Oleh :
Dr. Toto Martoyo
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI)
Jl. Pahlawan No 25 Pasuruan 67126
email : toto.martoyo@yahoo.co.id
Akhir-akhir ini marak kembali keinginan pihak “petani” untuk mendirikan Pabrik Gula Mini (PGM) yang hal ini dipicu oleh harga gula pasir yang sedang bagus dan rendemen Pabrik Gula yang tidak beranjak dari angka 6-7%. Di samping itu adanya informasi keberhasilan Pabrik Gula Mini yang telah dibangun dan dioperasikan di beberapa lokasi turut menambah semakin maraknya keinginan membangun Pabrik Gula Mini.
Menanggapi hal tersebut kita harus hati-hati tidak serta merta pro atau kontra. Kita memandangnya harus rasional dan dengan wawasan yang global. Dari pengamatan tampaknya pengertian Pabrik Gula Mini adalah pabrik gula yang berkapasitas < 250 TTH dengan sistem closed pan. Kalau produk yang dikehendaki Gula Kristal Putih (GKP) maka Pabrik Gula Mini harus terdiri minimal dari Stasiun Gilingan, Stasiun Pemurnian Nira, Stasiun Penguapan, Stasiun Masakan/Kristalisasi, Stasiun Pemisahan Kristal dan Stasiun Pengeringan Gula. Teknologi yang digunakan untuk stasiun tersebut belum tentu sama dengan yang digunakan di Pabrik Gula besar, yang penting harus sesuai dengan karakteristik Pabrik Gula Mini yaitu fleksibel dan manual. Permasalahan utama yang dihadapi dalam pengoperasian Pabrik Gula Mini adalah Efisiensi Pengolahan dan Energi.
1. Efisiensi Pengolahan
Pengamatan dari beberapa Pabrik Gula Mini yang ada diperkirakan pemerahan nira (tanpa imbibisi, dengan 1-2 set gilingan ) hanya mencapai 60-70%, sehingga kehilangan pol di ampas diperkirakan mencapai 3-4% tebu. Jika pol % tebu = 12 % maka pol yang diolah tinggal 8-9 %. Jika efisiensi proses 80 % maka rendemen dicapai sekitar 6-7 % atau sama saja dengan rendemen Pabrik Gula, dengan catatan : Pol tebu minimal 12 % dan efisiensi pengolahan 80%.
Untuk mencapai pol tebu 12%, tentu bukan hal yang mudah, varietas unggul, kultur teknis prima dan ditebang saat masak. Sedangkan efisiensi pengolahan PGM 80 % adalah angka yang optimistik, karena sekarang di Pabrik Gula besar Efisiensi pengolahan jauh di bawah angka itu.
Oleh karena itu jika ada teknologi Pabrik Gula Mini yang dapat menekan kehilangan pol di ampas < 2 % dan efisiensi pengolahan minimal 80 % dapat dipertimbangkan untuk dicoba.
2. Efisiensi Energi
Di Pabrik Gula besar, energi yang diperlukan semua dicukupi dari ampas, bahkan bagi Pabrik Gula yang efisien kelebihan ampas bisa mencapai separuh ampas yang diproduksi. Sedangkan di Pabrik Gula Mini energi ampas hanya cukup untuk keperluan proses, sehingga untuk mesin-mesin penggerak digunakan listrik PLN atau diesel. Oleh karena itu kalau ada teknologi yang dapat diaplikasikan sehingga kebutuhan energi Pabrik Gula Mini dapat dicukupi dari ampas yang dihasilkan maka perlu untuk dicoba.
Kesimpulan
(1) Dengan teknologi yang ada jelas bahwa pengoperasian Pabrik Gula Mini tidak efisien karena dari segi pengolahan banyak terjadi kehilangan di ampas maupun di tetes. Belum lagi dari segi energi. Untuk memperkecil kerugian kehilangan gula, tetes harus dimanfaatkan menjadi bahan yang bernilai tambah.
(2) Apabila pengoperasian Pabrik Gula Mini tetap dilaksanakan misalnya dengan menjaga kualitas tebu sehingga pol tebu mencapai 14 %, walaupun masih menguntungkan operator, namun secara nasional akan merugikan karena kehilangan akumulatif yang besar.
(3) Jika suatu saat ditemukan teknologi pemerahan dan proses yang dapat menekan kehilangan gula di ampas dan tetes serta teknologi energi yang dapat mencukupi kebutuhan energi Pabrik Gula Mini dari ampas yang dihasilkan maka Pabrik Gula Mini perlu dicoba.

Bapak saya seorang petani tebu di Mojokerto nih lagi bingung mau buat pabrik gula mini, ada penawaran pgm india open pan dari payaguchi sdn bhd dan bpk saya melihat pgm Kediri bukan hanya melihat tetapi membawa tebu untuk digilingkan hasilnya rendemen lebih baik dari rendemen pg besar, bapak saya tanga kenapa gilingan tidak pake imbibisi di jelaskan imbibisi hanya diberikan untuk tebu dengan brix diatas 23 dengan tebu kwalitas saat ini pemberian imbibisi sangat merugikan satu pg kecil di Kediri membutuhkan suplisi daun kering, molding kayu dan residu lebih dari satu juta liter, juga kenapa pg jombang baru dipasang ketel dengan bahan bakar batu bara kalau memang energynya efisien.
bpk saya juga tanya kenapa pakae pln atau diesel juga dijelaskan bunga investasi ketel tekanan tinggi dengan turbine generator masih lebih besar dari pada bayar di pln atau beli solar.
Lebih jelas kami tertarik dengan penjelasan bahwa tidak ada artinya membahas efisiensi sepotong sepotong tetapi haruslah over all effisiensi utamanya human efisiensi dan mhn penjelasan kenapa tiap kali pengiriman tebu ke PG harus membayar kupon? apakah ini merupakan penghasilan resmi pg ?. Kepada siapa kami mengadu ?
wass.
tidak beranjaknya idustri gula di Indonesia menjadi negara swasembada gula bukan karena tidak mampunyai peralatan pabrik atau varietas tebunya yang tidak unggul tetapi kalo yang saya amati selama ini adalah karena moral para praktisi maupun petinggi pabrik gula yang kurang.liat saja ketika sebuah kupon SPTA harus ada hargatersendiri per truk, liat juga ketika petani bersikap kurang gentle menyertakan pucuk, sogolan, maupun kotoran lain ketruk untuk menambah bobot, atau ketika kita untuk membeli sparepart pengganti peralatan harus ada “2 kuitansi” dl sebagainya. maka ketika etika moral diabaikan dalam semua urusan saat itu juga maka tunggulah angan-angan untuk menuju swasembada gula
moral moral bobrok…!!!!
mata duitan semuanya…!!!
tak ada puas2nya menghancurkan bangsa sendiri….!!!
artikel ini sangat menarik, salam dari kami http://www.sarialam .co.cc (produsen dan pemasaran produk herbal alami)