membuat bibitan
v Pembuatan bibit dengan cara serentak (spontan)
- Larutan diuapkan sampai berada pada daerah goyah (A)
- Bila akan mulai memasak larutan dialihkan ke daerah metastabil dengan menaikkan suhu. (B)
- Apabila kristal yang terbentuk kurang maka larutan diarahkan ke daerah goyah lagi (C)
- Bila inti kristal telah cukup maka ditarik bahan masak lagi, kemudian menurunkan vakum agar kembali ke daearah metastabil. (D)

v Pembuatan bibit dengan cara kejutan (shock seeding)
- Larutan gula dikentalkan sampai daerah intermediate kemudian dimasukkan gula halus.
- Bila kristal telah terbentuk dan terlihat besar kristal merata maka dikembalikan lagi ke daerah metastabil.
v Pembuatan bibit dengan cara pemberian inti penuh (full seeding)
Pada cara ini dengan menggunakan bibit (seeding) yang sudah jadi dan dimasukkan pada daearah metastabil. Untuk bahan bibitan sistem ini bisa menggunakan fondan atau FCS (Fine Crystal Seed).
b. Membesarkan Inti Kristal.
Pada langkah pembesaran kristal diusahakan untuk menempelkan sebanyak mungkin molekul sukrosa pada kristal yang telah jadi dalam waktu yang singkat.
c. Merapatkan Inti Kristal
Apabila pembesaran dirasa telah cukup dengan kristal yang kuat, maka selanjutnya adalah merapatkan inti kristal. Tujuannya adalah supaya jarak antara kristal yang satu dengan yang lain berdekatan sehingga kecepatan kristalisasi tidak berkurang.
d. Menurunkan masakan
Masakan yang sudah tua akan diturunkan kedalam palung pendingin. Fungsi palung pendingin adalah untuk mendinginkan masakan dan juga untuk kristalisasi lanjut. Pada dasarnya masakan boleh diakhiri dan diturunkan kedalampalung pendingin apabila :
- Brix masakan sudah tinggi, artinya masakan sudah tua. Dan perlu dimengerti bahwa tuanya masakan bukan hanya karena hampir habis airnya, tetapi masakan harus banyak mengandung pasir. Jika tidak banyak pasirnya maka sewaktu masakan tadi berada di dalam palung pendingin (trog), kemungkinan sangat besar akan rusak atau menjadi kotor. Akibatnya masakan lalu sukar diputar. Jika masakan sukar diputar, biasanya terpaksa diencerkan atau di cuci, sehingga strop yang diperoleh banyak, sedang gula pasirnya menjadi berkurang.
- Karena itu masakan sewaktu turun harus dalam keadaan tua karena banyak mengandung pasir keras. Tanda-tandanya adalah masakan harus poro, tidak terasa ngayiyat (tidak seperti berlendir tidak licin), kalau ditekan dengan jari terasa pasir. Untuk masakan D kecuali tanda-tanda tersebut, kalau dilemparkan ( ke dinding pan misalnya), tidak mudah menjadi gepeng dan keras.
TAHAP MASAKAN
Dalam kegiatan proses masak gula tahapan prosesnya tergantung dari tinggi rendahnya HK nira kental/deksap/cing, maka masakan dapat bertahap 3 atau 4 tahap A, B, C, D, ABD atau ACD. Untuk saat ini kebanyakan pabrik gula di Indonesia menggunakan system masaka ACD. Pada system ACD masakan A sebagai produk, sedangkan masakan C dan D akan diolah sebagai bibit untuk masakan A.
Pustaka
Anonimous, 1989. Hand out of Sugar Technology Courses in Sugar Mauritius Research Institute (SMRI)
Carebet, P. 1983. Masak Gula. Kumpulan makalah kursus masak gula angkatan VII, 25 Juli – 21 agustus. Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula (BP3G), Pasuruan.
Soeyardi (1972), Dasar-dasar Teknologi Gula Penjalaran Panas dan Ekonomi Uap, jilid II A Lembaga Pendidikan Perkebunan, Yogjakarta, 129 halaman.
Landheer (1975), Pesawat Industri Gula. Lembaga Pendidikan Perkebunan, Yogjakarta, 464 halaman.
RBL Martur, 1975, 1981. Hand book of Cane Sugar Technology, 2nd edition.



kok gak update update
thank you risvank…
i learn more about sugar
i love sugar
sugar is so sweet,,,,,,,,,,,,,,,,
now, i can do my task
Assalammu\’alaikum
ni mira, mhswi tekim\’04 UNSRI,
pada proses produksi gula, untuk pengeringan kandungan air pada gula gunain proses apa? pake spray dryer gak?
untuk proses pengeringan ada yang dikeringkan secar manual dengan talang goyang dan dikontakkan dengan udara. selain itu juga menggunakan dryer menggunakan uap kering. Kadar air gula max 0.1 %
ni yetti Mhssi tekim PTKI medan
pada kristalisasi lanjut di D-crystalizer kenapa dilakukan pendinginan secara bertahap mas?kenapa setelah didinginkan, dipanaskan kembali pada reheater. apa gak cair gula nya mas?alsannya knp y mas?
Wah, bagus sekali Mas. Nyuwun sewu, boleh saya nge-link di beranda saya ??
artikel ini sangat menarik, salam dari kami http://www.sarialam .co.cc (produsen dan pemasaran produk herbal alami)
Setelah proses pemisahan mascuite,dihasilkan gula(kristal) produk yang tampak bersinar(sparkling),tetapi setelah melalui Drier untuk proses pengeringan,kristal berubah menjadi lebih buram dan tidak sparkling lagi,kenapa yaa?
aslmkm
saya mahasiswi TIN IPB,,mau tanya..
sebenarnya guna penambahan/penarikan stroop dan klare saat pemasakan itu untuk apa?
lalu,,pada saat awal giling bagaimana cara pemasakan nira dimulai?
thanks b4
tujuannya adalah untuk menaikkan HK masakan. stroop dan klare mempunyai HK yang tinggi karena banyak mengandung gula.. Dengan HK masakan tinggi akan mempermudah dan mempercepat proses masak.
Pada saat awal giling pola masaknya bisa menggunakan CDA, sehingga masak gula produk lebih cepat. atau untuk pembibitan dapat menggunakan bibit masak dari luar (FCS high grade)
mau tanya tentang lama peroses penguapan semisal diberi panas(kalor)dan banyaknya air sebesar v volum. bagaiman menghitung waktunya??
makasih
I took 1 st business loans when I was very young and this supported my relatives very much. But, I require the bank loan once again.
bagus sekali penjelasannya. dewasa ini kami mengalami kesulitan dalam membuat pola masakan (skema masak) dengan Harkat Kemurnian (HK) bahan yang sangat rendah.. (Nira kental dengan HK 69-71),, kami sudah coba terapkan skema A-D,untuk menghindari sirkulasi bukan gula yang ada pada sistem, tetapi HK tetes yg dihasilkan relatif tinggi (antara 35-36). Mohon bantuan pengetahuan dan pengalamannya. oiya, klo boleh saya link di beranda saya. trims