By : Risvan Kuswurj

Gula benda manis yang setiap hari kita makan. Gula yang kita konsumsi adalah Gula Kristal Putih (GKP) atau Plantation White Sugar atau gula SHS (Superiuer Hoof Suicker). Bahan baku utama untuk pembuatan gula berasal dari tebu dan beet. Untuk daerah tropis kebanyakan menggunakan bahan baku dari Tebu. Kenapa harus tebu ? Untuk membuat gula kristal bahan baku utamanya adalah sukrosa, karena sukrosa ini yang dapat dikristalkan.

Gula yang ada dalam tebu berada dalam bentuk disakarida (sukrosa) dan monosakarida (fruktosa dan glukosa). Untuk menjadi gula kristal yang dibutuhkan adalah sukrosa, sedangkan monosakaridanya tidak bisa dikristalkan. Setelah tebu ditebang atau dipanen maka tebu akan dibawa ke Pabrik Gula untuk diolah menjadi gula kristal.

Secara Garis besar langkah pemrosesan tebu menjadi gula sebagai berikut :

  1. Ekstraksi di Gilingan
  2. Pemurnian
  3. Penguapan
  4. Pengkristalan
  5. Pemisahan
  6. Pengeringan dan Pengepakan

Proses Ekstraksi Tebu

Tebu yang telah dipanen akan diolah di pabrik gula. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengestrak nira (juice) yang terdapat dalam tebu. Ada dua alat yang digunakan untuk mengekstrak nira dari tebu yaitu menggunakan gilingan dan diffuser. Kebanyakan pabrik gula di Indonesia menggunakan gilingan, hanya ada dua pabrik gula yang menggunakan diffuser.

Sebelum digiling, tebu dalam bentuk batangan akan dicacah terlebih dahulu sehingga sel-sel yang ada di dalam tebu terbuka dan mempermudah dalam proses ekstraksi. Pencacahan menggunakan alat hammer shredder atau pisau tebu. Biasanya terdiri dari 2 atau 3 buah alat pencacah. Tebu dicacah sampai diperoleh derajat pencacahan atau Preparation Index lebih besar dari 90 %. Semakin tinggi preparation index menunjukkan semakin bagus kinerja dari ekstraksi.

Setelah tebu dicacah, maka cacahan tebu tersebut dimasukkan ke gilingan. Digilangan tebu diperas dan diambil larutannya yaitu nira dan menghasilkan produk samping berupa ampas (bagasse). Larutan Nira atau disebut dengan nira mentah akan di bawah ke unit pemurnian, sedangkan ampas yang diperoleh di angkut ke ketel dan digunakan sebagai bahan bakar.

Prinsip kerja dari stasiun gilingan di pabrik gula adalah memerah nira yang terkandung dalam batang tebu semaksimal mungkin dan kandungan gula dalam ampas seminimal mungin. Salah satu cara untuk memperoleh hasil yang maksimal tersebut dalam proses pemerahan diberi penambahan air, yang dikenal dengan nama air imbibisi. Air imbibisi ini berfungsi sebagai pelarut yang dipakai dalam proses pemerahan. Pemberian air imbibisi dilakukan pada gilingan 3 , 4 atau gilingan akhir.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam proses pemerahan adalah sanitasi gilingan. Karena gula dalam tebu ataupun ampas merupakan media yang disukai oleh mikroorganisme, maka perlu diperhatikan sanitasinya. Mikroorganisme yang terdapat dalam nira dapat mendegradasikan sukrosa, sehingga terjadi kehilangan gula. Upaya yang dilakukan untuk menekan mikroba ini antara lain dengan memberikan bahan kimia berupa biocide atau dilakukan penyemprotan uap secara berkala di gilingan.

8 Responses to “SERI PENGETAHUAN INDUSTRI GULA : GILINGAN”

  • baby:

    Nice website!!

  • tri:

    mohon penjelasan tentang difuser lebih rinci
    trims

  • risvank:

    mas tri nanti saya usahakan akan menulis tentang diffuser.

  • Masyarakat Gula Indonesia:

    Dewan Gula tak Berfungsi

    Surabaya (Bali Post) -
    Keberadaan Dewan Gula Indonesia (DGI) harus optimal. Misalnya, semua kebijakan pergulaan nasional didesain dan dikeluarkan DGI. Tujuannya, agar tidak terjadi benturan kepentingan di antara stakeholders, sehingga kebijakan yang keluar terintegrasi.

    Kekacauan dalam pengambilan keputusan terkait pergulaan selama ini, seperti masuknya gula rafinasi yang seharusnya hanya untuk industri makanan dan minuman, ke pasar ritel menjadi domain gula lokal berbahan baku tebu, terjadi akibat tidak difungsikannya DGI sebagai lembaga yang paling berkompeten dalam perumusan dan eksekusi kebijakan pergulaan.

    Hal itu dikemukakan Wakil Sekjen/Wasekjen Ikatan Ahli Gula Indonesia/IKAGI, Ir Adig Suwandi, MSc., di Surabaya, Minggu (11/5) kemarin. ”Ketika peredaran gula rafinasi telah sampai pada tahapan meresahkan petani dan pabrik gula (PG) berbahan baku tebu diperlukan lembaga seperti DGI. Karena DGI tak berfungsi, akibatnya muncul gula rafinasi yang dijual di pasaran,” katanya.

    Menurut dia, sebetulnya, sejak awal IKAGI menjadikan DGI sebagai lembaga yang paling kompeten dalam pengambilan keputusan terkait dengan gula. Hal itu karena anggota DGI berasal dari sejumlah stakeholders. Bahkan, Ketua DGI dijabat Menteri Pertanian. Sedangkan Wakil Ketua terdiri dari Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Keuangan serta para anggotanya terdiri dari sejumlah direktur jenderal/deputi kementerian negara dan organisasi profesi seperti APTRI.

    Kekacauan peredaran gula rafinasi, kata dia, terjadi akibat tidak adanya koordinasi antara pengambil kebijakan pada lintas departemen. Contohnya, impor raw sugar direkomendasikan Departemen Perindustrian, sedangkan izin impor dikeluarkan Departemen Perdagangan.

    Akibat tidak adanya koordinasi yang baik dengan Departemen Pertanian selaku pembina teknis budi daya tebu, menurut dia, impor raw sugar dan gula rafinasi hanya mengacu kapasitas pabrik, bukan kebutuhan riil. Tidak mengherankan kalau akhirnya produksi gula rafinasi berjalan lebih cepat dibanding kebutuhan riil.

    Pada 2007, kata dia, produksi gula rafinasi berbahan baku raw sugar impor mencapai 1,44 juta ton dan impor gula rafinasi langsung 684.000 ton, sementara kebutuhan lokal hanya 900.000 ton. Inilah yang menimbulkan rebutan pasar antara gula gula rafinasi dan gula lokal. Puncaknya, pemasaran gula lokal tersendat dan petani tebu marah mengingat dampaknya berimplikasi pada keengganan investor yang berminat memberikan jaminan berupa harga dasar gula petani

  • Wisanggeni:

    Mengapa tidak ada niat mengadakan perubahan terhadap pabrik gula yang ada untuk memproduksi gula rafinasi dimana kabarnya gula dari PG sekarang jenis SHS kurang bersih dan tidak dapat digunakan untuk campuran industri susu bubuk, minuman berkarbonat dll. Dikarenakan kadar besi dll yang cukup tinggi sehingga dapat menimbulkan kerusakan produk diatas.

  • risvank:

    pada saat ini sedg ada kajian untuk mngubh proses dr white sgar ke raw sugar,bhkan sya sdg audit pbrik di daerh crebon yg melakukan perbhan proses diatas.

  • ulul:

    pak selain bahan baku tebu produksi PG bahan pembantunya ap saja mohon dijelaskan dengan denifinisinya

  • wah harusnya kita mulai memikirkan Sugar Spray Dryer, siapa tau % SHS Tebu bisa nakin banyak

Leave a Reply