Archive for May, 2008

Oleh :
Risvan Kuswurjanto
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
Jl. Pahlawan No. 25 Pasuruan

PENDAHULUAN

Industri gula, seperti proses industri lainnya tentu mengalami permasalahan korosi pada setiap tahapan prosesnya. Dengan adanya bahan konstruksi yang terbuat dari logam, maka Pabrik Gula rentan terhadap serangan korosi. Korosi tidak dapat dihindari, tetapi dapat diperlambat lajunya. Selama ini permasalahan korosi di pabrik gula kurang mendapat perhatian bahkan terkesan diabaikan, padahal biaya yang ditimbulkan akibat adanya korosi tidaklah sedikit. Korosi berpotensi terjadi di Pabrik gula karena bahan konstruksinya banyak terbuat dari logam khususnya besi.

Bhaskaran, dkk (2003) melakukan audit mengenai korosi di Pabrik Gula di India. Dari hasil audit tersebut dihasilkan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh seluruh pabrik gula di India akibat masalah korosi sebesar US $ 14.000.000 atau hampir 140 milyar rupiah. Sedangkan studi yang dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa total biaya yang ditimbulkan akibat korosi untuk seluruh industrinya sebesar $ 296 milyar (Roberge, 1999 ).

JENIS KOROSI DAN MEKANISMENYA

Korosi adalah peristiwa rusaknya logam karena reaksi dengan lingkungannya (Roberge, 1999). Definisi lainnya adalah korosi merupakan rusaknya logam karena adanya zat penyebab korosi, korosi adalah fenomena elektrokimia dan hanya menyerang logam (Gunaltun, 2003).

Pada dasarnya peristiwa korosi adalah reaksi elektrokimia. Secara alami pada permukaan logam dilapisi oleh suatu lapisan film oksida (FeO.OH). Pasivitas dari lapisan film ini akan rusak karena adanya pengaruh dari lingkungan, misalnya adanya penurunan pH atau alkalinitas dari lingkungan ataupun serangan dari ion-ion klorida. Pada proses korosi terjadi reaksi antara ion-ion dan juga antar elektron. Anode adalah bagian dari permukaan logam dimana metal akan larut. Read the rest of this entry »

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa ibu menangis?” Ibunya menjawab, “sebab Ibu adalah seorang wanita nak.” “Aku tak mengerti.” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya dengan erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti…..”

Kemudian anak itu bertanya kepada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?” Sang Ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa alasan.” Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Allah. “Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”

Dalam mimpinya Tuhan menjawab.

“Saat kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.
Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tidur. Read the rest of this entry »

Stasiun Gilingan di Pabrik Gula berfungsi untuk memerah nira dari tebu sebanyak mungkin dan meminimalkan kehilangan gula. Berikut adalah istilah yang biasanya digunakan dalam perhitungan neraca massa di stasiun gilingan Pabrik Gula :

  1. Tebu, adalah bahan mentah yang dijatuhkan ke krepyak tebu termasuk daun tebu, kotoran, air dsb.
  2. Berat Tebu, berat bahan mentah tersebut diatas, dengan kata lain berat bruto yang tepat dikurangi berat alat pengangkutan.
  3. Berat Tebu yang digiling setiap hari, dihitung dengan angka-angka laporan penimbangan.
  4. Bahan Sabut, adalah bahan kering dalam tebu yang tidak dapat larut, termasuk bahan kering yang tidak dapat dilarutkan dalam daun, kotoran dsb.
  5. Nira-Nira Tak Diencerkan, Nira yang diperah gilingan atau nira yang tertinggal dalam ampas dikurangi dengan air imbibisi.
  6. Nira Tebu, Nira tebu = Nira mentah tak diencerkan + nira tak diencerkan ampas akhir. Asumsi kehilangan di stasiun gilingan diabaikan.

KRISTALISASI

Setelah Nira diuapkan di evaporator prses selanjutnya adalah kristalisasi dan pemisahan. Proses kristalisasi adalah proses pembentukan kristal gula. Sebelum dilakukan kristaliasi dalam pan masak (crystallizer) nira pekat terlebih dahulu dialiri gas SO2 sebagai bleaching dan untuk menurunkan viskositas masakan (nira). Dalam proses kristalisasi gula dikenal sistem masak ACD, ABCD, ataupun ABC.

Tingkat masakan (kristalisasi) tergantung pada kemurnian nira kental. Apabila HK nira kental > 85 % maka dapat dilakukan empat tingkat masakan (ABCD). Dan apabila HK nira kental < 85 % dilakukan tiga tingkat masakan (ACD). Pada saat ini dengan kondisi bahan baku yang rendah pabrik gula menggunakan sistem masakan ACD, dengan masakan A sebagai produk utama.

Langkah pertama dari proses kristalisasi adalah menarik masakan (nira pekat) untuk diuapkan airnya sehingga mendekati kondisi jenuhnya. Dengan pemekatan secara terus menerus koefisien kejenuhannya akan meningkat. Pada keadaan lewat jenuh maka akan terbentuk suatu pola kristal sukrosa. Setelah itu langkah membuat bibit, yaitu dengan memasukkan bibit gula kedalam pan masak kemudian melakukan proses pembesaran kristal. Pada proses masak ini kondisi kristal harus dijaga jangan sampai larut kembali ataupun terbentuk tidak beraturan. Read the rest of this entry »