Oleh :
Dr. Toto Martoyo
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI)
Jl. Pahlawan No 25 Pasuruan 67126
email : toto.martoyo@yahoo.co.id

Ada pemikiran untuk merubah proses produksi gula putih di Indonesia dari proses sulfitasi yang menghasilkan gula putih (Direct White Sugar) menjadi proses yang menghasilkan raw sugar (GKM). Selanjutnya GKM akan diproses menjadi refined sugar (GKR). Pengembangan Industri Raw sugar setidaknya memperhatikan beberapa hal antara lain, daya dukung lahan dan lingkungan di Jawa, program swasembada gula nasional, existing pabrik gula rafinasi (PGR) dan pabrik gula putih (PGP) dan perkembangan sistem produksi gula baru.

1. Pabrik raw sugar (Gula Kristal Mentah) berbahan baku tebu rasanya sudah tidak layak lagi dikembangkan di Jawa. Selain karena persaingan dengan komoditi dan peruntukan lain sehingga lahan menjadi mahal, juga karena masalah lingkungan. Kita lihat apa yang terjadi akhir-akhir ini bencana banjir dan tanah longsor melanda Jawa tiada henti. Sudah waktunya Jawa dihutankan kembali untuk mencegah bencana banjir secara mendasar. Oleh karena itu pertanaman tebu yang akan datang seharusnya dikembangkan di luar Jawa dengan demikian juga Pabrik Gula Mentah.

2. Model industri Gula Mentah (raw sugar) dikembangkan berupa kompleks industri terpadu yang memanfaatkan co-product, seperti tetes dan ampas tebu untuk memproduksi etanol dan derivatnya serta energi. Untuk itu kompleks industri harus berkapasitas besar minimal 10.000 TCD. Namun produksi Gula Kristal Mentah disesuaikan dengan kebutuhan Pabrik Gula Rafinasi, kelebihannya digunakan untuk produksi etanol dll.

3. Existing Pabrik Gula Rafinasi di Jawa dan juga yang akan dibangun di pusat industri makanan/minuman di luar Jawa bahan bakunya (GM) dipasok dari PGM dalam negeri. Hasil gula rafinasi dapat dijual untuk konsumsi langsung.

4. Perlu diantisipasi sistem produksi baru, yaitu produksi gula putih (sekualitas gula rafinasi) langsung dari tebu, jadi tanpa melalui GM. Kalau demikian maka kelak pabrik rafinasi tidak diperlukan lagi. Diperkirakan sistem ini akan berkembang dalam 5-10 tahun yang akan datang.

5. Dalam rangka program nasional swasembada gula terutama untuk konsumsi langsung, maka Pabrik Gula Putih yang ada dipertahankan sambil melakukan peningkatan kualitas sanitasi dan higinis. Sampai kemudian secara “alamiah” menyesuaikan dengan permintaan pasar.

8 Responses to “APAKAH PERLU SISTEM PRODUKSI GULA PUTIH DI INDONESIA DIRUBAH?”

  • Salam kenal untuk Mas Risvan dan P3GInya.
    Selamat atas tulisan-tulisan yang ada di blog ini.
    Tentang pertanyaan “Apakah perlu sistem produksi gula putih di Indonesia dirubah?”, maka saya berpendapat PERLU DIRUBAH!!

    Mungkin bahkan perlu dipikir ulang, apakah tebu masih layak untuk dipertahankan sebagai basis industri gula?
    Maka pada salah satu tulisan saya di http://kebunAren.blogspot.com, saya menawarkan alternatif baru yang mungkin sangat revolusioner, sangat mendasar. Yaitu, agar basis komoditi dari industri gula ini dirubah dari tanaman tebu ke tanaman Aren. Maka kemudian muncul tulisan saya : “Pabrik Gula berbasis Aren, kenapa tidak?”.

    Karena Aren potensi produktivitas gula putihnya dapat mencapai 42,2 ton/hektar/tahun, jauh sekali kalau dibandingkan tebu yang produktivitas gula putihya hanya mencapai sekitar 6-8 ton/ha/musim. Lagi pula dengan berbasis Aren pabrik gula dapat beroperasi tiap hari atau 365 hari setahun. Sedangkan kalau berbasis tebu hanya sekitar 5-6 bulan atau 150-180 hari pertahun.

    Belum lagi peralatan mesin dan prosesnya yang bisa lebih sederhana, karena nira sudah siap dari kebun dan pabrik tinggal mengolah niranya saja menadi gula. Tentu investasi akan lebih kecil, tenaga kerja lebih efesien, keuntungan akan lebih baik lagi.

    Bagaimana Mas Risvan??

    Salam dari Dian Kusumanto di Nunukan Kalimantan Timur.

  • oni:

    mas aku mau tanya,,, kalo permasalahan2 pada hasil gula di stasiun penyimpanan apa aj y???
    misalnya ap aj?? sblumnya salam knal aj

  • risvan:

    Kalau untuk penyimpanan yang terutama adalh kadar air. menurut hugot ada faktor penyimpanan (F) dimana F < 3 adalah yang bagus. faktor penyimpanan tergantung dari kadar airnya. Rata-rata kadar air gula adalah 0.05 %.

    Selain itu besar jenis butiran juga mempengaruhi.

  • wardi samad:

    Salam kenal Mas Risvan
    Salut atas bagi2 ilmu gulanya.
    Sharing nih…
    Jika dilihat dari realitas maraknya pembangunan pabrik rafinasi,pilihan konsumen masih dominan melihat warna gula, serta pengawasan perdagangan gula yang masih lemah untuk penegakan atas pelanggaran hukum, maka alternatif untuk untuk PG yang berbasis bahan baku tebu : KOMPETISI, SINERGI, atau BANTING STIR PRODUK. Sy pernah mencoba ngitung penurunan biaya proses untuk produk GKP (Gula Kristal Putih) dibandingkan RS (Raw Sugar) di PG berbasis tebu selisih +/- Rp 150 (biaya belerang, dll), jd kalau harga gula +/- Rp 5.000/kg dengan asumsi peningkatan rendemen +/- 0,5 %~peluang +/- Rp 150/kg (peluang inversi << dgn produk RS krn belerang sdh tidak digunakan)maka agar setara dgn GKP, RS harus laku minimal Rp 4.700/kg.Jika tidak maka tetap lebih baik produksi GKP. Kalau RS bisa dibeli pabrik rafinasi minimal harga tersebut (SINERGI), PG bisa produk RS bahkan masih bisa dikaji jika PG basis tebu masih dekat dgn PG Rafinasi mungkin lebih menguntungkan menjual syrup/nira kentalnya agar PG rafinasi bisa efisiensi energi untuk melting. Jika pengawasan dagang gula eks PG basis tebu dan PG Rafinasi bisa ketat/taat/tertib/tidak bersaing maka PG basis tebu sebaiknya TETAP produk GKP namun sebaiknya perlu UBAH proses pemurnian dengan basic karbonatasi memanfaatkan gas CO2 boiler (jg bermanfaat menekan pencemaran lingkungan) trus meminimalkan korosi alat dengan tidak dipakainya belerang/proses sulfitasi. Jika produk gula eks PG basis tebu mau KOMPETISI dengan produk PG Rafinasi,dari sisi warna /ICUMSA memang cukup sulit(problem utama di bahan baku yang beda…di PG eks tebu…pasir, tanah/kotoran yang biasa terikut di tebu jg di proses ..untungnya tidak keluar produk batako…)namun masih ada peluang KOMPETISI dari sisi rasa dan kandungan bahan kimia. BANTING STIR PRODUK yang bisa juga dilakukan adalah memproduksi gula merah/gula mangkok (peralatan putaran jd mubazir) atau sejenis palm suicker….tapi apa ada yang beli nggak? Kalo ide BANTING STIR BAHAN BAKU yang diusulkan Teman DIAN KUSUMANTO di nunukan Balikpapan…perlu tuh dibahas lebih lanjut..sisi pandang sy sederhana sj…kayaknya peralatan PG yang operasinya hanya +/- 5 bulan…selain terkesan mubazir..jg peluang korosif alat lebih besar karena terlalu lama diam cuman nantinya peralatan di stasiun gilingan akan jadi museum kalau bahan bakunya sudah cairan!!!.
    Yang lebih penting (kata Pak SUDJAI KARTASASMITA) mari kita pelihara anugrah Tuhan tanah Indonesia yang subur salah satunya dengan menanam tanaman u. Bahan Baku Gula (tebu, aren, dll)… agar kita bisa mandiri alias tidak jd tukang impor. Cukup dulu sharingnya…maaf kalo ada yg kliru…SUKSES SELALU

    PG Takalar, 28 Desember 2008

    M. Wardi Samad

  • Sepertinya ahli gula Indonesia sudah mabuk kepayang dengan TEBU, ditinggal sayang, dilanjutkan nggak berkembang. Para ahli memang agak susah merevolusi pikirannya, coba direfresh. Apalagi kalau dia sudah terlanjur dikatakan ahli di bidang itu. Ada semacam “paranoid” atau ketakutan untuk tidak menjadi “orang bloon” di bidang yang baru, dimana memang tidak ada referensi yang berbau asing. Sejarah nanti akan menilai, bahwa para ahli yang tidak berani bertindak sesuai hati nurani akan menjadi penyesalan anak cucu.
    Seperti juga mereka mengekakalkan kondisi keterpurukan bangsa ini. Pesanku agak pekalah sedikit dengan keadaan yang sudah menuntut perubahan, jangan terlau ‘pekak’ itu kesombongan intelektual.
    Maaf kalau Anda merasakan kata-kata sambal trasi ini. Panas tapi kalau dirasakan akan lezat nanti.
    Nggak percaya buktikan saja.
    Thanks and very sorry.

  • saya suka yang panas panas dan pedas apalagi yang ujung ujungnya lezat, ayo kita sama sama bepkir dan berbuat

  • pilu hatiku:

    pada bulan puasa ini, gunakanlah untuk menuangkan pemikiran yang baik ,demi terangkatnya derajat para , petani yang hidupnya sangat terseok-seok ,salam indonesia maju terus dengan ide-ide yang cemerlang…..

  • risvan:

    Menarik dengan usulan dari pak Dian yang konsisten mensubstitusi tanaman tebu dengan aren. Memang pohon aren dapat dimanfaatkan menjadi gula, akan tetapi dilihat dulu menjadi gula apa nantinya ??? gula merah, gula cair atau gula kristal putih ? Sebagaimana kita tahu bahwasannya produk gula sekarang yang dominan adalah GKP dimana bahan bakunya bisa dari tebu atau beet. Apakah tanaman Aren bisa diproses menjadi GKP ? tentu bisa. Tetapi sebelumnya perlu diperhatikan juga karakteristik dari nira aren dan tebu. Kalau Nira Aren yang dijadikan bahan baku GKP mungkin bisa menghemat dalam segi hilangnya gilingan karena dari pohon aren nira bisa langsung disadap.
    Permasalahannya untuk kebutuhan uap PG, bahan bakar boiler diperoleh darimana ??? Selama ini tanaman tebu efisien karena ampasnya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Kalau menggunakan aren tentunya untuk bahan bakar boiler memerlukan sumber lain dan itu menambah biaya produksi.. Dan yang perlu diperhatikan lagi adalah laju inversi dari nira aren lebih cepat daripada nira tebu sehingga kemungkinan kehilangan gula dalam proses cukup besar.

    Memang aren perlu kita manfaatkan kegunaan dan nilai ekonomisnya, salah satu misalnya memprosesnya menjadi gula cair atau gula merah dengan kualitas yang bagus..

    Mungkin suatu suatu saat pola konsumsi gula masykr Indonesia berubah sehingga tidak didominan gula kristal…

Leave a Reply